BERTUAHPOS.COM – Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Senin (31/8/2026). Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.05 WIB, rupiah di pasar spot exchange dibuka turun 55 poin atau 0,31 persen ke level Rp17.748 per dolar AS.
Pada penutupan perdagangan Jumat (28/8/2026), rupiah sempat menguat 51 poin atau 0,29 persen ke posisi Rp17.693 per dolar AS. Pembalikan arah ini terjadi seiring meningkatnya tekanan eksternal terhadap mata uang Garuda.
Dikutip dari Reuters, dolar AS bertahan stabil di dekat level tertinggi dua minggu pada hari Senin. Spekulasi pasar mengenai kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) menjadi pendorong utama penguatan dolar.
Spekulasi tersebut muncul setelah pernyataan bernada hawkish dari Ketua The Fed, Kevin Warsh. Pernyataan itu ditafsirkan pasar sebagai sinyal bahwa bank sentral AS masih membuka ruang untuk kebijakan moneter yang lebih ketat.
Indeks dolar AS turun sedikit ke level 99,6 pada perdagangan Senin. Sebelumnya, indeks melonjak 0,6 persen pada Jumat ke posisi terkuat sejak 17 Agustus 2026.
Meski demikian, dolar AS masih mencatatkan penurunan bulanan kedua berturut-turut. Rencana pembelian kembali obligasi pemerintah AS (Treasury) pada awal bulan ini memicu perdagangan yang bertaruh pada pelemahan mata uang.
Permintaan dolar AS juga didukung oleh kenaikan harga minyak pada hari Senin. Harga minyak Brent naik hampir 2 persen setelah pasukan AS menyerang Pulau Larak milik Iran pada hari Minggu, menurut keterangan seorang pejabat AS.
Kenaikan harga minyak biasanya mendorong permintaan dolar dari negara-negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia. Hal ini menjadi salah satu faktor yang membebani rupiah di awal pekan.
Sementara itu, mata uang utama lainnya bergerak bervariasi. Euro naik tipis 0,1 persen menjadi US$1,1591 per dolar AS, sementara poundsterling Inggris relatif tidak berubah di angka US$1,3539 per dolar AS.
Kedua mata uang tersebut tetap berada di jalur untuk mencatatkan kenaikan bulanan kedua secara berturut-turut. Tren ini menunjukkan masih adanya tekanan terhadap dolar AS dalam jangka menengah.
Yen Jepang sedikit melemah ke level 160,01 per dolar AS. Sebelumnya, yen sempat tergelincir melampaui level 160 per dolar pada Jumat.
Dolar Selandia Baru relatif tidak berubah di angka US$0,5916 per dolar AS. Adapun dolar Australia naik tipis 0,1 persen menjadi US$0,7163 per dolar AS.
Pergerakan rupiah yang kembali melemah di awal pekan menunjukkan pasar masih sensitif terhadap sentimen global. Investor cenderung berhati-hati menjelang keputusan kebijakan moneter The Fed.
Dengan kondisi ini, pelaku pasar di dalam negeri diperkirakan akan mencermati pergerakan dolar AS lebih lanjut. Intervensi Bank Indonesia juga berpotensi dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.









