BERTUAHPOS — Harga CPO atau minyak mentah kelapa sawit di Bursa Malaysia Derivatives ditutup menguat pada Rabu, 7 Januari 2026. Hal ini terjadi setelah adanya rumor bawah pasar Indonesia kemungkinan akan menaikkan bea ekspor minyak sawit untuk mendanai subsidi biodiesel B50 menjelang implementasi pada 1 Juli 2026.
Pengamat pasar sawit Malaysia, David Ng, yakni bahwa sentimen pasar juga terdorong oleh kenaikan harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) dengan dukungan harga berada di atas RM3.950 per ton dengan resistensi di RM4.250 per ton.
Menurutnya, isu kenaikan bea ekspor CPO Indonesia menjadi 15% pada Februari dan Maret 2026 berpotensi membuat CPO Malaysia lebih kompetitif. “Bea masuk tinggi akan membuat harga CPO Malaysia lebih murah sehingga permintaan dari China dan India berpotensi meningkat signifikan,” ujarnya seperti dikutip Bertuahpos dan Kantor Berita Malaysia, Bernama, Kamis, 8 Januari 2026.
Sementara itu, menurut Kepala riset komoditas Sunvin Group di Mumbai, Anilkumar Bagani, pelaku pasar sedang mengawasi laporan resmi pemerintah Indonesia. Pasar saat ini tengah menganalisa peluang pemerintah yang mungkin akan menaikkan bea ekspor sekitar 5–15% untuk mendukung pendanaan biodiesel di dalam negeri.
“Kenaikan pajak ekspor Indonesia, jika itu benar terjadi, akan memberi dampak positif bagi CPO Malaysia karena daya saing Malaysia meningkat,” tambahnya.
Sementara itu, Bagani menyebut data produksi minyak sawit Desember 2025 dari Asosiasi Minyak Sawit Malaysia (MPOA) dan UOB Kay Hian menunjukkan penurunan produksi lebih dalam dari konsensus pasar.
MPOA memperkirakan produksi turun 4,64%, sedangkan UOB Kay Hian memperkirakan penurunan 2,0% hingga 6,0%. Konsensus sebelumnya hanya memperkirakan penurunan 0,5 persen hingga 9,5%.
Dengan kondisi tersebut, Bagani menilai estimasi stok minyak sawit Malaysia per akhir Desember sebesar 2,95–3,01 juta ton harus direvisi kembali.
Untuk periode 1–5 Januari 2026, Asosiasi Penggilingan Minyak Sawit Semenanjung Selatan (SPPOMA) memperkirakan produksi turun hampir 35% dibanding akhir Desember 2025, yang diyakini merupakan puncak produksi.
Pada penutupan perdagangan, kontrak Januari 2026 naik RM32 menjadi RM3.960 per ton, Februari naik RM40 menjadi RM4.013 per ton, dan Maret 2026 naik RM43 menjadi RM4.033 per ton. Kontrak April naik tipis RM4 menjadi RM4.042 per ton, Mei 2026 naik RM41 menjadi RM4.042 per ton, dan Juni 2026 naik RM40 menjadi RM4.031 per ton.
Volume perdagangan juga meningkat menjadi 84.068 lot dibanding 63.848 lot sehari sebelumnya. Posisi terbuka naik menjadi 251.439 kontrak dari sebelumnya 257.198 kontrak. Untuk pengiriman fisik Januari Selatan, harga CPO naik RM20 menjadi RM4.000 per ton.
Harga CPO








