BERTUAHPOS — Perekonomian wilayah Sumatra mencatat pertumbuhan positif pada triwulan III-2025. Secara agregat, ekonomi kawasan ini tumbuh 4,90%, menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS).
Dengan demikian, seluruh provinsi di Sumatra masih berada pada fase pemulihan dan ekspansi ekonomi, berdasarkan data yang menghimpun kinerja 10 provinsi di Sumatra.
Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) menjadi daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi, mencapai 7,48%.
Penguatan sektor industri pengolahan dan perdagangan mendorong percepatan ekonomi di wilayah tersebut. Di sisi lain, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mencatat pertumbuhan terendah, hanya 3,21%.
Sedangkan Riau yang menjadi pusat industri dan energi di Sumatra, mencatat pertumbuhan ekonomi 4,98%, sedikit di bawah rata-rata kawasan.
Kinerja ini tetap menunjukkan perbaikan permintaan domestik, meski tekanan harga komoditas global masih mempengaruhi sektor utama seperti migas dan perkebunan.
Sementara itu, Provinsi Sumatera Selatan dan Lampung mengikuti dengan pertumbuhan masing-masing 5,20% dan 5,04%. Keduanya ditopang oleh sektor perdagangan, industri pengolahan, serta peningkatan konsumsi masyarakat. Sementara itu, Jambi tumbuh 4,77%, Bengkulu 4,56%, dan Sumatera Utara 4,55%.
Dari sisi kontribusi PDRB terhadap ekonomi Sumatra, Sumatera Utara dan Riau menjadi dua kekuatan terbesar. Sumut berkontribusi 23,58%, sementara Riau menyumbang 22,95%. Kedua provinsi ini menopang hampir setengah total perekonomian Sumatra, terutama melalui industri pengolahan, migas, perkebunan, dan perdagangan.
Sebaliknya, Provinsi Bengkulu mencatat kontribusi terendah terhadap ekonomi Sumatra, hanya 2,07%. Struktur ekonomi yang kecil, ditambah ketergantungan pada sektor pemerintahan dan perdagangan lokal, membuat pertumbuhannya lebih terbatas dibanding provinsi besar lainnya.
“Capaian pertumbuhan ekonomi Sumatra dianggap masih konsisten. Hal ini menunjukkan bahwa daya tahan ekonomi regional menghadapi perlambatan global,” kata Kepala BPS Riau, Asep Riyadi, di Pekanbaru.
Namun, ketergantungan pada komoditas utama seperti kelapa sawit dan migas tetap menjadi tantangan, terutama bagi provinsi yang struktur ekonominya belum terdiversifikasi.
Dia menyebut, penguatan sektor industri pengolahan, manufaktur, dan konektivitas wilayah dinilai akan menjadi kunci untuk mempercepat pertumbuhan ke depan.
Secara keseluruhan, kinerja ekonomi Sumatra pada triwulan III-2025 menggambarkan pola pemulihan yang relatif merata. Provinsi besar seperti Riau dan Sumut tetap menjadi penggerak utama, sementara Kepri menunjukkan lonjakan tertinggi.***









