BERTUAHPOS.COM — Harga CPO atau minyak sawit mentah berjangka di Bursa Malaysia Derivatives diperkirakan bergerak dalam kisaran RM4.200 hingga RM4.300 per ton pada pekan ini. Proyeksi itu muncul meski posisi stok minyak sawit Malaysia tercatat masih kuat pada bulan April, berdasarkan data Dewan Minyak Sawit Malaysia (MPOB).
Jim Teh, pedagang senior minyak sawit di Interband Group of Companies, menilai harga pada level tersebut berpotensi menarik minat pembeli dari berbagai negara. Ia menyebut India, China, Pakistan, Timur Tengah, Uni Eropa, dan Amerika Serikat sebagai pasar yang kemungkinan akan aktif menyerap pasokan.
Pandangan serupa disampaikan David Ng dari Iceberg X Sdn Bhd, trader independen yang berbasis di Kuala Lumpur. Ia memperkirakan kontrak berjangka CPO cenderung naik pekan depan seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap prospek produksi yang lebih lemah.
“Kami memperkirakan harga akan berada di antara RM4.400 dan RM4.550 per ton minggu depan,” ujar David Ng, di kutip dari Bernama, Senin, 15 Juni 2026. Dia menyebut angka itu lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya, mencerminkan sentimen pasar yang mulai berhati-hati terhadap pasokan.
Dari sisi pergerakan kontrak, harga CPO berjangka mengalami penurunan jika dibandingkan dari Jumat ke Jumat. Kontrak Juni 2026 turun RM105 menjadi RM4.387 per ton, kontrak Juli 2026 melemah RM91 menjadi RM4.435 per ton, dan kontrak September 2026 terkoreksi RM79 menjadi RM4.475 per ton.
Penurunan juga terjadi pada kontrak-kontrak jangka lebih panjang. Kontrak Agustus 2026 turun RM73 menjadi RM4.511 per ton, kontrak Oktober 2026 melemah RM72 menjadi RM4.544 per ton, dan kontrak November 2026 merosot RM76 menjadi RM4.571 per ton.
Di sisi volume, perdagangan mingguan justru melonjak signifikan menjadi 418.814 lot dari 298.261 lot pada pekan sebelumnya. Namun, open interest tercatat menurun menjadi 283.513 kontrak dari posisi 293.957 kontrak sebelumnya.
Sementara itu, harga fisik CPO untuk wilayah Selatan pada bulan Juni turun RM50 menjadi RM4.470 per ton. Penurunan harga fisik ini sejalan dengan koreksi yang terjadi pada kontrak berjangka sepanjang pekan berjalan.









