BERTUAHPOS.COM — Pemerintah memasukkan Batam, Kepulauan Riau (Kepri), sebagai salah satu kandidat lokasi pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
Sejauh ini, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa rencana tersebut masih dalam tahap studi kelayakan.
Bahlil menegaskan pemerintah akan melanjutkan rencana pembangunan PLTN Batam apabila hasil feasibility study (FS) memenuhi persyaratan. Pemerintah juga belum menetapkan lokasi final karena masih mengevaluasi sejumlah wilayah potensial.
“Salah satu di antaranya yang akan kita tempatkan, masih dalam studi, kita akan taruh di Kepri, di Batam, untuk bagaimana mendorong ketahanan energi kita,” kata Bahlil dikutip, Selasa, 27 Oktober 2026.
Selain Batam, pemerintah mengkaji beberapa wilayah di Kalimantan dan Sumatra sebagai alternatif lokasi pembangunan PLTN. Hasil kajian akan menjadi dasar bagi pemerintah untuk menentukan lokasi yang dinilai layak bagi pengembangan pembangkit listrik berbasis nuklir.
Pemerintah juga mempertimbangkan mitra pengembangan teknologi nuklir yang memiliki kemampuan dan rekam jejak teruji. Langkah ini menjadi bagian dari persiapan untuk memastikan pengembangan PLTN didukung teknologi serta pengalaman yang memadai.
Di tengah kajian lokasi tersebut, kerja sama Indonesia dengan perusahaan nuklir Rusia, Rosatom, turut menjadi bagian dari perkembangan proyek energi nuklir nasional.
Rosatom bersama perusahaan nasional Indonesia, PT Pembangkit Listrik Nuklir, sebelumnya mencapai kesepakatan untuk memasok listrik dari pembangkit listrik tenaga nuklir terapung.
Dalam kesepakatan tersebut, Rosatom berencana mengerahkan dua unit floating power unit (FPU) tipe FPU-100 dengan kapasitas gabungan 200 megawatt (MW). Kedua unit itu direncanakan memasok listrik ke wilayah utara Pulau Halmahera, Maluku Utara.
Pembangkit terapung tersebut menggunakan sistem reaktor RITM yang dirancang untuk menyediakan pasokan listrik andal dengan emisi karbon rendah. Rosatom menyatakan teknologi itu telah digunakan selama bertahun-tahun pada kapal pemecah es bertenaga nuklir dan memiliki rekam jejak dalam aspek efisiensi, keandalan, serta keselamatan operasional.
Rosatom memperkirakan kedua unit pembangkit dapat mulai memasok listrik kepada konsumen Indonesia paling cepat lima tahun setelah ketentuan utama kontrak pasokan listrik mulai berlaku. Namun, perusahaan belum menyebutkan bahwa proyek tersebut berkaitan langsung dengan rencana pembangunan PLTN di Batam.
Direktur Jenderal Rosatom State Corporation, Alexey Likhachev, mengatakan kerja sama dengan Indonesia terus berkembang. Ia juga menyebut pertemuan terbaru dengan Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmen Indonesia untuk memperkuat ketahanan energi dan mencapai netralitas karbon.
“Kesepakatan baru ini menjadi tonggak penting dalam upaya tersebut. Rosatom siap menawarkan solusi teknologi paling maju dan teruji yang tersedia di pasar global,” ujar Likhachev dalam keterangan resmi perusahaan.
Dia menegaskan bahwa bahwa kerja sama tersebut tidak hanya mencakup pasokan listrik, tetapi juga menjadi dasar bagi kemitraan jangka panjang.*








