BERTUAHPOS.COM — Prediksi harga CPO atau kontrak berjangka minyak sawit mentah di Bursa Malaysia Derivatives diperkirakan bergerak dengan bias bearish pada minggu depan, seiring melemahnya pasar minyak mentah global, kata David Ng, pedagang saham independen dari Iceberg X Sdn Bhd.
Ia menyebur, sentimen pasar juga turut terbebani oleh ketidakpastian kebijakan ekspor minyak sawit di Indonesia. “Kami memperkirakan harga akan diperdagangkan antara RM4.350 dan RM4.550 per ton minggu depan,” ujar David Ng dikutip dari Bernama, Sabtu, 23 Mei 2026.
Jim Teh, pedagang senior minyak sawit di Interband Group of Companies, menyebut minggu depan akan menjadi pekan perdagangan yang singkat karena adanya hari libur nasional. Ia memperkirakan aksi ambil untung pada minggu depan akan mendorong kisaran perdagangan berada di antara RM4.200 hingga RM4.300 per ton.
“Kisaran RM4.200 hingga RM4.300 per ton merupakan harga yang bagus,” katanya.
Mengutip data Dewan Minyak Sawit Malaysia, Jim menyebutkan Malaysia saat ini memiliki posisi stok yang cukup tinggi, yakni sebesar 2,30 juta ton pada bulan April. Kondisi stok yang melimpah ini turut memengaruhi arah prediksi harga CPO dalam jangka pendek.
“Seperti biasa, pembeli fisik diperkirakan berasal dari China, India, Pakistan, Timur Tengah, Uni Eropa, dan Amerika Serikat karena pasokan yang melimpah,” tambah Jim.
Secara perbandingan dari Jumat ke Jumat, kontrak Juni 2026 naik RM40 menjadi RM4.430 per ton, kontrak Juli 2026 bertambah RM43 menjadi RM4.463 per ton, dan kontrak Agustus 2026 naik RM49 menjadi RM4.486 per ton. Kontrak September 2026 meningkat RM53 menjadi RM4.502 per ton, Oktober 2026 naik RM60 menjadi RM4.525 per ton, dan November 2026 tercatat sebesar RM4.552 per ton.
Volume perdagangan mingguan melonjak signifikan menjadi 614.453 lot dari 493.990 lot pada minggu sebelumnya. Sementara itu, open interest sedikit menurun menjadi 280.499 kontrak dari 285.554 kontrak sebelumnya.
Harga fisik CPO untuk wilayah Selatan pada bulan Mei turut mengalami kenaikan sebesar RM60 menjadi RM4.500 per ton. Kenaikan ini mencerminkan masih adanya permintaan fisik yang aktif di tengah tekanan sentimen pasar secara keseluruhan.









