Pertamina vs PLN, Kemenkeu Ikut Turun Tangan

Rabu, 13 Agustus 2014 11:04

BERTUAHPOS.COM, JAKARTA – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) hari ini memanggil Direksi PT Pertamina (Persero) dan PT PLN (Persero) untuk mengadakan rapat internal mengenai pembahasan solar. Pasalnya, permasalahan solar tersebut memicu perseteruan kedua perusahaan milik negara ini.

Wakil Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro membenarkan pada hari ini ada rapat pembahasan Pertamina dengan PLN mengenai solar. “Iya ada rapat, Pertamina dan PLN. Saya yang memimpin rapat,” ucap Bambang di sela-sela rapat di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu (13/8/2014).

Di tempat yang sama, Direktur Jenderal Anggaran Kemenkeu, Askaloni, menambahkan hari ini memang ada rapat antara Pertamina dan PLN guna membahas solar. “Rapat jam 9 pagi ini, Pertamina dan PLN bahas solar, dipimpin Pak Wamenkeu” paparnya.

Tampak hadir Direksi Pertamina yang datang yakni Direktur Pemasaran dan Niaga Hanung Budya. Menurut petugas, sudah hadir juga Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Susilo Siswoutomo, Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan, dan Direksi PLN.

Baca: Aneh, Meski Okupansi Redup, Investor Tetap Lirik Perhotelan

Seperti diketahui, permasalahan kedua badan usaha milik negara (BUMN) tersebut adalah belum adanya kesepakatan harga beli solar dari Pertamina walaupun Menteri BUMN Dahlan Iskan percaya masalah ini akan selesai.

Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) sebenarnya telah mengeluarkan rekomendasi bahwa harga pembelian solar Pertamina oleh PLN adalah 112–117 persen dari harga mean of plats Singapore (MoPS). Sedangkan PLN tetap meminta 105 persen dari harga MoPS dengan alasan (perhitungan) subsidi pemerintah.

Sebelumnya, pada 4 Agustus 2014, Pertamina mengurangi pasokan solar ke PLN wilayah Samarinda, Pontianak dan Bangka Belitung. Pengurangan pasokan solar tersebut dilakukan sebesar 50 persen. Tercatat, pasokan solar ke pembangkit listrik PLN selama ini mayoritas berasal dari Pertamina. Kebutuhan BBM PLN pada tahun ini mencapai 7,1 juta kiloliter.(Okezone)