Pengusaha Rumah Makan Siap-siap Naikkan Harga

Sabtu, 04 Januari 2014 12:57

BERTUAHPOS.COM, Jakarta : Bagi yang suka membeli makanan di rumah makan siap-siap mengeluarkan kocek lebih dalam. Sebab pengusaha rumah makan berencana menaikkan harga jual makanannya seiring kenaikan harga elpiji 12 kilogram (kg) yang dilakukan PT Pertamina (persero).
Pengusaha makanan mengaku berat dengan adanya kenaikan harga elpiji 12 kg yang mereka pakai sehari-hari ini. Seperti diungkapkan Acung (42), pemilik rumah makan Indo Rasa di kawasan Mampang, Jakarta Selatan.

Dia menuturkan, dengan kenaikan elpiji ini, dia berencana untuk menaikan harga makanan yang dijualnya. “Ya kalau harga gas naik, berarti biaya buat masak juga naik. Mau tidak mau harus saya naikan harga jual makanannya,” ujarnya saat berbincang dengan Liputan6.com di Jakarta, Jumat (3/1/2014).

Namun demikian, dia mengaku masih bingung apakah akan tetap akan menaikan harga makanan atau beralih memakai ke elpiji 3 kg.

“Tapi kalau naikan harga, agak sulit buat pembeli, kalau tidak dinaikan kita yang rugi. Makanya ini saya masih mau hitung, kalau rugi, saya naikan harga atau ganti yang 3 kg. Tapi sekarang harga masih sama,” jelasnya.

Baca: Kecewa, Air Asia Tarik Penjualan dari Traveloka

Hal senada juga diungkapkan oleh Elli (39) pemilik rumah makan padang dikawasan Mampang. Meski Elli mengaku hingga kini belum menaikan harga makanan yang dijualnya.

Dia hanya berharap ada solusi dari pemerintah bagi pengusaha rumah makan seperti dirinya. “Maunya tetap pakai yang 12 kg, tapi harganya tinggi sekali. Maunya dikasih pengecualian harga buat pengusaha seperti kami,” tandas dia.

Pertamina memutuskan menaikkan harga elpiji non subsidi 12 kg menyusul tingginya harga pokok elpiji di pasar dan turunnya nilai tukar rupiah yang menyebabkan kerugian perusahaan semakin besar.

Dengan konsumsi elpiji non subsidi kemasan 12 kg tahun 2013 yang mencapai 977.000 ton, di sisi lain harga pokok perolehan elpiji rata-rata meningkat menjadi US$ 873.

Nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar membuat kerugian Pertamina sepanjang tahun ini diperkirakan mencapai lebih dari Rp 5,7 triliun. Kerugian tersebut timbul sebagai akibat dari harga jual elpiji non subsidi 12kg yang masih jauh di bawah harga pokok perolehan. (Dny/Nrm/liputan6.com)