BERTUAHPOS — Persaingan produsen smartphone di Indonesia makin sengit pada semester I/2025. Di tengah lesunya permintaan pasar, Samsung dan Xiaomi justru berhasil memperkuat dominasi mereka, sementara Oppo dan Vivo mengalami penurunan penjualan cukup signifikan.
Hal ini tergambarkan dari laporan Counterpoint Research yang dikutip dari DataIndonesia. Total pengiriman ponsel pintar di Indonesia pada kuartal II/2025 turun 7% secara tahunan (YoY). Penurunan ini disebabkan oleh lemahnya daya beli konsumen serta kondisi ekonomi yang belum stabil.
Dari sisi merek, Xiaomi memimpin dengan pangsa pasar 21%, naik dari 18% pada periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan pengiriman Xiaomi mencapai 10% YoY, didorong oleh ekspansi gerai offline, ragam produk yang makin luas, dan peluncuran seri terbaru seperti Xiaomi 15 Series serta Pocophone F7.
Samsung menyusul di posisi kedua dengan pangsa pasar 20%, meningkat dari 16% pada kuartal II/2024. Pertumbuhan pengiriman Samsung melonjak 20% YoY, tertinggi di antara lima merek besar. Kenaikan ini didorong oleh suksesnya lini Galaxy A Series 5G, program cicilan, serta strategi trade-in yang agresif.
Sementara itu, Oppo harus turun ke posisi ketiga dengan pangsa pasar 16%, lebih rendah dibanding 18% tahun lalu. Volume pengiriman Oppo merosot 14% YoY, menandakan tekanan yang cukup besar di segmen menengah.
Vivo juga mengalami penurunan tajam. Pangsa pasarnya susut menjadi 13% dari sebelumnya 18%, dengan penurunan pengiriman mencapai 29% YoY, menjadikannya merek dengan kinerja terburuk pada periode ini.
Di sisi lain, Infinix berhasil mempertahankan posisi stabil di angka 10% pangsa pasar. Meski demikian, pengiriman smartphone merek ini turun 5% YoY akibat persaingan di kelas entry-level yang semakin ketat.
Adapun merek-merek lain di luar lima besar tercatat memiliki pangsa pasar 18%, turun dari 20% pada tahun sebelumnya. Secara total, segmen ini mengalami penurunan pengiriman hingga 19% YoY.
Tren ini menunjukkan bahwa pasar smartphone Indonesia masih menghadapi tekanan, namun produsen dengan strategi produk yang adaptif dan promosi agresif seperti Samsung dan Xiaomi mampu bertahan bahkan memperluas pangsa pasar di tengah kondisi sulit.***









