BERTUAHPOS — Sebanyak 6.000 lebih peserta ambil bagian dalam pertunjukan massal Tari Zapin Meskom Bengkalis, di Jalan Gajah Mada, Pekanbaru, Minggu, 11 Januari 2025 dan berhasil memecahkan Rekor Museum Dunia Indonesia (MURI).
Awalnya, acara yang diselenggarakan BKOW Provinsi Riau ini mengajukan sebanyak 4.000 peserta ke MURI. Namun, saat verifikasi di lapangan, MURI mencatat ada 6.085 lebih peserta yang ikut serta dalam Tari Zapin Meskom Bengkalis itu. “Hasil verifikasi kami jumlah pesertanya 6.000 lebih,” Senior General Manager MURI, Triyono.
Bagi MURI, ini adalah pergelaran yang luar biasa, dengan kata lain bukan hanya sebatas menampilkan budaya yang kaya dengan seni dan keindahan, tapi mengandung nilai-nilai sejarah, kearifan lokal, “sekaligus menjadikannya warisan dan pegangan hidup bagi masyarakat Melayu. Jadi, ini perlu dilestarikan agar anak cucu kita ke depan bisa tetap mengenal budayanya,” tambahnya.
Zapin Meskom telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB). posisinya sebagai identitas budaya Melayu Riau yang terus hidup dan berkembang.
Ketua Umum Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW) Riau, Adrias Hariyanto, menegaskan pencapaian rekor dunia ini bukan semata mengejar angka. Menurutnya, kegiatan ini merupakan ikhtiar budaya yang menunjukkan peran perempuan Riau berada di garda terdepan dalam merawat dan mewariskan budaya Melayu.
“Zapin Meskom tidak hanya sekadar gerak tari, tetapi mengandung tunjuk ajar tentang keseimbangan hidup, santun, marwah, serta nilai-nilai luhur Melayu yang harus dijalani, bukan hanya dikenang,” kata Adrias.
Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, SF Hariyanto, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan budaya berskala besar tersebut. Dia menilai tidak semua daerah memiliki keberanian untuk tampil teguh dengan budaya sendiri. Pencapaian ini menjadi bukti bahwa kebudayaan Melayu Riau tetap berdiri kokoh sebagai jati diri daerah di tengah arus globalisasi.
SF Hariyanto juga mengapresiasi BKOW Riau dan seluruh organisasi yang terlibat karena kegiatan pemecahan rekor dunia ini tidak menggunakan anggaran APBD sedikit pun.
“Kegiatan ini diniatkan bukan hanya untuk mencatatkan rekor semata, melainkan menyampaikan pesan kuat bahwa Riau menjaga, merawat, dan memuliakan budaya Melayu dengan sungguh-sungguh dan bermartabat.***









