Ini Penyebab Teror Belalang Kembara Sumba Timur Versi Petani

Selasa, 13 Juni 2017 08:34

BERTUAHPOS.COM (BPC), PEKANBARU- Teror Belalang kembara di Waingapu, Sumba Timur, NTT, bukan kali pertama. Ternyata belalang yang menyerang Waingapu pada akhir pekan lalu sudah ada sejak tahun 90-an.

Hal tersebut diceritakan seorang Warga Waingapu, Rooslinda R Lodji. “Ya, pernah tahun 90-an, sekitar 1998-1999. (Penyebabnya) pembakaran padang, terus banyak juga yang mulai tembak-tembak burung. Burung pemangsa belalang itu kan diburu pemburu-pemburu burung ini, hutan-hutan kan mulai ditebang, ada lagi investor mereka kan mulai membuka lahan baru. Mungkin itu lahan yang sebenarnya daerah mereka makan dan efeknya sekarang larinya ke kota,” kata Rooslinda saat berbincang, Senin (12/6/2017) malam.

Seperti dilansir dari detik, Rooslinda menuturkan jalanan dipenuhi oleh belalang. Faktor cuaca juga memengaruhi meledaknya populasi belalang kembara. “Lebih parah yang 90-an karena jalanannya penuh dengan belalang. Misal mendung dan hujan dia lebih cepat menetas lagi anak belalang, telurnya lebih cepat menetas lagi,” sebutnya.

Pada 2016 kemarin serangan belalang kembara juga terjadi di Sumba Timur. “Sekitar bulan November 2016, sudah mulai. Oktober-November itu mereka bertelur, apalagi dengan curah hujan Sumba Timur jadi sekitar Januari menetas banyak sekali,” terangnya.

Baca: Rasidin Siregar Soal UMK: Sampai Sekarang Belum Ditetapkan

Puncak dari serangan belalang lalu terjadi di Juni 2017 ini. Faktor pembakaran ladang membuat kawanan belalang ini ‘meneror’ kota. Jika sudah demikian, kemungkinan gagal panen bagi petani setempat semakin besar.

“Diperparah awal Mei lalu terjadi pembakaran padang itu kan, terus ladang-ladang yang selesai panen dibakar-bakar, jeraminya dibakar jadi belalang arahnya ke kota sudah. Ini berarti rawan pangan sudah untuk Sumba Timur karena sebelumnya sudah ada hama tikus gitu dan petani banyak gagal panen untuk panen kali ini,” papar Rooslinda.

Belalang kembara terbang ke arah kota hingga mengganggu bandara semata-mata karena mengikuti arah angin. Pemerintah Sumba Timur pun telah mengambil langkah penanganan dengan menyemprotkan 1 ton pestisida kimia di tengah malam dengan alasan tertentu.

Meski demikian, Rooslinda menyoroti langkah pemerintah Sumba Timur soal penyemprotan pestisida. Sebagai Seksi Ekonomi Gerakan Petani Nusantara untuk NTT, Rooslinda memandang langkah yang juga dilakukan pada tahun 1998-1999 tersebut justru akan menambah banyak hama belalang kembara. (dtk)