BERTUAHPOS.COM (BPC), PEKANBARU – Rencana Pemerintah Provinsi Riau untuk mengembangkan sagu sebagai salah satu pangan alternatif di Riau tentunya perlu perjuangan panjang.
Menurut Prof Hasyim Bintaro dari Institut Pertanian Bogor (ITB), bahwa pemerintah harusnya bisa memberikan batasan jelas, mana lahan sagu yang bisa dikelola oleh masyarakat, dan mana area yang digarap oleh perusahaan.
“Karena kalau tidak akan berujung pada konflik sengketa lahan,” katanya.
Hasyim Bintaro menyebutkan bahwa jika pemerintah serius, masalah ini bisa dirundingkan. Apalagi mengingat potensi sagu dibeberapa daerah di Riau khususnya di Kabupaten Kepulauan Meranti cukup besar.
( Baca:Ternyata Sagu Bisa Atasi Kasus Kelaparan di Riau)
Sejauh ini, yang sering kali menjadi kendalan untuk meningkatkan alternatif ketahanan pangan dari sagu, memang sering berujung pada konflik antar masyarakat dan perusahaan.
“Menurut saya bisa saja itu dirundingkan apakah perusahaan yang masuk ke tanah rakyat atau rakyat masuk ke perusahaan itu bisa diselesaikan sebenarnya,” ujarnya.
Minimnya luasan sawah dan sedikit hasil panen beras di Riau, dianggap tidak akan cukup mengatasi persoalan pangan. Sementara rencana pemerintah untuk menggaungkan swasembada, besar kemungkinan besar tidak akan bisa terealisasi dalam waktu sekejap.
Sebab itu pula, menurut dia, jika pemerintah serius menangani pengembangan potensi ini, maka bisa dipastikan sagu bisa menjadi alternatif untuk mengatasi masalah kelaparan dan ketahanan pangan di Riau.
(Baca:Sagu di Riau Bisa Topang Program Swasembada Pangan)
Hasyim diminta untuk memberikan gambaran khusus tentang potensi dan kualitas sagu di Kepulauan Meranti, kepada Pemerintah Provinsi Riau.
Dalam kesempatan itu dia memaparkan banyak bukti tentang potensi pengembangan sagu di Riau sangat memungkinkan untuk bisa dilakukan. Dari 5,5 juta hektar lahan sagu tersebar di Indonesia, sebanyak 100 ribu hektar terdapat di Kabupaten Kepulauan Meranti.
“Makanya kalau ini betul-betul dapat dikelola dengan baik, maka masalah ketahanan pangan dijamin bisa teratasi,” katanya.
Penulis: Melba









