BERTUAHPOS.COM — Pengembangan sektor kelapa di Indragiri Hilir (Inhil), Riau, tidak cukup berhenti pada kenaikan produksi. Hilirisasi kelapa harus menghasilkan nilai tambah yang dirasakan langsung oleh masyarakat, terutama petani.
Hal ini disampaikan oleh Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Provinsi Riau, Helmi D, saat Tha 3rd BEDELAU di Bank Indonesia Provinsi Riau, Rabu, 4 November 2026. “Kalau hilirisasi kelapa itu justru berugikan petani, buat apa?” katanya.
Selama ini, Riau memang punya basis industri pengolahan kelapa dengan berbagai produk turunan; minyak kelapa, santan, dan berbagai produk turunan lain.
Tapi, keberadaan industri itu masih perlu dikembangkan. Supaya potensi ekonominya dapat dinikmati lebih optimal oleh masyarakat.
Helmi mengatakan, Pemprov Riau paham betul bahwa pengembangan perkebunan dan industri kelapa banyak tantangan dan kendalanya. “Sehingga menuntut penyelesaian lewat kolaborasi yang kuat,” tambahnya.
Seperti banyak kebun kelapa yang sudah tua dan rusak. Sehingga berdampak signifikan terhadap produktifitasnya.
Dari sisi hilir, petani dan pelaku usaha dihadapkan pada ketidakpastian harga, keterbatasan akses pasar, serta persoalan pembiayaan.
Helmi menyebut seluruh aspek itu perlu menjadi perhatian agar pemanfaatan komoditas kelapa berjalan berkelanjutan.
“Kita harus memastikan kebun tetap produktif, tata udara berjalan dengan baik, pelindung terlindungi, dan pasar yang bersih,” ujarnya.
Kuncinya dua hal; produktivitas naik dan harga terjamin. Jika kedua persoalan besar ini bisa diatasi, maka kelapa sudah sangat berkontribusi terhadap ekonomi masyarakat dan daerah.*







