BERTUAHPOS.COM — Konsentrasi gas rumah kaca tidak hanya naik pada CO₂, tetapi juga pada metana dan dinitrogen oksida yang sama-sama mencetak rekor baru pada 2025. Metana global mencapai 1.948 parts per billion atau setara 267% dari tingkat praindustri.
WMO memperkirakan metana menyumbang sekitar 16% dari efek pemanasan yang ditimbulkan gas rumah kaca berumur panjang. Sekitar 65% emisi metana berasal dari aktivitas manusia, termasuk peternakan, budidaya padi, eksploitasi bahan bakar fosil, tempat pembuangan sampah, dan pembakaran biomassa.
Sisanya berasal dari sumber alami seperti lahan basah yang juga dipengaruhi kondisi iklim. Dinitrogen oksida mencapai 339,1 ppb pada 2025 atau 126% di atas tingkat praindustri.
Gas tersebut berasal dari sumber alami maupun aktivitas manusia, termasuk penggunaan pupuk, pembakaran biomassa, dan proses industri. Kedua gas itu menambah beban pemanasan di samping CO₂ yang mencapai 426,8 ppm.
WMO juga menyoroti peningkatan sulfur heksafluorida yang digunakan terutama sebagai isolator dalam sistem distribusi listrik. Konsentrasinya terus meningkat selama tiga dekade terakhir seiring meluasnya elektrifikasi, dengan kenaikan pada 2025 mencapai rekor tertinggi.
SF₆ memiliki masa tinggal di atmosfer lebih dari 1.000 tahun dengan potensi pemanasan global dalam periode 100 tahun sekitar 24.300 kali CO₂. Karakteristik itu membuat kebocoran dan akumulasi gas tersebut menjadi tantangan dalam transisi menuju sistem energi rendah karbon.
WMO turut memperingatkan peningkatan konsentrasi hidrogen yang naik 5,3% pada periode 2010–2024. Meski bukan gas rumah kaca, hidrogen dapat memengaruhi kimia atmosfer dan berdampak tidak langsung terhadap pemanasan global.
Penggunaan hidrogen sebagai pembawa energi untuk sektor yang sulit didekarbonisasi, seperti industri baja dan pelayaran, membuat pengendalian kebocoran dari fasilitas produksi, jaringan pipa, dan penyimpanan makin penting. WMO menilai pemantauan gas-gas tersebut diperlukan untuk memahami perubahan komposisi atmosfer.
“Sebelas tahun terakhir merupakan periode terpanas yang pernah tercatat dan tren ini diperkirakan berlanjut,” ujar Wakil Sekretaris Jenderal WMO Ko Barrett.
“CO₂ memiliki masa tinggal yang sangat panjang di atmosfer sehingga memengaruhi iklim global tak hanya selama bertahun-tahun, tetapi juga puluhan hingga ratusan tahun,” tambahnya.
Menurut WMO, upaya dekarbonisasi perlu disertai pengawasan terhadap emisi langsung maupun dampak tidak langsung dari gas yang digunakan dalam sistem energi. Pemantauan itu menjadi syarat agar transisi energi tidak memunculkan dampak yang tidak diinginkan.*







