BERTUAHPOS.COM — Ekspor industri makanan dan minuman (mamin) Indonesia menembus USD24,61 miliar pada Semester I 2026, dengan surplus perdagangan sebesar USD17,57 miliar dan realisasi investasi Rp26,82 triliun.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menargetkan angka ekspor mamin dapat mencapai USD83,08 miliar pada 2029.
Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza menegaskan keunggulan manufaktur nasional terus didorong untuk mencapai target tersebut.
Kemenperin mencatat nilai Manufacturing Value Added (MVA) Indonesia 2025 mencapai USD275,61 miliar, menempatkan Indonesia di posisi ke-12 dunia dan peringkat pertama di Asia Tenggara.
“Untuk mendukung pencapaian target ekspor, Kemenperin memperketat penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) Wajib bagi sejumlah komoditas strategis,” katanya.
Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika menjelaskan bahwa penerapan SNI Wajib ini menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan dan akses pasar ekspor Indonesia.
“Standar bukan hanya untuk melindungi konsumen, tetapi juga meningkatkan kepercayaan terhadap produk Indonesia dan membantu industri memenuhi persyaratan pasar global,” kata Putu Juli Ardika pada pameran Food Ingredients Asia (Fi Asia) Indonesia 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta.
Bagi dunia usaha domestik, pengetatan SNI Wajib ini menjadi kepastian pendorong daya saing ekspor komoditas kelapa sawit, kopi, dan kakao di tengah ketatnya pasar Eropa.
Kepatuhan standar ini turut memberikan sentimen positif bagi kepastian operasional emiten-emiten sektor perkebunan, pengolahan komoditas, serta konsumsi di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Dengan capaian kinerja ekspor yang positif serta posisi MVA yang kuat di kawasan, Kemenperin optimistis target ekspor mamin pada 2029 dapat tercapai. Kombinasi penguatan standar mutu dan daya saing manufaktur nasional menjadi dua pilar utama strategi tersebut.




