BERTUAHPOS.COM — Mantan Chairman Nissan Carlos Ghosn melontarkan kritik tajam terhadap jajaran pimpinan produsen mobil Jepang itu. Ia menuding Nissan telah menyia-nyiakan nilai perusahaan dan kehilangan arah sejak dirinya digulingkan pada 2018 silam.
Dalam wawancara dengan Reuters, Ghosn menyebut kemarahan pemegang saham yang muncul dalam RUPS tahunan sebagai reaksi yang wajar. “Itu adalah reaksi yang sangat masuk akal. Anda bisa merasakan kemarahan dan frustrasi para pemegang saham,” katanya, dikutip Minggu, 28 Juni 2026.
Pada rapat umum pemegang saham Selasa lalu, CEO Ivan Espinosa menghadapi usulan dari investor untuk mengembalikan Ghosn yang kini berstatus buronan. Usulan itu gagal karena mayoritas pemegang saham tetap mendukung dewan direksi.
Ghosn saat ini menetap di Lebanon setelah melarikan diri dari Jepang pada akhir 2019. Ia meninggalkan negeri itu saat menunggu persidangan atas tuduhan pelanggaran keuangan yang terus dibantahnya.
Mantan eksekutif yang menyelamatkan Nissan dari kebangkrutan pada 1999 itu membeberkan sederet fakta pahit. “Lihat saja faktanya, kondisinya sangat buruk. Harga saham anjlok 80 persen sejak 2018, penjualan tahunan turun dari lebih 5 juta menjadi sekitar 3 juta unit,” ujarnya.
Nissan menolak menanggapi pernyataan Ghosn secara langsung. Perusahaan hanya menyatakan tengah mencatat kemajuan bertahap dalam rencana pemulihan dan masih memiliki likuiditas yang kuat.
Meski demikian, Ghosn menilai Nissan kini terjebak dalam pengambilan keputusan lambat dan strategi terlalu defensif. Perusahaan dinilai lebih memilih mundur dari berbagai pasar ketimbang menghadapi persaingan yang semakin ketat.
Ketika ditanya kesediaannya menjadi penasihat, Ghosn menjawab tegas bahwa hanya satu posisi yang bisa menyelamatkan Nissan. “Satu-satunya pekerjaan untuk menyelamatkan perusahaan adalah menjadi CEO. Nissan sedang dalam keadaan darurat dan membutuhkan keputusan-keputusan sulit,” tegasnya.
Ghosn memperingatkan Nissan berisiko menjadi afiliasi kecil perusahaan lain jika tak segera mengubah arah. Ia membandingkan kondisi saat ini dengan krisis 1999, “namun dengan harapan yang lebih kecil.”









