BERTUAHPOS.COM — Gelombang kemarahan warga lokal terhadap turis di Thailand yang berperilaku buruk kian menguat dan memaksa pemerintah mengambil langkah tegas.
Pengelola saluran media sosial Thai’d Up with Minnie, Minnie, mengatakan sebagian orang memandang Thailand seolah-olah bisa diperlakukan sebagai tempat bermain tanpa aturan, dan sikap itulah yang kini memicu reaksi keras dari masyarakat setempat.
“Ada peningkatan respons dari warga Thailand yang tidak senang dan mulai menyadari bahwa perilaku seperti ini tidak bisa diterima. Hal itu menyakiti orang-orang yang tinggal di sini,” ujarnya, dikutip dari The Guardian, Selasa, 2 Juni 2026.
Bulan lalu, Pemerintah Thailand mengumumkan kebijakan memperketat aturan visa dengan mengurangi durasi masa tinggal bebas visa bagi turis di Thailand dari lebih dari 90 negara, dari sebelumnya 60 hari menjadi hanya 30 hari dalam sebagian besar kasus, meski belum dipastikan kapan aturan ini mulai berlaku.
Kebijakan ini disambut baik oleh banyak warga Thailand kerena mereka sudah muak dengan rentetan berita tentang turis di Thailand yang berulah, mulai dari pengunjung yang menolak membayar tagihan restoran, video viral perkelahian di jalanan, pasangan asing yang dideportasi karena melakukan hubungan seks di dalam tuktuk, hingga seorang pengunjung yang mengeluarkan lendir dari hidungnya ke arah penjual makanan jalanan.
Sekretaris Tetap Kementerian Dalam Negeri Thailand, Arsit Sampantharat, menegaskan sikap tegas pemerintah. “Warga asing yang memasuki Thailand tidak boleh bertindak seperti tokoh berpengaruh, melakukan hal-hal ilegal, menindas penduduk negara tuan rumah, atau berperilaku dengan cara yang bertentangan dengan moral, budaya, dan tradisi Thailand,” ujarnya seperti dikutip media lokal The Nation.
Namun pemerintah juga harus menjaga keseimbangan antara ketertiban dan kelangsungan ekonomi yang sangat bergantung pada turis di Thailand. Sektor pariwisata menyumbang hingga 20 persen dari PDB dan menggerakkan lapangan kerja di seluruh lini, mulai dari hotel mewah dan spa hingga penjual makanan kaki lima dan pengemudi taksi.
Kekhawatiran pemerintah bukan sekadar soal perilaku tidak tertib, melainkan juga ancaman lebih serius berupa warga asing yang menjalankan bisnis ilegal atau memanfaatkan celah aturan visa untuk kejahatan transnasional. Asia Tenggara telah menjadi pusat jaringan penipuan kriminal, dengan sindikat yang kerap mengangkut korban perdagangan manusia melalui Thailand ke negara-negara tetangga seperti Myanmar.
Juru bicara pemerintah Thailand, Rachada Dhnadirek, menyebut sistem yang ada saat ini menciptakan celah bagi orang-orang yang tidak memiliki niat baik untuk mengambil keuntungan. Presiden Asosiasi Bisnis dan Pariwisata Pattaya, Chutima Jeeramongkol, menambahkan bahwa yang menjadi kekhawatiran utama bukan turis di Thailand yang sesungguhnya, melainkan mereka yang masuk dengan visa turis namun diam-diam menjalankan bisnis ilegal.
Di lapangan, sebagian besar turis di Thailand mengaku kebijakan baru ini tidak akan mengubah rencana liburan mereka karena 30 hari dinilai masih cukup untuk berwisata.
Namun bagi banyak warga Thailand seperti Minnie, yang terpenting adalah perubahan ini mampu melindungi hal-hal yang membuat Thailand istimewa, termasuk nilai budaya greng jai, yakni sikap pengertian dan tidak ingin mengganggu orang lain, yang selama ini justru dimanfaatkan oleh sebagian wisatawan nakal.
“Saya rasa Thailand sekarang benar-benar berusaha keras untuk melestarikan budayanya,” kata Minnie.









