BERTUAHPOS — Setelah bertahun-tahun pasar kendaraan roda dua dikuasai pemain asing, kini brand dalam negeri mulai mengambil posisi dengan menawarkan produk motor listrik yang dirancang khusus sesuai karakter pengendara Indonesia.
Sejumlah produsen lokal seperti Polytron, Gesits, Alva, dan United E-Motor tidak lagi sekadar menjadi alternatif, melainkan tampil sebagai pesaing serius di segmen kendaraan listrik.
Mengadopsi strategi agresif melalui kombinasi harga kompetitif, menjadi salah satu keunggulan layanan purna jual, serta inovasi teknologi yang disesuaikan dengan kondisi jalan dan iklim tropis di Indonesia.
Pengamat otomotif dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Bambang Trisulo, menilai kekuatan utama produsen lokal terletak pada pemahaman pasar domestik yang tidak sepenuhnya dimiliki merek impor.
“Produsen lokal memahami kebutuhan pengguna Indonesia, mulai dari daya tahan terhadap hujan, kondisi jalan yang beragam, hingga efisiensi biaya harian. Ini menjadi keunggulan kompetitif yang nyata,” ujarnya.
Hal ini tentu berbeda dengan pendekatan global yang cenderung mengandalkan spesifikasi universal, produsen dalam negeri mulai fokus pada aspek fungsional yang relevan bagi pengguna harian.
Dia menyebut, banyak motor listrik lokal kini dilengkapi sertifikasi IP67 yang memastikan sistem kelistrikan tetap aman saat menghadapi hujan deras atau genangan air—situasi yang kerap ditemui di kota-kota besar Indonesia.
Selain teknologi, strategi harga menjadi senjata utama dalam menghadapi invasi produk impor.
Motor listrik lokal dipasarkan mulai dari kisaran Rp15 jutaan hingga segmen premium dengan fitur konektivitas smartphone dan navigasi terintegrasi.
Rentang harga ini membuka akses lebih luas bagi masyarakat yang ingin beralih dari kendaraan berbahan bakar minyak ke kendaraan listrik.
Direktur salah satu produsen motor listrik nasional, dalam keterangan resminya, mengatakan bahwa persaingan dengan merek global justru mendorong inovasi lebih cepat di dalam negeri.
“Kami tidak hanya menjual kendaraan, tetapi membangun ekosistem mobilitas listrik yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia,” katanya.
Efisiensi biaya operasional juga menjadi faktor yang mempercepat pergeseran konsumen. Dengan biaya pengisian listrik rata-rata Rp2.500 hingga Rp3.000 untuk jarak tempuh 40–60 kilometer, motor listrik mulai dipandang sebagai solusi transportasi ekonomis di tengah ketidakpastian harga bahan bakar.
Persaingan ini turut memicu pengembangan ekosistem pendukung, termasuk jaringan stasiun penukaran baterai dan kolaborasi dengan perusahaan logistik serta transportasi online.
Langkah tersebut bertujuan mengatasi kekhawatiran konsumen terkait jarak tempuh dan waktu pengisian daya, yang selama ini menjadi hambatan utama adopsi kendaraan listrik.
Pemerintah juga berperan melalui kebijakan peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang ditargetkan mencapai 40 persen pada 2026.
Kebijakan ini diyakini memperkuat rantai pasok nasional sekaligus meningkatkan daya saing produsen lokal terhadap produk impor.
Analis industri otomotif dari Lembaga Riset Transportasi Nasional, Rudi Hartono, menilai persaingan antara brand lokal dan global justru menjadi indikator sehatnya pertumbuhan industri kendaraan listrik di Indonesia.
“Pasar sedang mencari standar baru. Jika produsen lokal mampu menjaga kualitas dan layanan, peluang menguasai pasar domestik sangat terbuka,” katanya.***
— RRI —









