BERTUAHPOS — Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau mengakui bahwa inflasi yang terjadi saat ini dipengaruhi oleh situasi regional di Pulau Sumatera.
Gangguan pasokan pangan dari sejumlah daerah pemasok utama menjadi faktor utama tekanan harga di Riau.
Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Riau, Syahrial Abdi, mengatakan inflasi di Riau tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan erat dengan kondisi daerah lain di Sumatera yang sedang mengalami bencana alam.
“Iya, kondisi inflasi yang terjadi saat ini sangat dipengaruhi oleh situasi regional di Sumatera. Sejumlah daerah terdampak bencana, dan itu memberi tekanan inflasi pangan bagi Riau,” ujar Syahrial Abdi di Pekanbaru, Senin, 12 Januari 2025.
Dia menjelaskan, beberapa wilayah di Sumatera seperti Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh saat ini dilanda banjir, banjir bandang, hingga tanah longsor. Kondisi tersebut mengganggu distribusi pangan antardaerah.
Sumatera Barat dan Sumatera Utara selama ini menjadi daerah andalan Riau dalam memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. Ketika pasokan dari wilayah tersebut terganggu, dampaknya langsung terasa pada harga bahan pokok di Riau.
Syahrial menyebutkan, sebagian besar kebutuhan bahan pokok Riau masih bergantung pada pasokan dari luar daerah, terutama Sumatera Barat. Selain itu, komoditas telur juga masih banyak didatangkan dari provinsi lain.
Untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pangan, Pemprov Riau mengambil langkah strategis dengan mendatangkan pasokan dari luar Sumatera. Upaya ini dilakukan sebagai langkah antisipasi agar gejolak harga tidak semakin meluas.
Melalui BUMD pangan, Pemprov Riau telah menjalin koordinasi dan kerja sama dengan daerah-daerah yang memiliki surplus produksi atau masuk kategori zona hijau, seperti Magelang dan Malang di Pulau Jawa.
Kerja sama tersebut difokuskan untuk mengamankan pasokan komoditas strategis, antara lain cabai, bawang, dan sejumlah bahan pangan pokok lainnya yang berpengaruh besar terhadap inflasi.
Selain mendatangkan pasokan dari luar daerah, Pemprov Riau juga mendorong penguatan produksi pangan dari dalam provinsi.
Langkah ini dilakukan melalui sektor pertanian, termasuk optimalisasi lahan potensial untuk penanaman cabai dan komoditas pangan strategis lainnya, guna memperkuat ketahanan pangan daerah dalam jangka menengah dan panjang.***









