BERTUAHPOS — Saat mendekati seorang bayi mungil yang digendong perempuan muda, SF Hariyanto, menunduk di sampingnya, menatap wajah kecil itu yang berusaha tetap ceria di tengah kondisi penyakitnya. Dengan nada suara pelan, ia bertanya kepada salah seorang keluarga. “Ini usianya berapa bulan?”
“Tujuh bulan,” jawab si kakak, Widya.
“Harus ditangani secepatnya,” sahut SF Hariyanto sambil menyentuh lembut tangan bayi itu. Bayi itu telah mengidap penyakit kelainan jantung sejak dari lahir.
“Kami cuma bisa bilang ‘terima kasih’ Pak. Pemerintah memberikan fasilitas untuk rujukan ke rumah sakit di Jakarta,” jawab Widya.
Tatapan bayi itu membuat Hariyanto ingat tentang dirinya. Ia juga mengidap penyakit jantung dan sudah menjalani beberapa kali operasi. Sulit membayangkan bagaimana bayi sekecil itu juga harus merasakan penderitaan yang sama. Hanya semangat dan motivasi yang bisa mengiringi kepergian keluarga, dan doa yang menyertai si bayi.
“Cepat sembuh ya nak. Semangat ya nak ya, saya juga mengalami penyakit jantung. Insyaallah sehat, pasti bisa ya nak ya,” ucapnya.
***
Di sudut lain ruangan, seorang perempuan berhijab tampak memeluk anak perempuan yang sudah terlihat lelah. Anak itu bernama Aisyah. Usianya 10 tahun. Senyum kecilnya menyirat keberaniannya yang besar. Sang ibu, Rosma Dewi, tak sedikitpun melepas menggenggam tangan putrinya, bukan hanya takut kehilangan, tapi seolah mentransfer ketegaran kepadanya.
Aisyah juga mengalami kelainan jantung. Penyakit itu telah merenggut masa kecilnya, karena harus bolak-balik kontrol ke rumah sakit. Sedih bercampur haru terlihat jelas dari tatapan nanar mata sang ibu, yang tak banyak bicara. Namun tatapan itu cukup menyampaikan segalanya.
“Makasih banyak telah membantu kami,” ucap Rosma Dewi. “Semoga anak saya pulang dengan keadaan sehat.”
***
Tatapan penuh harap, memancar dari raut muka M Teguh, seorang remaja 18 tahun itu duduk terpaku sembari menatap Hariyanto. Di balik tatapan tegas itu, tersimpan harapan besar untuk pulih dari penyakit sediakala.
“Saya ingin sembuh,” ucapnya lirih saat dihampiri SF Hariyanto. “Saya juga ingin hidup seperti orang lain.” Kalimat penuh harap itu seolah meruntuhkan segala keputusasaan yang selama ini mendera. “Saya ingin bisa olahraga tanpa takut, bisa tertawa tanpa memikirkan sakit lagi,” kata Teguh.
***
Suasana penuh haru dan harap itu, seketika tercipta begitu saja di ruang tunggu VIP Lancang Kuning Bandara SSK II Pekanbaru. Plt Gubri sengaja menyapa seluruh calon pasien penyakit jantung yang akan menjalani pengobatan di Jakarta, Kamis, 27 November 2025.
Harapan para pasien untuk bisa sembuh itu sempat runtuh. Namun kini terajut kembali, berkat bantuan berobat yang diberikan Pemprov Riau, melalui Dinas Kesehatan.
“Jangan khawatir. Teknologi medis kini semakin canggih. Insya Allah semua ujian ini akan berakhir,” ujarnya memberi semangat. “Tapi ingat, ada sesuatu yang tidak bisa dibeli dan tak tergantikan dalam proses penyembuhan, yaitu keteguhan hati.”
Ungkapan Plt Gubri itu sungguh menyentuh hati siapapun yang mendengarnya, membuat suasana di ruangan berganti sunyi, sedih dan haru seolah bersatu dalam semangat dan harapan baru. “Ingat ya, harus banyak berdoa. Kita sudah berusaha,” sambungnya.
“Dalam era serba modern, ketika dokter, mesin, dan obat berlomba melawan waktu, doa tetaplah oase yang tak pernah kering. Kekuatan yang tidak terukur tetapi dirasakan.”
“Kami bertanggung jawab untuk memastikan agar masyarakat mendapatkan haknya memperoleh pelayanan kesehatan yang layak. Seluruh kebutuhan pasien selama menjalani pengobatan kami biayai semuanya. Mulai dari tiket pesawat pulang pergi, penginapan, dan biaya berobat.”
“Saya berdoa, semoga pasien ini bisa sembuh dan sehat kembali. Untuk kepada keluarga diberikan kesabaran serta mari juga berdoa semoga penyakit ini dapat terselesaikan dengan cepat dan selamat,” ucap Hariyanto.***









