• Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber
Rabu, Oktober 28, 2026
SUBSCRIBE
BertuahPos
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
BertuahPos
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

CEOR, “Ritual Membangkitkan” Lapangan Migas Tua

SKK Migas menyikapi target pemerintah untuk ketahanan dan kemandirian energi nasional dengan komitmen yang kuat, "migas sebagai fondasi kemandirian energi."

Melba Ferry Fadly by Melba Ferry Fadly
3 November 2025
CEOR, “Ritual Membangkitkan” Lapangan Migas Tua

Lapangan Minas di Wilayah Kerja (WK) Rokan yang dioperasikan oleh PT PHR Regional 1 Sumatra | Foto: Bertuahpos / Melba Ferry Fadly.

Share on FacebookShare on Twitter

DERU suara dari berbagai mesin yang menyala, menggema, berpadu dengan dentingan besi dihantam palu. Percikan cahaya seperti flash kamera, muncul silih berganti dari ujung elektroda, menandakan ada aktivitas mengelas sedang dilakukan di sini.

Sementara itu, rangkaian batang-batang besi meliuk ke sana kemari dan saling terhubung satu sama lain, berfungsi sebagai penopang dan pipa untuk mengalirkan fluida yang diangkat dari perut bumi. Dari jauh, bentuknya seperti rangkaian elektronika bagian dalam televisi tabung. Entah di mana ujungnya.

Sedangkan jauh di belakang sana, beberapa konstruksi berbentuk tabung ukuran jumbo terlihat lebih dominan. Di balik kerumitan bentuk itu, tangki raksana ini seolah mempertegas identitas, bahwa lokasi ini adalah tempat produksi migas.

Sementara itu, para perwira PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Regional 1 Sumatera berseragam lengkap, tengah sibuk dengan tugas masing-masing. Mereka tengah memperbaiki dan membangun infrastruktur pendukung baru di lapangan Minas.

Ini adalah pekerjaan penting. Hasil akhirnya akan sangat menentukan seberapa banyak minyak yang bisa diangkat ke permukaan.

Di bawah terik menjelang siang pada Rabu, 24 September 2025, saya berdiri di atas CEOR Viewing Station atau menara pandang di Lapangan Minas, Kabupaten Siak, Riau. Dari sini, seluruh aktivitas pekerja dapat diawasi dengan leluasa.

Lapangan Minas hanya satu dari lapangan migas lain di Blok Rokan. Umurnya sudah tua. Lebih kurang 80 tahun. Dia menyimpan sejarah panjang bagaimana minyak di Riau diproduksi. Dia menjadi saksi tak berbunyi betapa kayanya sumber daya alam di Bumi Lancang Kuning ini. Kehadirannya penuh dengan perjuangan dan cibiran. Sebagian dari ceritanya masih terekam dalam sebuah dokumen; Tinjauan Naskah Izin Penelitian Tambang Seluas 14.500 Ha. Dokumen itu masih tersimpan di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Riau, Jalan Jenderal Sudirman, Pekanbaru.

Tapi, ada yang lebih penting dari sekadar bicara sejarah Lapangan Minas. Sumur tua itu dipercaya masih mengandung fluida (minyak, air dan gas) dalam jumlah gemuk, meski sudah hampir seabad dieksploitasi.

“Kami yakin masih ada 50% lebih potensi migas yang bisa diangkat dari di lapangan ini,” kata Senior Petroleum Engineer PHR Lapangan Minas, Medika Wilza, bercerita kepada Bertuahpos. Dia bercerita, sudah menjadi kebiasaan di sumur migas tua; produksinya akan menurun. Siapapun tak bisa membantah, sebab ini adalah sifat alamiah. Namun, semangat swasembada energi membangkitkan gairah, semakin mempertegas tak ada kata menyerah.

Sebagai salah satu industri hulu migas, PT PHR Regional 1 Sumatera tengah berupaya mengangkat kembali, paling tidak memperlambat grafik penurunan produksi dengan berbagai teknologi dan inovasi. Satu lagi teknologi yang akan diterapkan di lapangan migas ini, adalah metode Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR).

Teknologi ini memang barang lama karena sudah pernah dilakukan sebelum alih kelola. Namun, saat ini para perwira PHR berhasil menemukan formula baru dan dipercaya akan lebih optimal untuk mengangkat minyak dari perut bumi Melayu.

Bagaimana Metode CEOR Bekerja?

Meski sudah tua, bukan berarti Lapangan Minas dibiar begitu saja. Kandungan migas di sini masih potensial untuk menunjang jumlah produksi. Meskipun, secara persentase,  air yang terangkat jauh lebih banyak daripada minyak yang diekstraksi (water cut). Perbandingannya hingga 99,5%. Artinya, dari 100% fluida yang produksi, hanya 0,5% minyak. Sisanya, air. “Secara persentase, begitu,” ujar Medika.

Metode CEOR dipercaya efektif untuk meningkatkan produksi dalam waktu relatif cepat. Cara ini diharapkan mampu mengambil sisa-sisa minyak yang masih terperangkap di dalam reservoir.

Ada tiga jenis senyawa kimia yang dipakai dalam penerapannya. Medika menyebutnya dengan istilah ASP (Alkali, Surfaktan dan Polimer). Jadi, alkali itu berfungsi untuk mengubah sifat kebasahan reservoir agar minyak lebih mudah diangkat. Sementara surfaktan itu layaknya sabun, sehingga minyak yang menempel di pori-pori batuan bisa lepas. Sedangkan polimer, tugasnya meningkatkan kekentalan (viskositas) air, agar lebih efektif mendorong minyak keluar dari pori-pori reservoir.

Analogi sederhananya seperti mencuci baju yang kena tumpahan minyak. Air saja tentu tak cukup. Jadi perlu sabun agar minyak menempel bisa lebih mudah lepas dan larut. “Begitu juga di reservoir; minyak yang masih menempel pada pori-pori batuan bisa terangkat dengan bantuan alkali, surfaktan dan polimer,” terangnya.

Hal lain yang tak kalah membanggakan, bahwa formulasi ASP pada metode CEOR yang akan diterapkan di Lapangan Minas ini, adalah buah hasil karya para perwira PHR sendiri. Jauh sebelum ini ditemukan, mereka sudah bolak-balik ke laboratorium, untuk uji coba. Adapun komponen bahan kimianya, sebagian besar diproduksi di dalam negeri. “Untuk bahan surfaktan yang masih diimpor lewat kerja sama dengan PT Pertamina. Teknologi ini efektif diterapkan pada Desember 2025 nanti,” ujar Medika.

Jika dibandingkan dengan metode biasa (konvensional), harus diakui bahwa penerapan teknologi ini butuh biaya yang cukup tinggi. Selain bahan kimia khusus, fasilitas pencampuran serta sistem injeksi pun, harus tepat. Hasil studi menunjukkan potensi peningkatan faktor pemulihan atau recovery factor cukup memuaskan. Sekitar 13%. Pada percobaan skala kecil sebelumnya, bahkan bisa meningkat antara 17% hingga 22%.

Medika mengakui bahwa metode CEOR sudah pernah dilakukan pada tahun 2013. Kala itu skalanya masih kecil. Hasilnya, terbukti efektif untuk menunjang pertumbuhan produksi. Sayangnya, teknolog ini harus berhentu, karena harga minyak dunia terjun bebas di tahun 2016. “Proyek ini jadi tidak ekonomis,” katanya.

Setelah lebih kurang 10 tahun nganggur, oleh PHR, fasilitas ini tetap dirawat agar bisa dipakai di masa depan (preservasi). Saat ini, situasi dan kondisinya lebih mendukung. Proyek ini pun kembali dilanjutkan. Adapun fasilitas permukaan yang digunakan, yakni kombinasi antara fasilitas lama (diaktifkan kembali) dan didukung dengan fasilitas baru.

Setidaknya, ada dua komponen utama yang dibutuhkan; pertama, on-plot facilities, sebagai tempat pemisahan fluida hasil produksi (minyak, air, dan bahan kimia), pencampuran bahan kimia, serta utilitas pendukung. Kedua, off-plot facilities, sebagai jaringan pipa menuju sumur injeksi dan sumur produksi.

Adapun sistem kerjanya, pada proyek awal di lapangan Minas (Area A), ada tiga sumur injektor dan sekitar 13 sumur produser. Bahan kimia tadi (ASP), dicampur di fasilitas on-plot, lalu dipompakan ke sumur injeksi untuk mendorong minyak keluar. Fluida yang diproduksi dari sumur produser, dipisahkan di fasilitas permukaan, kemudian, minyaknya dialirkan ke jalur pipa produksi. Sedangkan air hasil pemisahan, kembali diinjeksikan ke reservoir bersama bahan kimia baru.

Dulu sempat beredar isu, bahwa air sumur bor yang dipakai warga di Minas, berminyak dan bau. Banyak pihak menuding, itu adalah dampak lingkungan dari metode CEOR. Namun, kata Medika Wilza, isu itu tak ada kaitannya dengan aktivitas produksi di Lapangan Minas ini. Jika ditelaah dari sisi dampak lingkungan, sumur minyak ini berada di kedalaman lebih kurang 2.000 meter. Sedangkan air yang biasa dipakai warga untuk kebutuhan sehari-hari berada di kedalaman dangkal, sekitar 100 hingga 150 meter.

Lagi pula, setiap sumur produksi dilapisi besi dan disemen. Bahkan, tak ada celah kontak dengan air tanah yang dipakai masyarakat. Terlebih, air yang keluar dari reservoir kualitasnya tidak layak konsumsi, karena mengandung mineral dan minyak.

Hal lain yang juga mempertegas mengapa CEOR menjadi proyek penting, karena dapat memperpanjang usia ekonomis Lapangan Minas sekitar delapan hingga 10 tahun ke depan. “Itu baru proyeksi untuk tahap awal,” ujar Medika.

Jika dilakukan pengembangan lebih luas, usianya bisa sampai 14 tahun, dan dari metode ini, ditargetkan angka produksi migas hingga 2.800 barel minyak per hari — untuk pola tiga sumur injektor di Area A.

Medika menjelaskan, Minas menjadi salah satu lapangan minyak paling besar di Asia Tenggara. Jika cadangan awalnya mencapai 4,6 miliar barel, sekarang masih sisa potensi hingga 50% yang bisa diangkat ke permukaan.

Itulah mengapa, penerapan CEOR di Minas bukan hanya penting, tapi upaya ini akan mampu menjawab produksi migas nasional, khususnya untuk mendukung target 1 juta barel per hari pada 2030. “Apalagi teknologi CEOR ini, tidak banyak negara yang berhasil mengimplementasikannya dengan skala ekonomis. Tapi, kita bisa,” tuturnya.

Bagi PHR Regional 1 Sumatera, teknologi ini tidak sebatas nafas baru, angin segar atau kabar bahagia bagi industri hulu migas di Tanah Air. Tapi lebih dari itu. CEOR seperti oase, dia akan menjadi “ritual” baru untuk membangkitkan lapangan migas tua di Blok Rokan.

Selain CEOR, Apa Saja yang Dilakukan PHR?

Secara keseluruhan Wilayah Kerja (WK) Rokan memiliki luas 6.400 meter per segi. Ada tujuh kabupaten/kota di dalamnya; Pekanbaru, Kampar, Siak, Bengkalis, Kota Dumai, Rokan Hulu dan Rokan Hilir, dengan 35 stasiun pengumpul. Semuanya dihubungkan oleh pipa alir sepanjang 13.200 kilometer dan 500 kilometer jaringan shipping line.

Saat ini, seluruh kegiatan perusahaan didukung dengan 28 rig pemboran dan 25 rig WOWS (Workover Well Service) yang berfungsi untuk memperbaiki, memelihara dan meningkatkan produksi sumur yang sudah ada. Tujuannya tidak lain menyelesaikan program development dan base business perusahaan plat merah itu.

Per tahunnya, ada sekitar 500 sumur pengembangan dan eksplorasi bermunculan. Sekitar 150 subur baru terdapat di Lapangan Duri. Sisanya, 350 subur tersebar di lapangan lain, seperti; Lapangan Minas, Bangko, Balam, Petapahan, Pager, Kota Batak, termasuk di Rangau.

Hingga kini, PHR Regional 1 Sumatera mengoptimalkan 11.300 sumur migas untuk produksi di WK Rokan. Dari jumlah itu, rata-rata sekitar 152 ribu barel minyak per hari berhasil diangkat dari perut bumi, atau sekitar seperempat dari total lifting minyak nasional, dan 33 juta standar kaki kubik gas per harinya.

Adapun WK Rokan menyumbang 26% terhadap produksi hulu migas nasional dan menyalurkan 100% lifting untuk kebutuhan domestik. Sebanyak 44 ribu tenaga kerja terlibat di dalamnya. Hampir 74% di antaranya adalah putra daerah.

Sejak alih kelola (2021) hingga Juni 2025, WK Rokan telah berkontribusi sebesar Rp129,3 triliun terhadap penerimaan negara melalui pajak dan PNBP, serta telah menyalurkan amanah Participating Interest (PI) 10% senilai Rp4,4 triliun untuk Riau, sebagai tuan rumah.

Adapun fokus di tahun 2025; menjaga baseline produksi melalui program revitalisasi aset eksisting dan optimasi sumur, meningkatkan produksi lewat  investasi proyek pengembangan, hingga memaksimalkan daya saing biaya rendah (cost competitiveness) lewat digitalisasi dan otomatisasi.

Salah satu fakta tak terbantahkan, bahwa lumbung migas ini telah memegang peran penting dalam menopang produksi migas nasional, sejak dulu kala. Namun, perusahaan juga menyadari satu hal, bilamana upaya untuk mempertahankan produksi, ternyata tidak semulus rencana dalam kerangka program kerja semata.

Andai tanpa ada aktivitas pengeboran dan pembaharuan teknologi, PHR akan dihadapkan pada penyusutan produksi migas secara alamiah. Jumlahnya mencapai 11% per tahun.

“Itu kalau kita nggak ngapa-ngapain, ya,” kata General Manager Zona Rokan PHR, Andre Wijanarko. “Karena sumur migas kita sudah tua,” tegasnya, dalam pemaparan di Journey Room PHR, Rumbai, Rabu, 24 September 2025.

Berbagai teknologi yang sudah diterapkan pun beragam, selain CEOR, Enhanced Oil Recovery (EOR) juga diterapkan untuk meningkatkan jumlah minyak yang dapat diekstraksi dari reservoir — terutama di sumur-sumur tua yang tak mungkin diproduksi secara efisien dengan metode konvensional.

Lalu, pengembangan low quality reservoir untuk pengelolaan reservoir migas dengan karakteristik kurang menguntungkan — seperti porositas dan permeabilitas rendah, untuk mengoptimalkan produksi hidrokarbon dengan sumur yang disesuaikan. Kemudian, multistage fracturing untuk meningkatkan produksi dari reservoir yang sulit, seperti di bebatuan ketat dan serpih.

Namanya sumber daya alam, suatu saat dia akan habis. Sifat alamiahnya memang begitu, dan itu sebuah keniscayaan. Tak hanya berkutat dengan teknologi mutakhir, upaya eksplorasi tanpa henti menjadi kunci untuk mewujudkan swasembada energi.

CEOR masih menjadi ikhtiar. Tapi kabar keberhasilan teknologi new waterflood di proyek secondary recovery, mempertegas keyakinan upaya mempertahankan produksi migas di WK Rokan. Waterflood itu sama dengan teknologi injeksi air, yang diterapkan di lapangan Pager, Rokan Hilir, Riau, dan sudah dimulai sejak tahun 2023 lalu. Lewat teknologi ini, perusahaan berhasil menambah 1.180 barel minyak per hari.

“Sekali lagi, capaian ini menjadi tonggak penting bagi PHR karena merupakan proyek waterflood pertama yang berhasil diimplementasikan sejak alih kelola WK Rokan,” kata Andre Wijanarko.

Keberhasilan new waterflood terletak pada optimalisasi penggunaan digitalisasi data dalam mencapai efisiensi dan akurasi tinggi. Cara itu memungkinkan bari PHR menganalisis reservoir secara komprehensif, mengidentifikasi injeksi air optimal, dan menganalisa fasilitas permukaan. Pendekatan cerdas ini secara signifikan memangkas waktu evaluasi lapangan kandidat waterflood dibandingkan metode konvensional. Keunggulannya dimanfaatkan para insinyur PHR untuk mengembangkan metode Secondary Recovery Waterflood.

Keberhasilan di Lapangan Pager menjadi pondasi kuat bagi PHR untuk memperluas implementasi secondary recovery ke lapangan-lapangan Blok Rokan lainnya. Adapun portofolio eksekusi proyek new waterflood di Blok Rokan secara kumulatif melalui empat lapangan lain dengan karakteristik reservoir yang sama — yang diproyeksikan akan mencapai total produksi hingga 2.500 barel minyak per hari, pada akhir tahun 2025.

“Kami berkomitmen mengelola aset migas secara bertanggung jawab. Kami terus mendorong mendorong inovasi dan optimalisasi digitalisasi. Capaian ini membuat kami semakin optimis terhadap target swasembada energi nasional ke depan,” katanya.

Bagaimana SKK Migas Mengawal Produksi?

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) sadar betul, bahwa penurunan produksi secara alamiah pada lapangan-lapangan tua merupakan hal yang tidak bisa dihindari. Namun, upaya untuk menjaga tingkat produksi agar tetap optimal, terus dilakukan. Caranya, dengan mendorong efisiensi operasi, optimalisasi lapangan eksisting, dan percepatan kegiatan pengeboran sesuai rencana kerja yang telah disetujui.

Adapun dorongan yang diberikan, bersifat strategis dan kolaboratif, di antaranya melalui, pendampingan dan pengawasan rencana kerja KKKS, koordinasi dengan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan, peningkatan investasi dan kegiatan eksplorasi, Peningkatan tata kelola dan pemanfaatan teknologi.

Kepala Departemen Formalitas dan Komunikasi SKK Migas Perwakilan Sumbagut, Yanin Kholison, mengatakan pihaknya memastikan setiap KKKS di wilayah Riau melaksanakan program kerja sesuai dengan target produksi dan jadwal kegiatan yang telah ditetapkan.

Setiap rencana pemboran, perawatan sumur (workover), serta kegiatan optimasi produksi selalu dikawal secara berkala agar tetap sesuai dengan standar keselamatan, lingkungan, dan ketentuan teknis yang berlaku.

Koordinasi dengan Pemda dan pemangku kepentingan dianggap sebuah kolaborasi penting agar kegiatan hulu migas berjalan lancar dan memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.

“Alhamdulillah, dukungan penuh dari Pemprov Riau dan Gubernur Riau juga telah didapatkan, salah satunya dengan Satgas Kelancaran Operasional Hulu Migas Riau,” katanya kepada Bertuahpos dalam wawancara tertulis, awal November 2025. Adapun bentuk pengawasannya meliputi berbagai aspek. Setiap KKKS wajib menyampaikan Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) serta Komitmen Kerja Pasti (KKP).

Selain itu, SKK Migas akan melakukan peninjauan aspek teknologi yang diterapkan (EOR, CEOR, stimulasi, hingga sumur tambahan, sumur horizontal, fracture stimulation), timeline produksi, hingga program eksplorasi atau up-stream yang diterapkan, apakah telah direncanakan secara realistis atau tidak.

Ketika KKKS menyampaikan rencana implementasi teknologi, SKK Migas akan memastikan bahwa aspek keekonomian, lingkungan, dan keselamatan telah diperhitungkan. “Kami mendorong agar penerapan teknologi tidak hanya menjadi jargon, tapi benar-benar dilaksanakan dan dipantau efeknya terhadap produksi, efisiensi, dan cadangan. Kami juga melakukan audit–lapangan dan pemantauan kinerja melalui data produksi, pemboran, dan cadangan,” tambah Yanin.

SKK Migas juga meyakini bahwa Riau masih bisa memberikan kontribusi besar terhadap migas nasional di tengah isu penurunan sumur-tua. “Ya, tentu saja,” ujar Yanin, dengan catatan, kontribusi tersebut sangat bergantung pada upaya mitigasi penurunan produksi dan peningkatan cadangan.

Wilayah Riau, khususnya Blok Rokan, masih merupakan tulang punggung migas bagi wilayah kerja Sumbagut dalam hal penerimaan. Menurut catatan SKK Migas, produksi minyak Riau lebih kurang 180.000 barel per hari, atau sekitar 30% dari lifting nasional (menurut data tahun 2024), dan masih bisa didorong untuk mendukung target nasional 1 juta barel per hari.

Angka ini membuktikan bahwa Riau berpotensi besar untuk memberikan kontribusi signifikan terhadap migas nasional, meski itu bukan sesuatu yang bisa dibiarkan berjalan secara otomatis. Dengan kata lain, tetap dibutuhkan intensifikasi aktivitas upstream, optimasi, dan penambahan cadangan agar kontribusi itu berkelanjutan.

Sepanjang tahun 2025, SKK Migas menargetkan pengeboran sekitar 600 sumur di wilayah Riau, menjadikan provinsi ini sebagai wilayah dengan aktivitas pengeboran tertinggi di Indonesia (60%). Dari total 600 sumur, 560 sumur berada di Blok Rokan, sisanya tersebar di KKKS lain seperti EMP Group dan lainnya. Hingga saat ini kegiatan eksplorasi baru terus dilakukan.

Yanin menyebut, industri hulu migas memang dorong agar tidak hanya menjadi sumber devisa atau penerimaan negara, tapi sebagai bagian strategi nasional menuju swasembada energi. Hasil migas harus memberi manfaat maksimal kepada rakyat dan wilayah penghasil. Karena Riau memiliki lapangan besar — seperti Blok Rokan serta potensi masih ada — peran Riau sangat penting dalam pencapaian target nasional.

Produksi dan cadangan yang dihasilkan di Riau bisa membantu mengurangi ketergantungan pada impor dan memperkuat supply domestik. Kata Yanin, SKK Migas mempertegas bahwa swasembada energi tidak hanya soal jumlah barel, tapi juga soal manfaat bagi masyarakat dan daerah penghasil.

Oleh sebab itu, SKK Migas juga mengawal dan mendorong program pemberdayaan masyarakat, pengembangan UMKM lokal, dan kerja sama dengan pemerintah daerah. Secara keseluruhan, target swasembada energi bukan hanya tanggung jawab SKK Migas, namun bidang hulu migas tetap menjadi pilar yang tidak bisa diabaikan. “Kami menyikapi target pemerintah untuk ketahanan dan kemandirian energi nasional dengan komitmen yang kuat, migas sebagai fondasi kemandirian energi,” tegasnya.***

Tags: energimigasriau
Share5Tweet3Send
Follow Berita BertuahPos di Google News

Melba Ferry Fadly

Melba Ferry Fadly

Jurnalis di Bertuahpos.com

Berita Terkait

Naik Rp214,7 Miliar, APBD Perubahan Pekanbaru 2026 Jadi Rp3,2 Triliun
Ekonomi

APBDP Riau 2026 Diprioritaskan untuk Utang Tunda Bayar dan Infrastruktur

...

Read moreDetails
Jepang Siapkan Pengurangan Subsidi Bensin Mulai Desember 2026, Apa yang Terjadi?

Jepang Siapkan Pengurangan Subsidi Bensin Mulai Desember 2026, Apa yang Terjadi?

Cuaca Riau Hari Ini Sabtu 9 Mei 2026, Cek Selengkapnya

Cuaca Riau Hari Ini, Asap Masih Pekat, 11 Titik Panas Terdeteksi

Warga Riau dan Kepri Desak Pencabutan Izin Tambang dan PSN

Warga Riau dan Kepri Desak Pencabutan Izin Tambang dan PSN

Riau Kantongi Restu Kemenhut untuk Proyek Perdagangan Karbon

Riau Kantongi Restu Kemenhut untuk Proyek Perdagangan Karbon

Plt Gubernur Riau Minta ASN Bekerja Ekstra Tahun Ini “Jangan Ada yang Santai"

Riau Perluas Basis Penerimaan demi Optimalkan Pendapatan Daerah

Next Post
Gubernur Riau Targetkan BRK Syariah IPO dalam Dua Tahun ke Depan

KPK Tangkap Gubernur Riau Abdul Wahid dalam Operasi Tangkap Tangan

Show Transparency Report
  • Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber

© 2013-2025 BertuahPos.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

© 2013-2025 BertuahPos.com.