HENDRIK tengah sibuk dengan sebilah pipa paralon, berukuran sekitar dua meter. Pipa itu disambung ke selang, terhubung dengan tangki penampungan air di belakangnya. Saat air mengucur, ujung pipa diarahkan ke setiap pangkal batang tanaman cabai. Separuh badannya tenggelam di tengah hamparan kebun cabai setinggi pinggang itu. Aktivitas ini sudah menjadi agenda rutinnya setiap sore, menjelang magrib.
Kebun ini memang tidak begitu besar. Sekitar 24 x 20 meter per segi. Kira-kira empat rumah tipe 36 depan-belakang. Seluruh bagiannya dipagari kawat besi. Ada tanaman merambat labu air menjalar di pagar. Sudah berbuah, tapi belum matang. Beberapa terlihat menggantung di sana.
Untuk akses masuk ke area kebun, dibuat lah gerbang besi dengan pintu setakat dada orang dewasa. Di sebelah kirinya ada saung kecil dan toren air di atas menara.
Dari gerbang, area kebun dibelah dengan jalan setapak paving blok. Lajur ini terhubung ke bangunan terbuka tanpa dinding. Letaknya, persis di tengah-tengah kebun. Bangunan itu terbuat dari baja ringan, beratap plastik UV, dan difungsikan sebagai lanjaran untuk tanaman anggur. Di ujung jalan setapak ini, ada greenhouse yang juga berukuran mini, persis di bagian paling belakang kebun itu.
Secara struktur, kebun ini dibuat menjadi dua bagian, yakni kebun dalam dan kebun terbuka. Kebun dalam berupa greenhouse. Bermacam jenis tanaman sudah berulang kali tumbuh dan panen di sana; pakcoy, sawi, hingga selada. Belum lama ini, mereka panen buah melon segar.
Bagian lainnya adalah kebun terbuka (di luar greenhouse). Tanaman utamanya cabai setan — jenis cabai rawit besar yang biasa dipakai untuk sambal geprek. Warga di sini menyebutnya “cabe geprek.” Selain itu tumbuh juga beberapa pohon pepaya di dekat pagar.
Kebun mini ini diberi nama “Kebun Hidroponik Urban Farming”. Lokasinya di kompleks perumahan Griya Tika Utama, RT 02 RW 14, Kelurahan Air Dingin, Bukit Raya, Pekanbaru. Saya mengunjunginya pada Kamis, 18 September 2025.
Manfaatkan Lahan Kosong di Kompleks Perumahan
Sekitar awal Februari 2023 lalu, Kelompok Tani Wanita (KTW) RW 14 dihubungi oleh pihak kelurahan setempat. Katanya, PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Tbk, ingin merealisasikan program urban farming sebagai salah satu upaya mendukung ketahanan pangan.
Kebetulan, ada lahan kosong di kompleks perumahan ini. Karena belum dibangun rumah baru, lahan itu ditumbuhi semak belukar. KTW RW 14 berinisiatif bicara dengan pemilik perumahan untuk meminjam lahan itu, dibuat jadi kebun tanaman pangan.
“Ternyata, sama developernya boleh. Jadi lah kebun ini,” kata Hendrik, Pengelola Kebun Hidroponik Urban Farming itu, membuka cerita. “Sebenarnya, ada dua lokasi telah disurvei pihak BRI. Tapi mereka pilih lokasinya di sini,” ujar yang juga menjabat sebagai Ketua RT 2 RW 14 itu.
Tak lama berselang, pihak BRI mulai membangun seluruh sarana dan prasarana yang diperlukan, termasuk infrastruktur pendukung seperti pagar kawat besi, gerbang, saung kecil, sumur bor, menara toren lengkap dengan tangki, greenhouse fasilitas lengkap, dan bibit tanamannya.

Karena masih pemula di hidroponik, pihak BRI bahkan menyediakan satu mentor. Dari sinilah mereka belajar cara pembibitan, penanaman, perawatan, panen hingga pemasarannya.Seiring waktu berjalan, tanaman itu tumbuh subur. Hasil panennya pun memuaskan dan cukup untuk memenuhi kebutuhan warga di kompleks perumahan itu. Terutama komoditas cabai dan sayur-mayurnya.
Hampir setiap sore, ada saja warga datang untuk berbelanja. Bahkan, hasil panen dari kebun ini, boleh dikatakan tak sempat dilepas ke pasar luar, karena peminatnya sangat tinggi. Tapi, KTW RW 14 juga sering menghubungi pihak kelurahan dan BRI saat musim panen tiba.
“Temen-temen dari BRI juga sering ngontak, ‘Kami mau main ke kebun’, datang mereka, banyak juga yang beli hasil dari kebun kita. Uangnya masuk ke kas,” kata Hendrik.
Dia menyebut, untuk tanaman kebun seperti ini memang perlu perlakuan khusus. Misalnya, cabai. Idealnya, tidak bisa ditanam secara terus menerus. Walaupun dipaksakan, akan berdampak terhadap hasil panen berikutnya.
Kebun cabai itu perlu tanaman sela seperti jagung. Fungsinya untuk memutus kembang biak hama yang sebelumnya menggerogoti cabai. Selain itu, tanaman jagung juga efektif untuk menjaga kelembaban tanah, kontrol kadar air, menjadi mulsa alami, hingga menghemat pupuk.
Di masa-masa inilah, Hendrik berinisiatif dan meminta izin ke KWT untuk mengelola lahan itu. Greenhouse yang sebelumnya ditanami sayur, diganti dengan tanaman melon. Sistemnya masih hidroponik. Belum lama ini mereka panen. Buahnya besar dan segar. Peminatnya banyak. Semua pelanggannya adalah warga kompleks perumahaan.
“Saya sempat kewalahan. Ada saja warga yang pesan lewat telepon,” kata Hendrik. Mereka yang awalnya pesan melon satu, kemudian nambah. Sampai-sampai, buah melonnya dilabel dengan nama pemilik yang sudah pesan. “Supaya nggak rebutan,” ujarnya.
Para Pensiunan Jadi Lebih Bedaya
Selain agar kebun ini tetap hidup dan menghasilkan tanaman pangan, Hendrik juga punya misi lain. Sejumlah pensiunan yang tinggal di kompleks ini, hanya menghabiskan waktu dengan berdiam diri di rumah.
Untuk mengelola kebun, dia merekrut empat warga pensiunan sebagai mitra kerja. Hendrik menyadari, di usia yang tak lagi produktif, berbagai tekanan cenderung menjadi beban pikiran, sehingga berdampak terhadap kondisi fisik. Mereka jadi lebih mudah ngedrop, lalu jatuh sakit.
Seperti dirasakan Mardy, salah seorang pensiunan berusia sekitar 60 tahunan, kini ikut mengelola kebun hidroponik itu. Sehari-hari, dia banyak menghabiskan waktu di kebun, mencangkul, membersihkan rumput, menyemai hingga panen.
Aktivitas ini membuatnya serasa kembali ke usia muda, saat masih produktif bekerja. Meski kelihatannya sederhana, aktivitas fisik itu cukup membuat tubuhnya kembali bugar dan bertenaga. “Jadi lebih sering gerak, kan,” ujarnya.
Madry pun menyadari, bahwa kembali ke kebun saat pensiun ternyata sangat menyenangkan. “Di usia senja seperti ini, saya merasa lebih bermanfaat bagi orang lain,” tambahnya.
Ikut mengelola Kebun Hidroponik Urban Farming, tentu bukan soal uang. Tapi, belajar dari hal-hal kecil di sekitar dan memaknai bahwa segala sesuatu bisa dimanfaatkan untuk kebaikan. Walau itu terlihat kecil di mata orang lain.
Hendrik juga menyadarinya. Dengan adanya aktivitas seperti ini, dia bisa merangkul dan menjadi lebih dekat dengan mereka. Rasa kebersamaan terjalin bahkan tidak hanya saat bekerja.
“Sering juga, saat kami sedang nyiram ada warga datang, ‘Pak, boleh minta cabai? Boleh minta sayur, untuk masak hari ini’. Silahkan. Mereka boleh ambil. Nggak selalu kami jual,” tambah Hendrik.

Pernah juga ada orang dari luar datang beli cabai dan sayur. Uangnya kembaliannya tidak mau diambil. “Saya bilang ke mereka, ‘Alhamdulillah, kita dapat makan siang. Tapi masih mentah’.” Lalu uangnya dibelikan nasi bungkus untuk dimakan sama-sama. “Cuma sebatas itu aja,” katanya.
Kolaborasi Wujudkan Ketahanan Pangan
Belajar dari Kebun Hidroponik Urban Farming, upaya untuk mewujudkan ketahanan pangan perlu kolaborasi ciamik. Hal itu terbukti di kebun mini ini.
Hasil panennya memang tidak banyak, tapi cukup untuk menopang kebutuhan pangan warga sekitar. Setidaknya, dapat menekan biaya pengeluaran harian untuk komoditi tertentu, seperti cabai dan sayur.
Kompleks Perumahan Griya Tika Utama dihuni sebanyak 125 Kepala Keluarga (KK). Hendrik menyebut, sekitar 200 batang cabai yang tumbuh di kebun mini itu, sudah cukup untuk mengakomodir kebutuhan warganya.
Harga per kilogram cabai bahkan tak pernah di atas Rp50 ribu, jauh lebih murah dari harga pasaran. “Kan, tidak setiap hari juga mereka makan cabai ini,” ujarnya.
Selain itu, memanfaatkan lahan nganggur atau pekarangan rumah merupakan cara efektif untuk menjawab tantangan pangan dan pengendalian inflasi. Hanya saja, “call to action-nya” harus selaras. Jadi, tetap perlu figur dan pihak lain sebagai motor penggeraknya.
“BRI sudah melakukan itu di perumahan ini. Tentu akan lebih efektif kalau warganya juga sadar dan mau memanfaatkan pekarangan rumah untuk ditanami tanaman pangan,” ujarnya.
Untuk mewujudkan itu, kedepannya Hendrik akan menginisiasi gerakan tanam cabai di pekarangan rumah. Caranya, setiap warga diberi 10 bibit cabai di polybag. Lima rumpun untuk kebutuhan dapur, dan lima lainnya dibeli, untuk dilepas ke pasar.
Selain itu, para ibu rumah tangga jadi lebih melek bertani. Hampir setiap kali ada penyuluhan atau pelatihan pertanian dari kelurahan, mereka selalu ikut.
Bagi Hendrik dan warga di komplek, apa yang dilakukan BRI adalah bentuk dari pelayanan inklusif, berkeadilan, dan tidak memandang status nasabah atau bukan. “Yang penting kitanya mau gerak, mereka bisa fasilitasi,” ujarnya.
Ketua Petani Milenial (KPM) Riau, Ade Putra Daulay, juga setuju dengan pandangan itu. Dia memahami bahwa semangat ketahanan pangan, tidak cukup hanya dengan dorongan, tapi harus ditularkan. Khususnya, dari lingkungan terkecil seperti rumah tangga.
Namun, kunci keberhasilannya juga tak bisa lepas dari uluran banyak pihak dalam mengambil perannya masing-masing. “Kalau kita lihat, BRI sudah mengambil peran itu,” ujar Ade.
Di Kota Pekanbaru, ada beberapa komoditi yang dianggap sangat sensitif terhadap inflasi, seperti; cabai, beras, bawang, minyak goreng, dan lain-lain. Dari sini bisa ditelaah, komoditi mana yang memungkinkan untuk bisa digarap sendiri oleh warga. Salah satunya cabai.
Adapun Kebun Hidroponik Urban Farming ini, menurut Ade, BRI sudah menangkap peran mana yang bisa mereka “mainkan”.
Selain soal pengendalian inflasi, program yang diluncurkan BRI juga akan berdampak pada kesadaran masyarakat terhadap ketahanan pangan. Ade yakin, meski ini terlihat kecil, dampaknya akan sangat luar biasa.
“Nah, harapan kita ada pihak-pihak lain, mengambil peran sama pada komoditi lainnya. Sehingga, pemerintah akan bisa fokus melakukan intervensi terhadap komoditi besar, seperti beras, bawang, minyak goreng yang mana pengendalian inflasinya perlu dilakukan lewat kebijakan khusus,” kata Ade.
Apa yang dilakukan BRI, adalah perwujudan nyata dari semangat menghadirkan layanan inklusif sektor perbankan. “Artinya, masyarakat penerima manfaat tidak harus nasabah mereka kan,” ungkapnya.
Dengan diberikannya akses dan kesempatan yang sama, perbankan itu telah berpartisipasi, dan warga telah mendapatkan manfaat secara langsung dari kehadirannya. Tujuan akhirnya, tentu terciptanya prinsip keadilan, setara, dan tidak diskriminatif.
Tumbuh Bersama BRI Peduli
Kebun Hidroponik Urban Farming merupakan salah satu program yang digagas PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, melalui BRI Peduli. Sejauh ini, program itu terus menunjukkan dampak positif, terutama terhadap ketahanan pangan warga penerima manfaat.
Semangat itu, semakin terlihat dari aktifnya KWT mengikuti program pelatihan budidaya, pembuatan pupuk organik, hingga terlihat dalam berbagai diskusi tentang pertanian.
Adapun BRI Peduli, memang menyasar pemanfaatan lahan terbatas seperti pekarangan rumah ataupun lahan kosong di sekitar perumahan warga, dengan melibatkan kelompok tani wanita dan rumah tangga yang didominasi oleh kaum emak-emak.
Regional CEO BRI Pekanbaru, Dian Kesuma Wardhana, mengapresiasi keberhasilan warga yang mampu menghidupkan Program BRI Peduli secara konsisten. Menurutnya, Kebun Hidroponik Urban Farming adalah contoh nyata bahwa pelibatan aktif masyarakat mampu menciptakan perubahan berkelanjutan.
“Program ini bukan hanya sekedar menanam sayur, tapi juga menjadi gerakan bersama yang memperkuat solidaritas sosial dan ekonomi keluarga. Kami sangat mengapresiasi semangat warga Air Dingin yang menjadikan program ini sebagai gaya hidup,” ujarnya.
BRI menyatakan akan terus mengembangkan program ke wilayah lain di Pekanbaru, dengan pendekatan pemberdayaan berbasis komunitas dan keberlanjutan.***








