• Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber
Jumat, Oktober 30, 2026
SUBSCRIBE
BertuahPos
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
BertuahPos
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

Polemik PP 71 Gambut, Terapkan Dahulu Baru Revisi Kemudian

Tim Redaksi by Tim Redaksi
8 April 2015
Share on FacebookShare on Twitter
BERTUAHPOS.COM, PEKANBARU – Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau (Jikalahari) mendesak Pemerintah untuk menerapkan terlebih dahulu PP 71 tentang tahun 2014 tentang pengelolaan lahan gambut. Setelah itu baru dievaluasi di mana kekurangannya.
 
Koordinator Jikalahari, Muslim Rasyid menyebutkan, setelah PP ini diterapkan, maka bisa sama-sama dilihat apakah jenis tanaman HTI dan sawit bisa tumbuh atau tidak.
 
“Kalau perusahaannya tidak mampu, artinya bisnis ini memang tidak cocok kalau di lahan gambut,” ujarnya, Rabu (08/04/2015).
 
PP 71 yang ditetapkan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) di tahun 2014 ini mengatur ketinggian air 0,4 meter dari permukaan gambut. Dengan PP ini maka perusahaan yang terlalnjur mengelola lahan gambut, diminta untuk menjalankan peraturan ini dengan menjaga kadar ketinggian air tersebut dilahan operasionalnya.
 
Namun sawit dan hutan tanaman industri, seperti akasia tidak akan bertahan hidup pada ketinggian kadar air tersebut. Sebab itulah sejumlah perusahaan sawit dan HTI di Riau juga ikut mendesak pemerintah untuk segera merevisi peraturan tersebut, dengan pertimbangan perekonomian dan lapangan kerja.
 
Menurut Muslim, hal ini bukan alasan serta merta peraturan tersebut bisa direvisi begitu saja. Sementara penerapannya belum dilaksanakan. 
 
“Kalau kita sekarang justru lebih memperkuat itu. Kalau PP ini direvisi bukan solusi namanya. Kalau kita malah meminta kadar airnya ditingkatkan lagi. Normalnya untuk lahan gambut itu 0,2 meter,” sambungnya.
 
Dia menambahkan, hanya ada 2 pilihan bagi pemerintah dalam menyikapi hal ini. Jika direvisi maka bencana kabut asap di Riau akan terus berlangsung. Atau jika PP ini dijalankan,  perusahaan memikirkan teknologi baru, bagaimana tanaman mereka tetap hidup dan bisa berproduksi.
 
“Sederhana saja. Kalau tidak cocok di tanah gambut, pilihlah tanah mineral untuk menjalankan bisnisnya,” kata Muslim.
 
Menurutnya, keluarnya PP 71 ini adalah kebijakan yang sangat kompromi. Pemerintah harus bisa menjalankan peraturan tersebut. Kalau bisa kriterianya bahkan harus diperkuat lagi. 
 
Dengan kata lain ini adalah peraturan yang mendesak dan harus segera diimplementasikan. “Bagi perusahaan yang tidak mampu menyesuaikan diri. Mereka harus siap-siap berpindak ke area yang cocok untuk perkebunan mereka,” sambugnya.
 
17 tahun bencana kabut asap di Riau adalah bukti nyata bahwa ekploitasi sawit dan HTI di lahan gabut gagal diimplementasikan sebagaimana mestinya. (melba)
Share3Tweet2Send
Follow Berita BertuahPos di Google News

Tim Redaksi

Tim Redaksi


Diterbitkan oleh PT Citra Media Bertuah. Kirim informasi di sekitar Anda ke 0852 7260 5868 - redaksi@bertuahpos.com

Berita Terkait

Kalender 2027, Tanggal Merah, Libur Nasional dan Cuti Bersama
Nasional

Kalender 2027, Tanggal Merah, Libur Nasional dan Cuti Bersama

...

Read moreDetails
3 Rekomendasi HP Xiaomi Harga Rp3 Jutaan dengan Performa Terbaik

3 Rekomendasi HP Xiaomi Harga Rp3 Jutaan dengan Performa Terbaik

Hari Novar Terima Apresiasi SATU Indonesia Awards 2026

Hari Novar Terima Apresiasi SATU Indonesia Awards 2026, 10 Tahun Menggerakkan Pendidikan di Pelosok

KPK Sebut Kasus Cukai PT Djarum Rugikan Negara Triliunan Rupiah

KPK Sebut Kasus Cukai PT Djarum Rugikan Negara Triliunan Rupiah

Mengenal Googlebook OS dan Perbedaannya dengan ChromeOS Pada Chromebook

Mengenal Googlebook OS dan Perbedaannya dengan ChromeOS Pada Chromebook

Pesan Besar dari Ekonom Riau di Balik Percepatan SAF Minyak Jelantah

Pesan Besar dari Ekonom Riau di Balik Percepatan SAF Minyak Jelantah

Next Post

Erizal Muluk: Perbaikan Jalan Yos Sudarso Perlu Pakai 'Kaki Seribu

Show Transparency Report
  • Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber

© 2013-2025 BertuahPos.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

© 2013-2025 BertuahPos.com.