• Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber
Kamis, Oktober 29, 2026
SUBSCRIBE
BertuahPos
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
BertuahPos
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

Gubernur Abdul Wahid Pertegas Konflik Tanah Ulayat LPHD Rantau Kasih Harus Diselesaikan Secara Adat

Melba Ferry Fadly by Melba Ferry Fadly
18 Juni 2025
Gubernur Wahid Pertegas Konflik Tanah Ulayat LPHD Rantau Kasih Harus Diselesaikan Secara Adat

Gubernur Wahid Pertegas Konflik Tanah Ulayat LPHD Rantau Kasih Harus Diselesaikan Secara Adat

Share on FacebookShare on Twitter

BERTUAHPOS – Gubernur Riau Abdul Wahid mempertegas bahwa konflik tegakan hutan akasia di LPHD Rantau Kasih—yang dikelola oleh Koperasi Pancuran Gading—harus diselesaikan secara adat. Dia menyebut karena masalah ini melibatkan dua kelompok adat, sebaiknya diselesaikan dengan pendekatan adat sesuai dengan norma-norma adat yang berlaku.

Hal ini ditegaskan oleh Datuk Sanjayo Kenegerian Mentulik Jupriadi saat konferensi pers dengan awak media di Pekanbaru, Rabu, 18 Juni 2025. Adapun tegakan hutan akasia di LPHD Rantau Kasih, sebelumnya diklaim masuk wilayah adat Kenegerian Gunung Sahilan. 

Jupriadi menyampaikan keberatannya atas klaim sepihak yang dilakukan oleh pihak Gunung Sahilan terhadap kawasan Rantau Kasih, yang disebut-sebut merupakan bagian dari wilayah adat Gunung Sahilan.

Dia menjelaskan, LPHD Rantau Kasih sejatinya adalah wilayah hasil pemekaran dari Kenegerian Mentulik dan secara administratif memang berdiri sendiri, namun hak ulayatnya masih berada di bawah tanggung jawab Datuk Sanjayo Mentulik.

“Rantau Kasih ini murni pemecahan dari Mentulik. Tapi sekarang wilayah itu diklaim oleh Gunung Sahilan sebagai bagian dari tanah adat mereka,” ujarnya.

Konflik ini melibatkan lahan seluas sekitar 1.500 hektare yang kini telah dikelola oleh LPHD Rantau Kasih. LPHD diketahui telah mengantongi izin dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk mengelola kawasan tersebut, khususnya untuk tanaman kayu akasia. Namun menurut Jupriadi, pihaknya sama sekali tidak pernah dilibatkan dalam proses pengelolaan maupun pembagian hasilnya.

“Sejak panen pertama hingga panen ketiga di tahun 2024, kami tidak pernah mendapat sepeser pun dana dari hasil tebangan kayu itu. Bahkan, dalam MoU kerja sama mereka, banyak sekali rekayasa yang dilakukan tanpa sepengetahuan kami,” tegasnya.

Datuk Sanjayo menyebutkan, perbedaan batas wilayah adat seharusnya menjadi perhatian penting. Meski secara geografis berbatasan langsung dengan Gunung Sahilan, ia menegaskan bahwa wilayah adat Kenegerian Mentulik berdiri sendiri dan memiliki struktur adat serta batas yang berbeda.

Merespons situasi ini, ia mengungkapkan bahwa Gubernur Riau telah menyarankan agar penyelesaian konflik dilakukan melalui jalur hukum adat dan tidak melibatkan campur tangan pemerintah secara langsung. “Pak Gubernur sudah bilang, masalah adat itu harus diselesaikan oleh para tokoh adat. Tidak ada ranah pemerintah dalam perkara adat seperti ini,” ucapnya.

Pihak Kenegerian Mentulik juga telah berupaya menjalin komunikasi dengan tokoh adat Gunung Sahilan. Namun, hingga saat ini belum ada penjelasan memadai dari pihak Gunung Sahilan terkait dasar klaim mereka atas wilayah Rantau Kasih. “Kami sudah berkomunikasi, tapi mereka belum bisa menjelaskan adatnya secara utuh,” jelas Jupriadi.

Menyikapi ketidakjelasan ini, Datuk Sanjayo berharap ada itikad baik dari semua pihak untuk duduk bersama menyelesaikan persoalan ini secara adat. “Kami minta pertemuan terbuka, melibatkan semua pihak adat terkait, agar ada kejelasan dan keadilan. Jangan sampai ini jadi api dalam sekam yang memicu konflik lebih besar,” tuturnya.***

Tags: Regional
Share2Tweet2Send
Follow Berita BertuahPos di Google News

Melba Ferry Fadly

Melba Ferry Fadly

Jurnalis di Bertuahpos.com

Berita Terkait

Jikalahari Kritik Kunjungan Perdana Prabowo ke Riau, Dinilai Cuma Pindah Lokasi Rapat
Lingkungan

Jikalahari Kritik Kunjungan Perdana Prabowo ke Riau, Dinilai Cuma Pindah Lokasi Rapat

...

Read moreDetails
Plt Gubri Sebut Sumbang Rp1 Miliar untuk Bencana Gempa NTT Bukan soal Nominal Angkanya

Plt Gubri Sebut Sumbang Rp1 Miliar untuk Bencana Gempa NTT Bukan soal Nominal Angkanya

Polusi Akibat Karhutla Riau, Status Udara di Pekanbaru Berbahaya

Polusi Akibat Karhutla Riau, Status Udara di Pekanbaru Berbahaya

Alam Cahayo Tuah Nagoghi Tuntaskan Perjalanan dengan Gelar Juara di Tepian Narosa

Alam Cahayo Tuah Nagoghi Tuntaskan Perjalanan dengan Gelar Juara di Tepian Narosa

Riau Dilanda Kabut Asap, Helikopter Water Bombing Karhutla Berkurang jadi Empat Unit

Riau Dilanda Kabut Asap, Helikopter Water Bombing Karhutla Berkurang jadi Empat Unit

Petugas Disulitkan dengan Kendala Ini saat Atasi Karhutla Kerumutan

Petugas Disulitkan dengan Kendala Ini saat Atasi Karhutla Kerumutan

Next Post
Harga Emas Pegadaian 14 Juni 2025, Antam Melonjak Tajam 1 Gram Rp2 Juta

Harga Emas Pegadaian 19 Juni 2025 Turun, Berikut Penjelasannya

Show Transparency Report
  • Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber

© 2013-2025 BertuahPos.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

© 2013-2025 BertuahPos.com.