Miras Meningkat, Akankah Berdampak Signifikan terhadap Perekonomian?

Minggu, 27 September 2015 15:05 948
Miras Meningkat, Akankah Berdampak Signifikan terhadap Perekonomian?
Dr. Anggawira, MM

BERTUAHPOS.COM  - Lagi-lagi isi Paket Kebijakan Ekonomi yang dikeluarkan pemerintah bermasalah. Setelah rencana pelonggaran izin mendirikan minimarket dilontarkan, kini giliran miras yang masuk dalam daftar barang yang akan dilonggarkan pendistribusiannya. Alasannya masih sama, yaitu untuk merangsang perbaikan ekonomi Indonesia.

Pelonggaran tersebut berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri (Dirjen Dagri) No. 04/PDN/PER/4/2015 tentang petunjuk Teknis Pelaksanaan Pengendalian Peredaran dan Penjualan Minuman Beralkohol Golongan A yang isinya memberikan  keleluasaan pada kepala daerah untuk menentukan lokasi mana saja yang diperbolehkan menjual miras.

Awalnya, Menteri Perdagangan yang saat itu dijabat oleh Rachmat Gobel mengeluarkan Peraturan Menteri Perdagangan No. 06/M-DAG/PER/1/2015 tentang Pengendalian dan Pengawasan terhadap Peredaran dan Penjualan Minuman Beralkohol. Aturan tersebut melarang penjualan minuman kadar alkohol tinggi di minimarket. Alasannya, konsumsi alkohol bisa menyebabkan keresahan sosial. Meskipun banyak pihak yang pro terhadap kebijakan ini, namun tetap saja ada kontra oleh sebagian pihak yang merasa dirugikan. Beberapa daerah mengajukan protes, terutama daerah-daerah yang menjadi tujuan wisata warga asing.

Mereka merasa dengan adanya kebijakan tersebut maka akan terjadi penurunan pada jumlah penjualan minuman beralkohol. Oleh karena itu, Menteri Perdagangan yang baru, Thomas Lembong berencana merubah aturan yang lama dengan memberikan kewenangan untuk menetapkan wilayah mana saja yang bisa menjual minuman beralkohol atau sejenisnya. Hal ini dilakukan karena Pemerintah Daerah dianggap yang paling tahu tentang lokasi mana saja yang memerlukan izin penjualan minuman beralkohol dan mana yang tidak.

Sedikit membahas tentang dampak penjualan alkohol bagi perekonomian, ada yang menarik memang dari perolehan cukai di Indonesia. Negara dengan mayoritas muslim ini tahun lalu mendapatkan Rp. 126,7 Triliun  dari hasil pajak cukai rokok dan alkohol. Kedua barang ini tergolong unik, karena meski banyak menuai kontroversi di dalamnya namun sampai sekarang nyatanya banyak masyarakat yang tetap gemar mengkonsumsinya.

Dalam acara Bedah Buku dan Diskusi Panel “Reformasi Cukai: Kasus ASEAN”, Ketua Komisi XI Fadil Muhammad menyampaikan bahwa perolehan cukai saat ini masih sangat bergantung pada rokok dan alkohol, dengan persentase sekitar 95% dari total perolehan cukai di Indonesia. Akibatnya, banyak pihak yang merasa bahwa pendapatan dari kedua sektor ini harus dimaksimalkan sebaik mungkin. Padahal, masih ada hal-hal yang bisa dijadikan sumber pendapatan cukai lainnya.  

Dari analisis ekonomi, minuman keras merupakan barang konsumtif yang akan habis dalam sekali pakai. Banyak sisi negatif yang ditimbulkan ketika konsumsi alkohol naik. Apalagi jika melihat latar belakang Indonesia yang merupakan negara dengan komunitas muslim terbesar di dunia. Rasanya tidak etis jika minuman keras dijadikan alat untuk meningkatkan daya beli dalam perekonomian. Rencana kebijakan ini dinilai tidak akan terlalu berdampak signifikan terhadap perekonomian. Justru masyarakat lebih mengkritisi tentang dampak negatif yang ditimbulkan dari pelonggaran tersebut.

Alkohol selama ini menjadi penyebab beberapa tindak kriminal karena pengaruhnya yang menurunkan tingkat kesadaran. Alkohol merupakan depresan yang menekan kinerja sistem syaraf pusat. Konsumsi alkohol akan berpengaruh terhadap meningkatnya aktifitas asam gamma aminobutyric (GABA) dan melemahkan glutamin  yang menyebabkan koordinasi tubuh menjadi lumpuh. Pada akhirnya perilaku seseorang menjadi tidak terkontrol. Belum lagi efek jangka panjang yang ditimbulkan. Ada 9 organ tubuh yang berpotensi rusak akibat konsumsi alkohol secara berlebihan, yaitu ginjal, jantung, hati, mata, sistem pencernaan, sistem reproduksi, kulit, tulang, dan terakhir otak dan sistem syaraf.

 Hasil riset terbaru WHO menunjukkan konsumsi diatas 15 liter alkohol murni per tahun, memicu munculnya lebih dari 200 penyakit kronis diantaranya kanker dan sirosis hati. Setiap tahunnya lebih dari 3,3 juta orang meninggal sebagai dampak konsumsi minuman beralkohol berlebihan. Angka tersebut bahkan lebih tinggi daripada kematian yang disebabkan penyakit AIDS, TBC, atau kejahatan kekerasan lainnya. Akankah Pemerintah masih tutup mata dengan fakta tersebut?

Penulis: Dr. Anggawira, ST, MM

Doktor Bidang Ilmu Manajemen Universitas Negeri Jakarta

Ketua Bidang Organisasi Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI)

loading...
PUBLIC SERVICE

Berita Terkini

Pasar Bawah yang Melegenda
Sabtu, 21 Januari 2017 11:00

Pasar Bawah yang Melegenda

Siapa yang tidak tahu dengan Pasar Bawah Pekanbaru? Hampir semua warga Kota Pekanbaru mengetahui pasar yang terletak di Jalan Ahmad Yani Ujung ini. Bahkan ada yang menyebutkan belum ke Pekanbaru kalau belum berkunjung ke Pasar Bawah.

Aksi Demonstrasi Tolak Pelantikan Trump
Sabtu, 21 Januari 2017 10:43

Aksi Demonstrasi Tolak Pelantikan Trump

Detik-detik menjelang pelantikan Donald Trump, aksi penolakan juga terjadi. Mereka memblokir area menuju acara. Mereka membawa spanduk-spanduk berisi penolakan. Dan beberapa di antara

Tahun Ini, Penyaluran KUR Ditargetkan Naik Rp 110 Triliun
Sabtu, 21 Januari 2017 10:39

Tahun Ini, Penyaluran KUR Ditargetkan Naik Rp 110 Triliun

Pemerintah targetkan penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Rp 100 trilun menjadi sebesar Rp 110 pada tahun 2017 ini, suoaya KUR juga mengalir ke sektor produksi di luar perdagangan. Seperti pertanian dan perikanan.
 

Gubri Pastikan Adwar Sanger Jadi Pj Walikota Pekanbaru
Sabtu, 21 Januari 2017 10:30

Gubri Pastikan Adwar Sanger Jadi Pj Walikota Pekanbaru

Gubernur Riau, Arsyadjuliandi Rachman pastikan Edwar Sanger naik jadi Penjabat Sementara (Pj) Walikota Pekanbaru. Edwar kini sudah menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt)  Wali Kota Pekanbaru.

Kadis Diminta Tidak Hanya Pikir Realisasi Tinggi, Kualitas Itu Penting
Sabtu, 21 Januari 2017 10:20

Kadis Diminta Tidak Hanya Pikir Realisasi Tinggi, Kualitas Itu Penting

Gubernur Riau, Arsyadjuliandi Rachman menegaskan kepala dinas tidak hanya pikirkan bagaimana realisasi APBD tinggi. Sedangkan kualitas dari pembangunan buruk. 

Modus Memukul Adek,  Pelajar Ini Dirampas Dua Pelaku Tak Dikenal
Sabtu, 21 Januari 2017 10:07

Modus Memukul Adek, Pelajar Ini Dirampas Dua Pelaku Tak Dikenal

Perampasan dan pengancaman terjadi Jumat malam (20/1/2017). Pemerasan dialami VA (14), yang mana awa terjadinya pemerasan dan pengancaman

Jadi Pasar Tertua, Pasar Bawah Saksi Bisu Peradaban Pekanbaru
Sabtu, 21 Januari 2017 10:00

Jadi Pasar Tertua, Pasar Bawah Saksi Bisu Peradaban Pekanbaru

Pasar bawah merupakan pasar tertua di Pekanbaru. Meski tidak banyak referensi yang menjelaskan kepasrian tahun berdirinya pasar ini. Awalnya hanya pasar tradisional biasa.

Coco' Film Terbaru Dari Disney-Pixar, Penasaran?
Sabtu, 21 Januari 2017 09:56

Coco' Film Terbaru Dari Disney-Pixar, Penasaran?

Disney-Pixar menghadirkan film animasi berjudul Coco. Seperti film-film sebelumnya, Disney-Pixar menghadirkan film yang sarat pesan kehidupan. Coco yang disutradari oleh Lee Unkrich berfokus pada

KPK Cegah Eks Dirops Citilink Ke Luar Negeri
Sabtu, 21 Januari 2017 09:52

KPK Cegah Eks Dirops Citilink Ke Luar Negeri

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), mencekal ke luar negeri terhadap ‎mantan Direktur Operasional (Dirops) PT Citilink Indonesia, Hadinoto Soedigno.

Yudi: Wajar Kalau Mata Uang NKRI Mirip Negara Asing
Sabtu, 21 Januari 2017 09:45

Yudi: Wajar Kalau Mata Uang NKRI Mirip Negara Asing

Deputi Direktur Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia (BI), Yudi Harimurti mengatakan sangat wajar, jika mata uang NKRI mirip dengan mata uang asing.