Miras Meningkat, Akankah Berdampak Signifikan terhadap Perekonomian?

Minggu, 27 September 2015 15:05
Miras Meningkat, Akankah Berdampak Signifikan terhadap Perekonomian?
Dr. Anggawira, MM

BERTUAHPOS.COM  - Lagi-lagi isi Paket Kebijakan Ekonomi yang dikeluarkan pemerintah bermasalah. Setelah rencana pelonggaran izin mendirikan minimarket dilontarkan, kini giliran miras yang masuk dalam daftar barang yang akan dilonggarkan pendistribusiannya. Alasannya masih sama, yaitu untuk merangsang perbaikan ekonomi Indonesia.

Pelonggaran tersebut berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri (Dirjen Dagri) No. 04/PDN/PER/4/2015 tentang petunjuk Teknis Pelaksanaan Pengendalian Peredaran dan Penjualan Minuman Beralkohol Golongan A yang isinya memberikan  keleluasaan pada kepala daerah untuk menentukan lokasi mana saja yang diperbolehkan menjual miras.

Awalnya, Menteri Perdagangan yang saat itu dijabat oleh Rachmat Gobel mengeluarkan Peraturan Menteri Perdagangan No. 06/M-DAG/PER/1/2015 tentang Pengendalian dan Pengawasan terhadap Peredaran dan Penjualan Minuman Beralkohol. Aturan tersebut melarang penjualan minuman kadar alkohol tinggi di minimarket. Alasannya, konsumsi alkohol bisa menyebabkan keresahan sosial. Meskipun banyak pihak yang pro terhadap kebijakan ini, namun tetap saja ada kontra oleh sebagian pihak yang merasa dirugikan. Beberapa daerah mengajukan protes, terutama daerah-daerah yang menjadi tujuan wisata warga asing.

Mereka merasa dengan adanya kebijakan tersebut maka akan terjadi penurunan pada jumlah penjualan minuman beralkohol. Oleh karena itu, Menteri Perdagangan yang baru, Thomas Lembong berencana merubah aturan yang lama dengan memberikan kewenangan untuk menetapkan wilayah mana saja yang bisa menjual minuman beralkohol atau sejenisnya. Hal ini dilakukan karena Pemerintah Daerah dianggap yang paling tahu tentang lokasi mana saja yang memerlukan izin penjualan minuman beralkohol dan mana yang tidak.

Sedikit membahas tentang dampak penjualan alkohol bagi perekonomian, ada yang menarik memang dari perolehan cukai di Indonesia. Negara dengan mayoritas muslim ini tahun lalu mendapatkan Rp. 126,7 Triliun  dari hasil pajak cukai rokok dan alkohol. Kedua barang ini tergolong unik, karena meski banyak menuai kontroversi di dalamnya namun sampai sekarang nyatanya banyak masyarakat yang tetap gemar mengkonsumsinya.

Dalam acara Bedah Buku dan Diskusi Panel “Reformasi Cukai: Kasus ASEAN”, Ketua Komisi XI Fadil Muhammad menyampaikan bahwa perolehan cukai saat ini masih sangat bergantung pada rokok dan alkohol, dengan persentase sekitar 95% dari total perolehan cukai di Indonesia. Akibatnya, banyak pihak yang merasa bahwa pendapatan dari kedua sektor ini harus dimaksimalkan sebaik mungkin. Padahal, masih ada hal-hal yang bisa dijadikan sumber pendapatan cukai lainnya.  

Dari analisis ekonomi, minuman keras merupakan barang konsumtif yang akan habis dalam sekali pakai. Banyak sisi negatif yang ditimbulkan ketika konsumsi alkohol naik. Apalagi jika melihat latar belakang Indonesia yang merupakan negara dengan komunitas muslim terbesar di dunia. Rasanya tidak etis jika minuman keras dijadikan alat untuk meningkatkan daya beli dalam perekonomian. Rencana kebijakan ini dinilai tidak akan terlalu berdampak signifikan terhadap perekonomian. Justru masyarakat lebih mengkritisi tentang dampak negatif yang ditimbulkan dari pelonggaran tersebut.

Alkohol selama ini menjadi penyebab beberapa tindak kriminal karena pengaruhnya yang menurunkan tingkat kesadaran. Alkohol merupakan depresan yang menekan kinerja sistem syaraf pusat. Konsumsi alkohol akan berpengaruh terhadap meningkatnya aktifitas asam gamma aminobutyric (GABA) dan melemahkan glutamin  yang menyebabkan koordinasi tubuh menjadi lumpuh. Pada akhirnya perilaku seseorang menjadi tidak terkontrol. Belum lagi efek jangka panjang yang ditimbulkan. Ada 9 organ tubuh yang berpotensi rusak akibat konsumsi alkohol secara berlebihan, yaitu ginjal, jantung, hati, mata, sistem pencernaan, sistem reproduksi, kulit, tulang, dan terakhir otak dan sistem syaraf.

 Hasil riset terbaru WHO menunjukkan konsumsi diatas 15 liter alkohol murni per tahun, memicu munculnya lebih dari 200 penyakit kronis diantaranya kanker dan sirosis hati. Setiap tahunnya lebih dari 3,3 juta orang meninggal sebagai dampak konsumsi minuman beralkohol berlebihan. Angka tersebut bahkan lebih tinggi daripada kematian yang disebabkan penyakit AIDS, TBC, atau kejahatan kekerasan lainnya. Akankah Pemerintah masih tutup mata dengan fakta tersebut?

Penulis: Dr. Anggawira, ST, MM

Doktor Bidang Ilmu Manajemen Universitas Negeri Jakarta

Ketua Bidang Organisasi Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI)

TRAVELLING

Berita Terkini

Menpora Akan Buka 2nd Endurance Ride WDO di Riau
Selasa, 23 Mei 2017 10:00

Menpora Akan Buka 2nd Endurance Ride WDO di Riau

 Asociation of The Indonesian Tour and Travel Agencies (Asita) Riau bakal kembali menggelar Endurance Ride Wisata Dakwah Okura (WDO) 2017.

Berbeda, Kecamatan Pusako Gelar Pembukaan MTQ di Objek Wisata
Selasa, 23 Mei 2017 10:00

Berbeda, Kecamatan Pusako Gelar Pembukaan MTQ di Objek Wisata

Biasanya pembukaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) dilaksanakan pada malam hari, akan tetapi kali ini berbeda, Kecamatan Pusako menggelar pembukaan MTQ pada siang hari, 

Temu Responden BI Hadirkan Motivator Remaja Tampubolon
Selasa, 23 Mei 2017 09:50

Temu Responden BI Hadirkan Motivator Remaja Tampubolon

Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Riau menggelar temu responden di Kantor BI Jalan Jendral Sudirman, Pekanbaru Riau, Selasa (23/5/2017).

Selasa Ini Hujan Tidak Merata di Riau
Selasa, 23 Mei 2017 09:40

Selasa Ini Hujan Tidak Merata di Riau

Selasa (23/05/2017), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) catat potensi hujan di Riau tidak merata hari ini. 

Geger, Warga Kampung Jawa Kandis Temukan Bayi di Depan Rumah
Selasa, 23 Mei 2017 09:30

Geger, Warga Kampung Jawa Kandis Temukan Bayi di Depan Rumah

Warga Kampung Jawa Kelurahan Simpang Belutu, Kecamatan Kandis digegerkan dengan adanya bayi laki-laki baru lahir di dalam sebuah tas, yang diletakkan di depan rumah seorang warga bernama Mulyanto.

FWD Life Hadir di Pekanbaru Dukung Penetrasi Asuransi di Sumatera
Selasa, 23 Mei 2017 09:20

FWD Life Hadir di Pekanbaru Dukung Penetrasi Asuransi di Sumatera

FWD Life resmi membuka kantor pemasarannya di Pekanbaru, sebagai bagian dari komitmen perusahaan untuk mendukung peningkatan penetrasi asuransi di Indonesia. 

Riau Tak Ingin PP Gambut Malah Mengurangi Lapangan Kerja
Selasa, 23 Mei 2017 09:09

Riau Tak Ingin PP Gambut Malah Mengurangi Lapangan Kerja

Pemprov Riau memilih untuk melakukan kajian lebih jauh terhadap Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 71 Tahun 2014, tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut (PP Gambut). 

Operasi Pasar Bulog, Ini Harga Jual Bawang Putih Cina di Pekanbaru
Selasa, 23 Mei 2017 08:55

Operasi Pasar Bulog, Ini Harga Jual Bawang Putih Cina di Pekanbaru

Badan Urusan Logistik (Bulog) Divre Riau Kepri menggelar operasi pasar murah jelang ramadan. 

Konser Ariana Grande di London Ditutup dengan Ledakan Bom
Selasa, 23 Mei 2017 08:40

Konser Ariana Grande di London Ditutup dengan Ledakan Bom

Terjadi ledakan besar di Manchester Arena sekitar pukul 11.35 malam waktu setempat. 

Asita Riau Ajak Pengusaha India Berkuda di Wisata Dakwah Okura
Selasa, 23 Mei 2017 08:28

Asita Riau Ajak Pengusaha India Berkuda di Wisata Dakwah Okura

Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) Riau serius memperkenalkan Riau dari sektor wisata.