Masih Banyak ‘Harta Karun’ di Hutan Riau

Sabtu, 07 Juni 2014 13:49

BERTUAHPOS.COM, PEKANBARU – Obat herbal bukan lagi menjadi tren baru karena sudah lama dikenal masyarakat, termasuk di Riau. Metode pengobatan secara alamiah tanpa racikan obat kimia ini secara turun temurun dipercaya mampu menghalau dan menyembuhkan ragam penyakit.


Namun belakangan, dengan pembakaran lahan serta alih fungsi lahan di Riau, diprediksi berimbas pada habitat tanaman herbal tersebut. Seperti dipaparkan praktisi kesehatan dr Abdullah Qayyum kepada bertuahpos.com Sabtu (07/06/2014).


“Kurang perhatian serta gencarnya pembakaran lahan bisa menyebabkan Riau kehilangan aset yang sanggat tinggi harganya. Padahal Riau punya harta karun atau kekayaan berharga dari banyak tanaman obat. Terutama dari tanaman obat yang saat ini tidak dimanfaatkan secara baik,” jelasnya.


Contoh lain seperti tumbuhan latuk-latuk atau yang biasa disebut Ciplukan (Physalis peruviana) di anggap sebagai penganggu tanaman lain. Padahal tanaman ini punya banyak manfaat.

Baca: Buruan, Tinggal Dua Hari lagi Kesempatan Test Drive HR-V Gratis


Untuk itu dr Qayyum mengharapkan adanya perhatian pemerintah untuk menjaga kelestarian tanaman obat-obatan. “Untuk itu perlu adanya upaya serius dalam melestarikan serta mengembangkan tanaman herbal. Sebab daerah Riau punya kekayaan tersebut, yang merupakan aset yang tinggi harganya,” tutupnya.


Dr Qayyum menyebutkan dengan luas wilayah yang saat ini masih dipenuhi hutan belantara, Riau punya potensi menggarap tanaman yang bisa dijadikan obatan herbal. Ia mencontohkan seperti khasiat daun dewa maupun kumis kucing, sedari dulu dikenal bisa mengobati penyakit. Namun sebab tak dibudidaya secara maksimal maka bukan tidak mungkin tanaman ini berujung pada kelangkaan. (riki)