COVID-19: Inilah Pekan Tersulit AS Hadapi Corona

Senin, 06 April 2020 10:36

BERTUAHPOS.COM – Negara Paman Sam telah berada pada pekan dimana menjadi masa-masa tersulit dalam menangani wabah COVID-19  di negara Adikuasa itu.

Selama sepekan kedepan akan menjadi masa genting dalam sejarah penyebaran coronavirus. Jumlah penduduk yang meninggal terus bertambah terutama di New York, Michigan, dan Louisiana.

New York, negara bagian yang paling terpukul. Pemerintah setempat telah mengkonfirmasi setidaknya hampir 600 kematian baru dengan total 4.159 kematian dan 122.000 total kasus. 

Reuters melaporkan, jenazah korban corona hanya ditumpuk dalam kantong oranye terang di dalam kamar mayat. Kepala operasional Korps Layanan Kesehatan Masyarakat AS Jerome Adams memperingatkan di Fox News Sunday bahwa masa sulit ada di depan. Tetapi, ada cahaya di ujung terowongan jika setiap orang melakukan bagian mereka selama 30 hari ke depan.

Baca: China Akui Korban Meninggal Akibat Corona di Wuhan Lebih 50% dari yang Dilaporkan

“Ini akan menjadi minggu paling sulit dan paling menyedihkan dalam kehidupan kebanyakan orang Amerika, terus terang. Ini akan menjadi momen Pearl Harbor kita, momen 9/11 kita, hanya saja itu tidak bersifat lokal,” katanya, seperti dikutip Kantor Berita untuk Indonesia, Antara News.

Tempat-tempat seperti Pennsylvania, Colorado, dan Washington DC mulai menyaksikan peningkatan kematian. Gugus tugas penanganan virus corona Gedung Putih memperingatkan ini bukan waktunya untuk pergi ke toko kelontong atau tempat-tempat umum lainnya.

Sebagian besar negara bagian telah memerintahkan penduduk untuk tinggal di rumah kecuali untuk keperluan penting. Hal itu guna memperlambat penyebaran virus di AS di mana lebih dari 321.000 orang dinyatakan positif dan lebih dari 9.100 orang telah meninggal.

Namun, beberapa gereja mengadakan pertemuan besar pada Minggu Palma, awal Pekan Suci di gereja-gereja Kristen. Dia telah menentang perintah negara untuk tidak berkumpul dalam kelompok besar dan telah dikenai enam pelanggaran ringan.

“Kami menentang aturan karena perintah Tuhan adalah menyebarkan Injil,” kata Tony Spell, pendeta Gereja Life Tabernacle di pinggiran kota Baton Rouge, Louisiana. Louisiana telah menjadi tempat paling berbahaya dalam penularan virus. Pada akhir pekan lalu negara bagian itu melaporkan lonjakan kematian menjadi 409 dan lebih dari 12.000 kasus.

Gubernur John Bel Edwards mengatakan kepada CNN pada Ahad bahwa negara bagian itu kemungkinan kehabisan ventilator pada Kamis mendatang. Pakar medis Gedung Putih memperkirakan antara 100-240 ribu orang AS dapat terbunuh dalam pandemi, bahkan jika perintah untuk tinggal di rumah diikuti. Presiden Donald Trump memperingatkan pada Sabtu bahwa hari-hari ke depan bisa sangat mengerikan.

Gubernur negara bagian Washington Jay Inslee, yang negaranya mencatat infeksi Covid-19 pertama di AS, mengatakan jika negara-negara lain tidak juga memberlakukan tindakan tegas, virus hanya akan bersirkulasi. “Akan lebih baik jika memiliki perintah nasional untuk tinggal di rumah,” katanya kepada NBC News. (bpc3)