Pemanis Buatan dan Bakteri Masih Ada di Jajanan Anak Sekolah

Senin, 29 Juli 2013 11:00
Pemanis Buatan dan Bakteri Masih Ada di Jajanan Anak Sekolah
BERTUAHPOS.COM – JAKARTA – Masalah bahan berbahaya pada makanan ternyata bukan hanya ada di pinggir jalan atau supermarket, tapi juga ada pada jajanan anak sekolah.
Dalam memberantas bahan makanan berbahaya pada jajanan anak dan warung sekolah, Sabtu lalu diadakan seminar guru mengenai jajanan sehat dengan pembicara perwakilan BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan), psikolog Rose Mini dan dokter spesialis anak Dr. TB. Rachmat Sentika Sp. A, MARS.
Menurut Deputi Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berhaya Roy Sparringa, PhD Seminar guru ini merupakan perwujudan dari lima strategi gerakan nasional menuju PJAS (Pangan Jajanan Anak Sekolah) yang aman.
“Pada 31 Januari 2011, Wakil Presiden bilang harus ada gerakan nasional. Karena dalam capaian 2 tahun,pada 2011 kasus bahan berbahaya bahan makanan bahaya jajanan anak sekolah menurun 35 persen sehingga tidak memenuhi syarat. Pada 2012 juga turun 24 persen. Walaupun turun, tapi kasus ini ternyata belum hilang,” ungkap Roy saat acara ‘Sehatnya Duniaku: Pangan Jajanan Anak Sekolah yang Aman, Bermutu dan Bergizi’ di Cawang, Jakarta, ditulis Senin (29/7/2013).
Bahan makanan yang paling sering ditemukan menurutnya adalah formalin, rhodamin. Selain itu pemanis buatan dan sanitasi juga belum ada perubahan.
“Untuk jajanan anak,sakarin dan sanitasi menjadi perhatian utama. Ini sulit karena menyangkut perubahan prilaku masyarakat,” tutur Roy.
Untuk itu, Roy menyebutkan ada beberapa hal yang akan terus dilakukan seperti:
1. Pengawasan terhadap penyalahgunaan bahan berbahaya pada makanan dan minuman. Dalam hal ini, pemerintah daerah akan melakukan pembinaan dan pengawasan pada sekolah. Di daerah nanti akan dikawal tata niaga sesuai peruntukkannya.
“Retail warung harus terdaftar, harus jadi perhatian pemerintah daerah,” kata Roy.
2. Ada pasar aman bahan berbahaya. Menteri Kesehatan saat ini sudah mencanangkan pasar sehat. Pasar ini sudah ada di lima daerah di 16 provinsi.
(liputan6.com)