Ibu-Ibu PKL Menangis Di Depan Walikota Firdaus

Sabtu, 01 Juni 2013 19:02
BERTUAHPOS, PEKANBARU– Tangisan ibu-ibu pedagang kaki lima pasar jongkok Panam pecah saat bertemu Walikota Firdaus di gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Pekanbaru Kamis (30/5) sore. Mereka meminta Walikota untuk mengurungkan niatnya melakukan penggusuran terhadap PKL yang berdagang disana.
 
“Anak kami sekolah pak pikirkan kami pak. Kalau kami dipindah tidak bisa berjualan mau makan apa anak-anak kami pak,”ucap puluhan ibu-ibu tersebut sambil menangis di depan Walikota.
 
Pertemuan ini sendiri dihadiri 20 orang Pedagang Kaki Lima pasar jongkok sebagai utusan. Pertemuan yang juga dihadiri oleh anggota DPRD Kota ini awalnya berlangsung tegang. Pasalnya sejumlah ibu-ibu sempat mengancam akan membuka baju mereka jika Walikota tidak mau menemui PKL.
 
Namun akhirnya setelah sorenya Pak Wali bersedia menemui rombongan pedagang pasar jongkok tersebut. Pertemuanpun digelar juga dalam keadaan tegang dan panik terutama ibu-ibu rumah tangga yang dengan keras menentang untuk relokasi.
 
Walikota Firdaus hanya mengucapkan kata-kata sabar kepada ibu-ibu yang menangis tersebut.”Sabar ibu-ibu sabar,”ucap Firdaus ditirukan seorang PKL pasar Jongkok Jefri kepada Tribun Jumat (31/5) kemarin.
 
Dari hasil pertemuan yang singkat ini, kembali menemui kebuntuan antara PKL dan Pemko. Namun ada sedikit jalan meskipun jalan yang ditawarkan Walikota dianggap hanya dalih saja.
 
“Pak Walikota bilang kami sementara berjualan di tempat itu dulu. Namun harus dilakukan rapat dengan pengurus agar mencari tempat yang baru yang menurut PKL layak,”ujar Jefri.
 
Walikota juga menjelaskan jika tempat berjualan PKL pasar jongkok saat ini tetap tidak bisa dipakai untuk berjualan oleh PKL. Walikota dengan tegas menyuruh PKL mencari tempat baru yang layak.
 
“Kata pak Wali kalau sudah dapat oleh pengurus baru dilaporkan ke Pak wali. Katanya dia mau bantu PKL,”ujar Jefri.
 
Meskipun ada tawaran dari Walikota untuk menyuruh mencari tempat layak yang baru bagi pedagang. Namun pedagang tetap pada keinginan awalnya yakni tetap bertahan karena mereka merasa tidak memilik kesalahan dan tidak ada melanggar ketentuan yang ada.
 
“Kita tetap ingin disitu, tempat lain juga tidak ada. Kalau pasar Purwodadi yang baru itu tidak layak, kalau mau cari tempat yang baru lagi juga tidak ada tempat,”ujar Jefri.
 
Jefri dan PKL lainnya juga berharap agar Pemko bisa menahan diri, karena tidak lama lagi bulan puasa dimomen inilah para PKL mendapatkan rezeki yang melimpah.
 
Para PKL ini juga menjelaskan kepada Walikota jika mereka sudah mematuhi segala aturan yang dibuat. Termasuk berjualan berjarak dua meter dari trotoar, dan melarang parkir di pinggir jalan.
 
“Kami tidak ada melanggar. Malah kami ikut melakukan penertiban. Jadi letak salah kami sehingga harus tetap dipindahkan itu apa,”ujar Jefri dan PKL lainnya kepada Tribun. (pekanbaru.tribunnews.com)