Haris Rusly Moti: Bangsa Tidak Memiliki Kepribadian Nasional

Senin, 03 Juni 2013 08:05
BERTUAHPOS, JAKARTA – Aktivis Petisi 28 Haris Rusly, menilai sejumlah amandemen terhadap UUD 1945 telah mengubah haluan negara Indonesia ke arah liberalisme. Budaya politik musyawarah mufakat yang menjadi karakter bangsa, menurutnya diubah menjadi persaingan bebas politik tanpa batas.
 
“Kita juga mengubah landasan kerjasama di bidang ekonomi menjadi berlandaskan pada persaingan bebas. Atau mengubah landasan filosofi kekeluargaan dalam hubungan sosial menjadi individualisme,” ujarnya dalam diskusi Aktual Forum di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Minggu (2/5/2013).
 
Harry menuturkan Presiden pertama RI, Soekarno yang juga pencetus Pancasila mencetuskan Tri Sakti, yaitu berdaulat di bidang politik untuk membangun kekuatan politik bangsa dalam menghadapi dominasi politik asing.
Kemudian,  berdikari di bidang ekonomi untuk mengakhiri eksploitasi ekonomi oleh penjajahan asing model baru, serta berkepribadian di bidang budaya untuk menghadapi penetrasi budaya bangsa asing yang menguasai cara pandang dan perilaku bangsa.
 
“Kini kenyataannya tidak ada lagi kedaulatan di bidang politik, kemandirian di bidang ekonomi. Kita seolah menjadi bangsa yang tidak memiliki kepribadian nasional,” kecam Haris.
 
Haris berharap saatnya bangsa Indonesia untuk kembali menjadikan Pancasila sebagai dasar negara. Menerapkan nilai-nilainya dalam berbangsa dan bernegara.
 
Ia menilai, peringatan hari pidato bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945 adalah momentum yang tepat untuk mengevaluasi landasan dan haluan negara yang menggunakan negara reformasi yang menyimpang dan menghianati nilai-nilai dasar pancasila. Sehingga mengembalikan pancasila di tempat yang sebenar-benarnya. “Ini momentum yang tepat untuk melakukan evaluasi,” tandasnya. (tribunnews.com)