Di Taman Nasional Tessanilo Ada Kebun Sawit

Sabtu, 14 September 2013 12:20
BERTUAHPOS, PEKANBARU – Ditemukan kebun sawit di kawasan konservasi dan kawasan perijinan HTI di kompleks blok Tessonilo. Luasnya tidak tanggung-tanggung, mencapai angka 52.266 ha. 15.819 ha diantaranya berada di kawasan Taman Nasional Tessonilo.
 
Hal itu terungkap dalam diskusi yang digelar oleh The Society of Indonesian Environment Journalis (SIEJ) wilayah Riau pada Sabtu (14/9/13) di kantor Balai Taman Nasional Tessonilo. Kumpulan wartawan peduli lingkungan itu bekerjasama dengan Strengthening Integrity and Accountable Program (SIAP) II dengan tujuan memberikan pemahaman bagi wartawan dan mahasiswa mengenai masalah pengelolaan hutan.
 
Menurut Juru Bicara Eyes of the Forest (EoF), Afdal Mahyuddin yang menjadi salah satu pembicara mengatakan bahwa kompleks blok Tessonilo seluas 167.618 ha terdiri dari kawasan hutan TNTN (83.068 ha), kawasan HTI PT Siak Raya Timber (38.560 ha) dan kawasan HTI PT Hutani Sola Lestari (45.990 ha).
 
Dari jumlah tersebut, tambahnya, 52.266 ha dikonversi menjadi kebun sawit. 15.819 ha merupakan kebun sawit yang sudah menghasilkan tandan buah segar dengan asumsi produksi 1,3 sampai 2 ton perhektar di setiap bulannya.
 
Menurutnya, sesuai dengan peraturan, kawasan konservasi Taman Nasional Tessonilo tidak boleh di babat dan lahannya diubah menjadi perkebunan. Kawasan HTI PT SRT dan PT HSL sesuai dengan ketentuan perijinannya, juga tidak bisa diubah menjadi perkebunan sawit.
 
“Ironisnya, TBS-TBS itu dijual para perambah ke perusahaan perkebunan berskala nasional yang beroperasi di Riau,” terang Afdal.
 
Sementara, Kepala Balai Taman Nasional Tessonilo, Kupin Simbolon yang menjadi pembicara juga mengatakan bahwa kondisi itu di picu dengan mudahnya kalangan umum masuk ke kawasan TNTN. Kondisi tersebut membuat pengawasan tidak maksimal.
 
“Kondisi tersebut membuat masih banyaknya illegal logging yang terjadi. Modusnya adalah adanya klaim kawasan hutan ulayat oleh berbagai batin masyarakat. Kemudian lahan itu di babat dan diambil kayunya dan lahannya dikonversi menjadi kebun sawit. Lahan itupun diperjual belikan,” terangnya
 
 
 
(riauterkini.com)