BERTUAHPOS.COM, PEKANBARU – Mantan Presiden Indonesia BJ. Habibie menilai setiap bangsa saat ini harus mengandalkan Sumber Daya Manusia (SDM) terbarukan, dengan daya saing besar dan tertip pada peraturan berlaku. “Serta mampu menghasilkan produk-produk yang nilainya terus bertambah,” katanya pada saat menjadi narasumber di acara ILC awal pekan lalu.
Diungkapkannya, ternyata Indonesia sebagai satu bangsa sejak berdirinya RI tidak merubah Undang-Undang Dasarnya (UUD). Karena UUD itu sudah termasuk di dalamnya hak asasi manusia. “Ada yang tanya kepada saya, Pak, kenapa negara kita bukan negara Islam, kenapa harus Pancasila? Saya bilang Pancasila itu sama dengan Islam, atau Pancasila itu sama dengan agama manapun. Karena tidak membedakan,” ungkapnya. Â
Oleh sebab itu, diungkapkannya, selayaknya rakyat Indonesia bersyukur bahwa pendiri bangsa ini telah memberikan dasar hukum konstitusi yang sangat canggih. Cuma diterjemahkan berbeda, berdasarkan ketetapan MPR.Â
Habibie menyontohkan dibidang ekonomi, yang membutuhkan prasarananya, salah satunya uang yang nilai kualitasnya harus selalu tinggi. Tapi apa yang dibuat oleh Presiden Indonesia pertama, dan dilanjutkan oleh presiden kedua, dibentuknya dewan moneter.
“Dewan moneter ini terdiri dari beberapa menteri yang penting. Saya sebut saja Ekonomi Keuangan, Perencanaan, Perdagangan dan Gubernur Bank Indonesia. Yang bener aja dong. Gubernur Bank Indonesia itu mencetak duit dan dia jual duit itu kepada siapa saja yang memenuhi syarat untuk membuka perusahaannya (bank). Kalau tidak memenuhi syarat, ya tidak boleh jual. Harus begitu,” ujar Habibie.
“Tapi saya sendiri mengalami bahwa itu (ada bank) yang tidak memenuhi syarat. Tapi, toh dilaksanakan. Kenapa? Karena Gubernur Bank Indonesia itu juga anggota dewan moneter dan adalah anggota kabinet dan bisa ditentukan oleh yang mengetuai kabinet tersebut. Disitulah terjadinya distorsi. Dan saya sering protes itu sama Pak Harto (Presiden RI kedua),” tuturnya.
Habibie bercerita protes yang dia layangkan kepada Presiden Soeharto ketika itu karena kebijakan-kebijakan dewan moneter sudah menyalahi peraturan perundang-undangan. Namun setiap kali melayangkan protes, Soeharto ketika itu hanya meminta Habibie untuk menghentikan sikap kritisnya.
“Udah deh, kamu mikirkan industri aja, teknologi dan sebagainya. Ini bukan soal kamu. Kalau saya ngotot sampai sudah tidak tahan lagi, Pak Harto bilang begini: Habibie, kamu berpendapat demikian. It’s ok. Kalau memang Allah menghendaki suatu hari kamu memimpin bangsa ini silahkan buat. Tapi sekarang saya yang memimpin,” Habibie bercerita.
“Saya bilang, oke. Pak Harto itu menurut penilaian saya adalah sosok yang sangat bijaksana dan pinter, bener. Kalau saya bersama dia, mungkin 10 persen waktu dia untuk bertanya. 90 persen saya yang menjelaskan. Jadi, memang Allah menghendaki. Sehingga tiba-tiba saya harus mengambil alih posisi Pak Harto sebagai Presiden RI.”
Saat dia menjadi presiden, Habibie benar-benar merombak kabinet pemerintahan Orde Baru dalam kurun waktu 10 jam setelah dia diangkat menjadi presiden. Dalam kabinet itu Habibie tidak lagi mengikutsertakan Bank Indonesia, termasuk tidak ada Jaksa Agung, sebab itu menurut Habibie tidak boleh.
Habibie berkeyakinan, yang memiliki kekuasaan itu adalah tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT. Tapi tuhan menciptakan menusia. Jadi dia serahkan keuasaan untuk mengurus manusia dan bangsa itu kepada manusia. Kemudian ada agama apa saja, itu begian dari inisiatif dari manusia itu sendiri. Dengan keyakinan itu dia membenarkan bahwa Pancasila itu adalah sesuatu yang canggih namun iplementasinya harus benar. (bpc3)









