• Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber
Minggu, November 1, 2026
SUBSCRIBE
BertuahPos
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi
No Result
View All Result
BertuahPos
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

Orang Bali Itu Tabur Jutaan Canang Saban Hari

Tim Redaksi by Tim Redaksi
12 Februari 2017
Share on FacebookShare on Twitter

BERTUAHPOS.COM (BPC), PEKANBARU – Canang adalah sesaji. Jutaan canang ini ditebar saban hari. Mereka menandai hidupnya dengan canang. Dan merasa cemas jika tidak menghaturkan canang.

Di Pulau Dewata itu belum ada penelitian yang signifikan tentang kebutuhan canang saban harinya. Tapi yang jelas, dari depan dan samping rumah terdapat benda ini, selain tempat-tempat tertentu.

Itu belum kalau sedang ada rerahinan, seperti Kajeng Kliwon, Purnama, dan Tilem. Juga kalau menjelang hari raya, seperti Galungan, Kuningan, dan Saraswati? Tak terhitung banyaknya kebutuhan akan canang.

“Kalau lagi ada haru raya, jumlah yang terjual bisa dua sampai tiga kali lipat,” tutur Putu Suriantini (20), penjual canang di Pasar Badung.

Pada hari-hari biasa, Putu butuh waktu hanya dua sampai tiga jam untuk menghabiskan 1.200 canang yang dijualnya. Gampang? Begitulah.

Ungkapan laris seperti kacang goreng yang lazim dipergunakan, boleh jadi sudah bisa diganti dengan laris seperti canang buat menunjukkan betapa cepatnya suatu produk terjual. Ini pula yang memicu kian maraknya dagang canang bermunculan.

Di Denpasar, sekitar dasawarsa 1980-an dagang canang nongol di terminal Suci, di sepanjang Jalan Hasanudin dan sekitar Banjar Pamedilan. Itu pun hanya pada rerahinan tertentu, seperi Purnama dan Tilem, bersamaan dengan ramainya warga Kota Denpasar mabakti ke Pura Jagatnatha —yang cuma beberapa meter dari Jalan Hasanudin.

“Tiang (saya) yang pertama menjual canang di Suci ini,” ungkap Nyoman Murni (48) yang hingga kini setiap hari masih menggelar dagangannya di Jalan ini.  

Ada kebanggaan terbersit di wajah Nyoman yang polos. Namun cuma sejenak, ia buru-buru melenguh. “Kini dagang canang mabrarakan (bertaburan), bilang bucu (di setiap tempat).”
 
“Dulu di Pasar Ketapian ini cuma tiang yang jual canang. Sekarang sudah berderet. Mau bagaimana, semua orang merasa seduk (lapar). Mereka ingin juga mencoba mencari makan dengan ngadep (menjual) canang,” tutur Made Roni (52) yang mengaku sudah enam tahun tinggal di Ketapian.

Sejak sepuluh tahun terakhir, Denpasar memang bertaburan pedagang canang. Saban hari, denyut pedagang canang sepertinya berpacu kencang dengan denyut kehidupan manusia Bali di Denpasar.

Dari pukul 05.00 pagi hingga 23.00 malam di Pasar Kreneng, misalnya, tak kurang dari 30-an pedagang canang berderet. Bila menjelang Purnama atau Tilem, mulai pukul 21.00 di Pasar Badung 50-an pedagang canang terlihat menggelar canang.

Mereka berasal dari Abian Semal, Sangeh, Sibang, Mengwi –kini masuk wilayah Badung— termasuk beberapa di antaranya yang tinggal di sekitar Kodya Denpasar. Itu hanya yang berjualan di pinggir jalan atau pintu pasar. Artinya, belum termasuk yang nyelip-nyelip di tengah pasar.

Begitu pula di sekitar Pura Jagatnatha lebih dari 30-an pedagang canang dadakan menggelar dagangannya bila hari Purnama atau pun Tilem. Belum lagi di Pasar Sanglah, di depan Pura Suci di Jalan Hasanudin, Pasar Pemedilan, dan lain-lainnya.

Pedagang canang ini bahkan juga menular sampai ke kota-kota lainnya di luar Denpasar dan Badung. Canang, kini, memang sudah menjadi ‘mata dagangan’, layaknya ukiran Bali.

Yang membedakan, jika ukiran Bali dibeli orang luar, canang dibeli orang Bali sendiri. “Makin banyak wanita Bali yang mengejar karir di sektor jasa modern menjadikan dagang canang makin marak,” kata penulis buku tentang sesajen Bali, Ida Ayu Putu Surayin.

Menurutnya, canang kini tidak dibuat, tapi dibeli. Itu karena wanita Bali yang sibuk mengejar karier di berbagai profesi memilih yang praktis-praktis saja. Lebih memilih membeli canang ketimbang membuatnya. (rai/jss)

Share3Tweet2Send
Follow Berita BertuahPos di Google News

Tim Redaksi

Tim Redaksi


Diterbitkan oleh PT Citra Media Bertuah. Kirim informasi di sekitar Anda ke 0852 7260 5868 - redaksi@bertuahpos.com

Berita Terkait

Berita Kuansing

Nenek 75 Tahun Digigit Buaya Saat Cuci Piring di Sungai Kuantan, Luka Korban Dijahit 20 Jahitan

...

Read moreDetails
5 Tempat Makan di Pekanbaru yang Populer dan Enak, Harganya Terjangkau

5 Tempat Makan di Pekanbaru yang Populer dan Enak, Harganya Terjangkau

Tak Hanya Cantik, Inilah 5 Manfaat Bunga Krisan untuk Kesehatan

Tak Hanya Cantik, Inilah 5 Manfaat Bunga Krisan untuk Kesehatan

iQoo Z11S Bawa Baterai Raksasa dan Android 16, Segini Harganya

iQoo Z11S Bawa Baterai Raksasa dan Android 16, Segini Harganya

Rekomendasi Skincare Wardah untuk Mengatasi Flek Hitam, Wajah Auto Glowing

Rekomendasi Skincare Wardah untuk Mengatasi Flek Hitam, Wajah Auto Glowing

Sandiaga Uno didesak mundir dari gerindra

Sandiaga Uno Borong 9,5 Juta Saham MUTU Senilai Rp999 Juta

Next Post

Beredar Surat ASITA Suruh 'Boikot' Garuda Indonesia

Show Transparency Report
  • Profil
  • Redaksi
  • Suara Anda
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Contact Us
  • Pedoman Media Siber

© 2013-2025 BertuahPos.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
  • Ekonomi
  • Hukum Kriminal
  • Lingkungan
  • Islampedia
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Teknologi

© 2013-2025 BertuahPos.com.