BERTUAHPOS.COM (BPC), PEKANBARU – Peringatan Hari Anti Korupsi Internasional (HAKI) di Riau kini ramai diperbincangkan. Ada banyak persepsi yang muncul di tengah masyarakat, terutama soal kasus korupsi yang pernah menyeret pejabat Riau ke jeruji besi.
“Yang perlu diingat oleh pemerintah, HAKI bukan ajang untuk gagah-gagahan,” ujar Reni, salah sorang pegawai di Perusahaan Swasta di Pekanbaru, Selasa (06/12/2016).
Menurut pandangannya, yang perlu menjadi perhatian pemerintah Riau saat ini, untuk mendidik mental pejabat dan pegawai dalam menjalankan pelayanan publik. Misalnya ada tarif terselubung dalam mengurus surat menyurat.
Masalah seperti ini, menurut Reni sudah menjadi rahasia umum. Dan bisa ditemukan dihampir setiap instansi pemerintah. Bukan karena pendidikan masyarakat yang lemah, melainkan sudah menjadi budaya yang diciptakan secara masif sejak dulunya.
“Kalau tidak bayar urusan tidak beres. Masyarakat yang tidak tahu, tentu dia bayar, setelah itu urusan beres. Selanjutnya, pemahaman masyarakat, ya, seperti itu. Bayar dulu baru beres urusan. Kan budaya seperti oknum pelayanan publik yang ciptakan,” tambahnya.
Hal senada juga diutarakan oleh Gesti, seorang guru Sekolah Dasar di Pekanbaru. Dia sepakat pelaksanaan HAKI di Riau harus jadi sarana pendidikan bagi anak. Penyadaran untuk tidak melakukan korupsi, harus dilakukan sejak dini, agar sikap jujur menjadi modal utama bagi anak-anak.
“Perang korupsi tidak cukup hanya sebatas pemerintah saja yang laksanakan, tapi juga harus digerakkan oleh orang tua dan lingkungan sekitar,” tambahnya. #HAKI
Penulis: Dilla








