BERTUAHPOS.COM — J&T Cargo memperketat pengiriman paket menjelang lonjakan arus barang akhir tahun 2026, khususnya untuk barang berbahaya (dangerous goods) dan barang terlarang (prohibited items).
Network Training SPV J&T Cargo Indonesia, Danu Permadi, mengatakan langkah ini diambil agar proses pengiriman berjalan aman, lancar, dan tepat waktu di tengah padatnya lalu lintas logistik nasional. Keselamatan operasional pada periode ramai akhir tahun memerlukan kerja sama semua pihak.
“Keselamatan pengiriman dimulai dari ketepatan informasi yang diberikan pengirim dan penanganan yang sesuai di setiap tahapan lapangan. Menjelang lonjakan pengiriman akhir tahun, transparansi dari pelanggan sangat krusial,” ujarnya dalam keterangan tertulis.
Menurut Danu, isi kiriman yang diinformasikan benar sejak awal memungkinkan potensi risiko diantisipasi lebih cepat. Langkah itu mencegah kerugian bagi armada pengangkut maupun paket milik pelanggan lain.
Dalam operasional harian, J&T Cargo menerapkan prosedur ketat mengidentifikasi kiriman bermasalah. Petugas lapangan dilatih peka terhadap tanda khusus pada kemasan, seperti label bahaya, kebocoran cairan, bau menyengat, munculnya asap, panas tidak wajar, suara mendesis, atau dus rusak.
Jika ditemukan indikasi barang berbahaya yang tidak dilaporkan, proses operasional paket tersebut langsung dihentikan. Tim kemudian melakukan pelaporan dan penanganan khusus sesuai prosedur baku agar barang bermasalah tidak terproses seperti paket biasa.
J&T Cargo membedakan dua kategori yang menjadi perhatian utama. Barang terlarang sama sekali tidak dapat diterima karena melanggar hukum atau kebijakan pengiriman, sedangkan barang berbahaya memiliki risiko keselamatan jika tidak ditangani dengan benar.
Kategori barang berbahaya mencakup bahan mudah meledak, gas, cairan mudah terbakar, bahan kimia korosif, zat beracun, hingga perangkat B2B yang mengandung baterai tertentu. Ketentuan penanganannya bisa berbeda tergantung jenis barang, moda transportasi, hingga jalur pengiriman darat atau udara.
Perusahaan mengimbau pelanggan bisnis maupun individu tidak menyamarkan isi kiriman atau memberikan informasi yang tidak sesuai.
“Ketika isi kiriman diinfokan dengan benar sejak awal, potensi risiko bisa diantisipasi lebih cepat sehingga tidak merugikan armada pengangkut maupun paket milik pelanggan lainnya,” kata Danu.*



