BERTUAHPOS.COM – Kabar membanggakan datang dari Provinsi Riau. Hari Novar, pemuda asal Riau, menerima apresiasi 17th SATU Indonesia Awards 2026 kategori Pendidikan yang diselenggarakan oleh PT Astra International Tbk. Apresiasi ini diberikan atas konsistensinya mengembangkan IYES Mengajar, sebuah gerakan pendidikan yang berupaya memperluas akses dan memperkuat ekosistem pendidikan di wilayah pelosok.
Penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas perjalanan panjang gerakan yang telah dimulai sejak 2015. Bersama IYES Foundation, Hari mengembangkan IYES Mengajar sebagai ruang partisipasi anak muda untuk mengambil peran dalam menjawab tantangan pendidikan, khususnya di wilayah terpencil dan daerah dengan keterbatasan akses layanan pendidikan.
Bagi Hari, persoalan pendidikan di pelosok tidak cukup diselesaikan hanya dengan menghadirkan relawan untuk mengajar. Anak-anak membutuhkan lingkungan belajar yang layak, guru yang memiliki kapasitas untuk mendampingi proses pembelajaran, serta masyarakat yang memiliki kepedulian dan kemampuan untuk menjaga keberlanjutan pendidikan.
Atas dasar itu, IYES Mengajar dikembangkan dengan pendekatan penguatan ekosistem pendidikan. “Upaya tersebut mencakup perbaikan dan renovasi fasilitas sekolah, penguatan kapasitas guru, pendampingan pembelajaran bagi siswa, serta pelibatan masyarakat agar memiliki peran lebih besar dalam mendukung pendidikan di lingkungannya,” ujarnya.
Sepuluh Tahun Menjangkau Pelosok Riau
Sejak pertama kali dilaksanakan pada 2015, IYES Mengajar telah melalui perjalanan selama satu dekade. Dalam kurun waktu tersebut, program ini telah melaksanakan sepuluh angkatan kegiatan pada periode 2015–2025 dengan melibatkan sekitar 167 relawan dan berkolaborasi dengan sekitar 63 mitra.
Berdasarkan rekapitulasi capaian program, IYES Mengajar telah menjangkau 10 sekolah, terdiri atas sembilan sekolah dasar dan satu sekolah menengah atas, serta mencatat sekitar 3.100 penerima manfaat tidak langsung. Program ini juga telah menjangkau lima kabupaten di Riau hingga 2025.
Perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa gerakan kerelawanan anak muda dapat berkembang menjadi upaya kolaboratif yang lebih luas. Tidak hanya melibatkan relawan, tetapi juga guru, sekolah, masyarakat, pemerintah, dan berbagai mitra yang memiliki perhatian terhadap masa depan pendidikan.
Salah satu pengalaman yang menjadi bagian dari perjalanan IYES Mengajar #3 ketiga pada tahun 2017 adalah ketika relawan menjangkau komunitas Suku Talang Mamak yang belum berlistrik. Untuk mencapai lokasi tersebut, relawan harus menempuh perjalanan menggunakan perahu selama kurang lebih empat jam.
Pengalaman di lapangan menjadi pengingat bahwa setiap wilayah memiliki tantangan pendidikan yang berbeda. Karena itu, pendekatan program tidak bisa diseragamkan, melainkan perlu memahami kondisi geografis, sosial, dan kebutuhan masyarakat setempat.
Membangun Perubahan Melalui Kolaborasi
Dalam perjalanannya di Provinsi Riau, IYES Foundation melalui IYES Mengajar tidak berjalan sendiri. Gerakan ini tumbuh melalui dukungan dan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, sektor swasta, akademisi, komunitas, hingga masyarakat di wilayah dampingan.
Salah satu kolaborasi penting dibangun bersama Pemerintah Provinsi Riau, khususnya melalui Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Riau dan Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Diskominfotik) Provinsi Riau. Keterlibatan pemerintah menjadi bagian penting dalam memperkuat sinergi, membuka ruang koordinasi, serta mendorong agar inisiatif kepemudaan dan gerakan pendidikan dapat terhubung dengan agenda pembangunan daerah.
Bagi IYES Foundation, kolaborasi lintas sektor merupakan bagian mendasar dari upaya menciptakan perubahan yang berkelanjutan. Organisasi masyarakat sipil, pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat memiliki peran yang saling melengkapi dalam menjawab tantangan pendidikan.
Pendekatan ini juga menjadi keyakinan yang terus dibangun melalui IYES Mengajar: bahwa pendidikan bukan hanya tanggung jawab sekolah atau satu organisasi, melainkan tanggung jawab bersama. Dengan keterlibatan berbagai pihak, upaya menghadirkan akses pendidikan yang lebih baik bagi anak-anak di pelosok diharapkan dapat terus berlanjut, bahkan setelah program dan kegiatan relawan selesai dilaksanakan.
Melanjutkan Gerakan Melalui IYES Mengajar ke-11
Komitmen tersebut terus dilanjutkan. Pada 8–15 November 2026, IYES Foundation merencanakan pelaksanaan IYES Mengajar angkatan ke-11 di Desa Concong Dalam, Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau. Pelaksanaan ini menjadi bagian dari upaya memperluas jangkauan gerakan sekaligus memperkuat pendekatan yang telah dikembangkan selama sepuluh tahun terakhir.
Bagi Hari, penghargaan SATU Indonesia Awards 2026 bukanlah titik akhir perjalanan. Justru, apresiasi ini diharapkan dapat membuka ruang kolaborasi yang lebih luas, mempertemukan lebih banyak pihak, serta meningkatkan perhatian terhadap tantangan pendidikan di wilayah pelosok Riau.
Ia berharap anak-anak yang tinggal jauh dari pusat perkotaan tetap memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, mengembangkan potensi, dan menentukan masa depan mereka. Sebab, keterbatasan geografis seharusnya tidak menjadi batas bagi anak-anak untuk memiliki cita-cita dan memperoleh pendidikan yang lebih baik.***




