BERTUAHPOS.COM — Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah mendistribusikan sekitar 5,3 juta masker ke berbagai wilayah di Indonesia sebagai langkah pencegahan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Langkah ini diambil seiring meningkatnya konsentrasi partikel udara halus PM2.5 di sejumlah daerah, terutama Kalimantan.
Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono menyampaikan hal itu usai menghadiri agenda Update PHTC/Program Prioritas serta Capaian dan Transformasi Layanan Kesehatan Nasional di Kantor Bakom RI, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu. Ia menjelaskan pemerintah memantau kualitas udara di wilayah terdampak karhutla menggunakan alat pengukur partikel PM2.5.
“Kita coba pantau dengan menggunakan PM 2.5 atau partikel meter 2.5. Kita punya alatnya untuk mengukur dan memang paling besar itu ada di daerah Kalimantan,” kata Dante.
Ia menyebut distribusi masker dilakukan sebagai upaya mencegah lonjakan kasus ISPA akibat iritasi saluran pernapasan dari paparan partikel halus tersebut.
“Sudah dibagikan sekitar 5,3 juta masker di seluruh Indonesia untuk mencegah supaya tidak terjadi kasus infeksi pernapasan akut akibat iritasi dari partikel 2.5 tadi,” ujarnya.
Dante memastikan pemerintah terus memantau kondisi kesehatan masyarakat di wilayah terdampak kabut asap. Hingga saat ini, Kemenkes belum menemukan kasus berat yang secara langsung terkait dengan paparan kabut asap karhutla.
“Sementara ini belum ditemukan kasus yang berat akibat paparan kabut asap ini, tapi kita tetap terus waspada,” katanya.
Meski belum ada kasus berat, Kemenkes tetap meminta masyarakat meningkatkan perlindungan diri selama kualitas udara memburuk. Dante mengimbau warga mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker saat harus beraktivitas di luar rumah.
“Kita terus bagikan ke masyarakat dan melakukan edukasi untuk tetap berada di dalam ruangan. Kalau keluar ruangan, itu memakai masker dan kita sudah bagikan 5,3 juta masker di seluruh Indonesia,” tuturnya.
Kalimantan menjadi salah satu fokus pemantauan karena memiliki tingkat konsentrasi PM2.5 tertinggi akibat karhutla. Paparan partikel halus itu dinilai berisiko mengiritasi saluran pernapasan dan meningkatkan potensi gangguan kesehatan bagi warga di wilayah terdampak.
Kemenkes juga mendorong masyarakat untuk terus memantau perkembangan kualitas udara dan membatasi paparan asap, khususnya saat konsentrasi PM2.5 meningkat.









