BERTUAHPOS.COM — Toyota dan BYD memperkuat kapasitas manufaktur kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di Indonesia untuk mengejar target tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sebesar 60% yang mulai berlaku pada 2027.
Langkah ini ditempuh di tengah pertumbuhan penjualan mobil listrik berbasis baterai (battery electric vehicle/BEV) yang melesat 97,6% sepanjang Januari–Agustus 2026.
Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Kukuh Kumara mengimbau seluruh agen pemegang merek (APM) kendaraan listrik untuk menyiapkan fasilitas produksi di dalam negeri.
Dia menegaskan produsen yang mengikuti program insentif pemerintah hingga 2025 sejatinya sudah mengetahui persyaratan dan tahapan peningkatan TKDN sejak awal.
“Jadi anggota itu kan pada waktu mereka mau ikut program insentif, kan ada persyaratannya. Kalau Anda masuk ke sini, syaratnya ada, dan mereka sudah tahu semua,” kata Kukuh.
Meski demikian, Kukuh mengakui pelaksanaan rencana bisnis produsen tidak selalu sejalan dengan proyeksi awal. Keterbatasan volume penjualan menjadi salah satu kendala utama, terutama bagi merek EV yang baru memasuki pasar Indonesia.
“Kalau mau masuk itu kan, berdasarkan aturan yang ada, memang itu berat ya. Kalau tahun depan, ya Anda harus ikut yang TKDN 60%, gitu kan. Itu yang memang menjadi banyak pertanyaan,” jelasnya.
Persaingan di pasar EV Tanah Air kian ramai seiring masuknya sejumlah merek baru sepanjang 2026, seperti BAW, Changan, iCar, Leapmotor, Solarky, dan Zeekr, yang melakukan debut dalam Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 pada Agustus. Di segmen komersial, Farizon dan SAG turut meramaikan pasar.
Sejumlah produsen asal China juga mulai membangun fasilitas manufaktur di dalam negeri. BYD mengembangkan pabrik di Subang, Jawa Barat, dengan kapasitas produksi 150.000 unit per tahun dan nilai investasi sekitar Rp16 triliun, sementara Wuling telah lebih dulu beroperasi di Cikarang.
Dari sisi produsen Jepang, PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) masih mengevaluasi kesiapan fasilitas manufakturnya. Wakil Presiden Direktur TMMIN I Nyoman Winaya menyebut perusahaan tengah mengkaji berbagai aspek produksi sembari berkoordinasi dengan pemerintah dan pemangku kepentingan terkait.
“Kami masih terus melakukan kajian terkait target tersebut, termasuk berdiskusi dengan pemerintah dan pemangku kepentingan yang lain, serta melihat kesiapan dan berbagai aspek yang diperlukan untuk dapat memenuhinya,” ujar Nyoman.
Saat ini Toyota merakit mobil listrik bZ4X di pabrik Karawang, Jawa Barat, dengan TKDN sebesar 40% dan baterai lithium-ion berkapasitas 73,1 kWh, mengacu data situs Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) Kementerian Perindustrian.
Toyota menjual bZ4X hasil produksi lokal mulai Rp799 juta, lebih murah dibandingkan versi impor utuh (completely built up/CBU) dari Jepang yang mencapai Rp1,2 miliar.
Untuk memperkuat kandungan lokal, TMMIN menjalin kerja sama dengan produsen baterai asal China, Contemporary Amperex Technology Co. Ltd. (CATL), serta menyiapkan investasi senilai Rp1,3 triliun untuk mengembangkan ekosistem rantai pasok baterai dari hulu ke hilir.
Nyoman mengatakan detail implementasi kerja sama dengan CATL, termasuk penerapannya pada produk Toyota, akan disampaikan pada waktu yang tepat.
“Seperti yang telah diumumkan sebelumnya, Toyota memang memiliki kerja sama dengan CATL. Untuk detail mengenai implementasi kerja sama tersebut, termasuk penggunaannya pada produk Toyota, akan kami informasikan lebih lanjut pada waktu yang tepat,” pungkasnya.









