Ini Dia Jenis Akik Penangkal Racun

Jumat, 13 Januari 2017 23:19 381

BERTUAHPOS.COM (BPC) - Batu Ametis di Indonesia terkenal dengan nama Batu Kecubung Kasihan (asihan) yang warnanya ungu. Nama Ametis berasal dari bahasa Junani ‘Amethistos’ yang artinya ‘penjaga mabok arak’.

Batu ini dipercaya sebagian orang memberi kesejukan. Mampu mengendalikan amarah dan menentramkam batin. Itu pula, mungkin, kalangan alim ulama senang dengan dengan batu ini.

Sebenarnya tidak semua batu Kecubung Kasihan itu berwarna ungu (lembayung). Ada pula yang berwarna ungu muda, ungu semu merah, semu biru dan ungu tua, bahkan ada yang nyaris hitam.

Batu ini jika dipanaskan di dalam pasir atau tanah lempung, lambat laun warnanya akan berubah menjadi kuning emas. Apabila batu yang sudah menjadi kuning emas itu digosok, biasanya ditawarkan sebagai batu Citrien (Sitrin) dengan nama Kinyang Cempaka. Sebab batu Sitrin yang tulen asalnya dari batu kwarsa yang kuning emas.

Orang suka mencampurkan batu Sitrin dengan Ametis, terutama di Br-ika dan Uruguay. Perbedaan antara batu Sitrin palsu atau buatan (asal dari Ametis yang berubah warna) dengan Sitri tulen terletak pada warnanya. Sitrin buatan kilaunya kusam, sedang Sitrin tulen kilaunya hidup.

Batu Ametis ungu tua disebut Kecubung Duwet (buah duwet memang berwarna ungu tua) dan katanya disukai oleh alim-ulama, kaum yang beribadah. Itu karena warnanya melambangkan langit bersifat ‘welas asih’ (kasih sayang dan mahakuasa, sebab letaknya di atas bumi).

Batu Ametis ini banyak sekali. Untuk itu, sesungguhnya tak perlu orang memalsunya. Namun kadang-kadang orang masih menemukan batu Ametis tiruan yang berasal dari Tiongkok.

Batu ini sudah dikerjakan dengan baik dan diikat dengan perak, lalu dijual sebagai batu Ametis Tiongkok. Padahal tidak ada jenis batu seperti itu. Yang ditawarkan itu sebenarnya adalah batu Kalsedon (Calcedoon) ungu. Dan batu Kalsedon bukan batu Ametis, walaupun termasuk dalam satu keluarga Kwarsa.

Ada pula jenis batu yang dinamakan Ametis Oriental. Sebenarnya batu ini adalah purple sapphire atau batu safir ungu.

Ametis itu maknanya ‘penjaga mabok arak’. Ini berasal dari dongeng yang dikarang pujangga Aristoteles sebagai berikut: Seorang bidadari yang cantik jelita telah dirindukan Dewa Bacchus, ialah dewa yang melindungi pemabuk-pemabuk anggur yang parasnya buruk tidak menarik hati kaum wanita.

Setelah bidadari itu dikejar-kejar, maka dalam keputus-asaan, bidadari itu minta pertolongan Dewa Diana, pelindung kaum wanita dan kesucian.

Dengan kesaktian Dewi Diana, bidadari itu disulap menjadi batu yang indah pada saat nyaris disergap Dewa Bacchus.
Dewa pemabuk ini merasa cemas karena kasih tak sampai, maka ia menyemburkan warna ungu pada bidadari yang disulap menjadi arca itu.

Warna ungu ini menyerupai warna anggur dan sejak waktu itu batu itu tetap menjadi batu yang diberi nama Ametis. Dan siapa saja yang memakai batu cincin Ametis ini terhindar dari bahaya mabuk anggur.

Pada zaman Italia kuno, bangsa Romawi dari golongan bangsawan yang kaya raya membuat cawan-cawan anggur dari batu Ametis. Ini bukan didasarkan kepercayaan tak bisa mabuk, akan tetapi untuk mencegah racun yang sewaktu-waktu bisa menyelinap dalam cawan itu.

Di Indonesia ada juga batu Ametis. Itu terdapat di Gunung Paget di Samarinda (Kalimantan Timur). Di pinggir gunung itu terdapat gua yang berdinding batu Ametis. Asal nama Kecubung ini sebenarnya adalah jalinan pikiran dengan sejenis bunga kecubung yang berwarna kemerah-merahan muda atau ungu. Tetapi ada pula jenis batu Kecubung yang hijau seperti daun bunga-bungaan tadi.

Hampir di seluruh tempat di Kalimantan terdapat batu kecubung. Tetapi terbanyak terpendam dalam tanah di daerah Kotawaringin Barat (Kalimantan Tengah), Kotawaringin lama, Kecamatan-kecamatan Balai Riam (Lamandau).

Banyak manfaat yang terdapat di batu Kecubung Asihan. Sesuai dengan namanya, maka batu ini menimbulkan rasa kasih sayang, mengendalikan amarah dan penyebar bibit budi pekerti yang mulia. Selain diyakini mampu menjaga ketenangan menghadapi cobaan maupun ujian.

Selain itu juga sebagai pelindung agar tidak terkena racun atau mencegah dari rasa mabuk. Selain dipercaya mampu memberi semangat mengatasi segala macam kesulitan.

Batu Ametis seperti ini banyak dipakai oleh para alim ulama, karena sifatnya yang begitu bagus. Orang luar Indonesia mengenalnya dengan menyebut “the bishop’s stone” (Batu Alim Ulama). (sul/jss)

loading...
TRAVELLING

Berita Terkini

Ridho Rhoma Irama Mati Jika Konsumsi 1 Gram Sabu Saban Hari
Selasa, 28 Maret 2017 13:06

Ridho Rhoma Irama Mati Jika Konsumsi 1 Gram Sabu Saban Hari

Ada kesangsian dari Badan Narkotika Nasional (BNN) terhadap pengakuan Ridho Rhoma Irama. Penyanyi dangdut itu mengaku, bahwa dia memakai sabu dengan rutin sejak 6 bulan lalu.

Triwulan I Pajak Nomor Kendaraan Bermotor di Riau Belum Capai Target
Selasa, 28 Maret 2017 12:56

Triwulan I Pajak Nomor Kendaraan Bermotor di Riau Belum Capai Target

Triwulan I/2017, Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Provinsi Riau, masih kejar target untuk Bea Pajak Nomor Kendaraan Bermotor (BPNKB).

Berapa Banyak Umat Hindu di Provinsi Riau? Ini Jumlahnya
Selasa, 28 Maret 2017 12:46

Berapa Banyak Umat Hindu di Provinsi Riau? Ini Jumlahnya

Jumlah umat hindu di Provinsi Riau ternyata cukup banyak. Diketahui jumlahnya berkisar 980 KK yang terdata atau di perkirakan sekitar 2000 jiwa.

Hii, Puluhan Bayi Perempuan Dibunuh, Ada yang Dikubur Hidup-Hidup
Selasa, 28 Maret 2017 12:34

Hii, Puluhan Bayi Perempuan Dibunuh, Ada yang Dikubur Hidup-Hidup

Pembunuhan janin perempuan marak di India. Para ibu yang menginginkan anak laki-laki, menggugurkan kandungannya setelah tahu bayi yang dikandungnya berjenis kelamin perempuan.

Pondok Ikan Bakar Ini Cocok Dikunjungi Pasca Libur Nyepi
Selasa, 28 Maret 2017 12:23

Pondok Ikan Bakar Ini Cocok Dikunjungi Pasca Libur Nyepi

Selasa (28/3/17), merupakan Hari Libur Nasional pasca Nyepi. Untuk menikmati liburan kali ini kita bisa singgah ke salah satu pondok makan, yang berada di pinggir Jalan Lintas Perawang Siak.

Nyepi, Radio dan Tivi Off di Bali
Selasa, 28 Maret 2017 11:52

Nyepi, Radio dan Tivi Off di Bali

Suasana Hari Raya Nyepi benar-benar terasa di Bali. Umat Hindu di Bali hari ini merayakan Hari Raya Nyepi dengan tidak boleh ada kegiatan apapun.

Astaga! Korban Demam Berdarah Pekanbaru Melonjak 186 Kasus
Selasa, 28 Maret 2017 11:42

Astaga! Korban Demam Berdarah Pekanbaru Melonjak 186 Kasus

Dinas Kesehatan (Diskes) Pekanbaru mencatat korban demam berdarah dengue (DBD) terus bertambah.

Hari Raya Nyepi, Jalan Sudirman Ikut Nyepi
Selasa, 28 Maret 2017 11:32

Hari Raya Nyepi, Jalan Sudirman Ikut Nyepi

Hari Libur Nasional Selasa (28/3/2017), terlihat beberapa ruas jalan lengang. Tak lantas tampak di sepanjang Jalan Sudirman sebagai jalan protokol ini juga sepi.

Mumi Usia 500 Tahun Ditemukan di Makam Kuno China
Selasa, 28 Maret 2017 11:22

Mumi Usia 500 Tahun Ditemukan di Makam Kuno China

Mumi dari Dinasti Ming ditemukan di China. Penemuan ini tak sengaja. Pemasangan pipa saluran air yang dilakukan tim konstruksi ternyata menggali sebuah makam kuno.

Tertangkap Bawa Kayu Ilegal ke Malaysia, Ini Langkah Berikutnya
Selasa, 28 Maret 2017 11:15

Tertangkap Bawa Kayu Ilegal ke Malaysia, Ini Langkah Berikutnya

Dua orang tersangka membawa kayu ilegal loging di Perairan Meranti diamankan Dit Polair Polda Riau.