Dollar Tabrak Rupiah

Selasa, 08 September 2015 11:53 1183
Dollar Tabrak Rupiah
Djoko Suud Sukahar

EKONOMI negara gonjang-ganjing. Dalam pagelaran wayang, ini bak gunungan wayang saat diangkat Ki Dalang ke angkasa. Kondisinya oleng dan bergetar kencang. Belum jelas akhir dari semuanya. Kembali bajeg (tegak), miring, atau justru rebah ke tanah. Nasib Jokowi?

Kurs dolar Amerika menggila. Terus fluktuatif bertengger di angka Rp 14 ribu. Ini dituding pangkal ‘gunungan’ goncang. Dan devaluasi Yuan China dianggap sebagai akar keresahan dunia. Situasi ini menyulut ketidak-pastian melingkupi segalanya.

Nilai tukar mata uang Amerika itu diprediksi masih akan menaik. Ada banyak pihak yang berasumsi, jika kurs ini menyentuh angka Rp 16 ribu Jokowi akan tumbang. Prosesinya bisa lewat demo rakyat yang kemarin marak di Malaysia. Atau ‘pasrah’ akibat tekanan berbagai pihak.

Saya masih berkeyakinan itu tidak bakal terjadi. Selain berbagai upaya yang dilakukan Kabinet Kerja akan mampu mengerem laju penurunan rupiah, kedua, rakyat masih percaya Jokowi adalah presiden baik. Pembangunan infrastruktur di berbagI daerah terlihat nyata. Dan ini memberi pemahaman rakyat, bahwa Jokowi memang benar-benar bekerja.

Secara natural, kenaikan dollar sebenarnya sudah diprediksi jauh-jauh hari. Awam saja paham itu. Impor tinggi tidak diikuti ekspor setara, maka mata uang rupiah pasti akan jatuh. Dan kalau impor itu menggila, maka tinggal menunggu waktu rupiah untuk runtuh.

Akselerasi impor itu menajam sejak pemerintahan SBY. Tidak hanya barang elektronik, tetapi juga pangan dan sandang. Dari susu, daging, buah, gula, gandum, garam, jagung, beras, kedelai, tekstil sampai benih didatangkan dari luar, termasuk saprotan. Saat itulah benih padi hibrida menghapus benih lokal yang ketangguhannya sudah teruji ratusan tahun silam.

Tekstil China yang mendominasi sebelum perdagangan bebas Asean-China kian menggurita ketika perjanjian itu berlaku efektif. Ratusan pabrik garmen negeri ini terpaksa tutup, dan sisanya, produk lokal yang sebelumnya merajai Pasar Tanah Abang berpindah ke Tegal Gubuk, Indramayu.

Ini kian masif ketika jalur distribusi juga ‘diserahkan’ pada asing. Gerai dibuka di seluruh negeri mematikan pasar-pasar tradisional, maka suratan Jangka Jayabaya, ‘pasar ilang kumandangane, kedung ilng sumbere’, terjadilah. Pasar tradisional kehilangan gema karena tidak ada lagi yang belanja. Dan rakyat yang semula bisa memasarkan produk kebun dan ladangnya untuk menambal hidup kehilangan pencarian itu. Mati sudah !

Importasi yang tinggi itu tidak dibarengi regulasi pro petani. Mereka dibiarkan sendiri melawan negara (importir) yang harganya kompetitif. Demi murah dan pembenaran pasar global, pemerintah abai terhadap rakyatnya. Ironi  ‘tragedi Kediri’ pun terjadi. Ada petani dipenjarakan perusahaan asing hanya gara-gara menemukan benih jagung yang ditangkar dan ditanam di lahannya sendiri.

Menjadi rakyat di ‘negeri terjajah’ yang dilakukan bangsanya sendiri amatlah dilematis. Hanya karena harus mempertahankan hidup,  maka rakyat beralih profesi. Kuli, karyawan pabrik, TKI dan entah apalagi adalah profesi baru itu. Tani dilupakan. Irigasi diindahkan. Waduk menjadi asing. Dan di dapur pun kini ‘aksesorisnya’ bukanlah poduk dari hasil bercocok-tanam sendiri.

Mbok-mbok di desa pelosok dan tidak tahu peta pun telah akrab dengan barang-barang yang dikonsumsi berasal dari negara lain. Mulai garam dari India, gula dari Thailand, beras dari Vietnam, jagung dari Venezuela, kedelai dari Amerika, pisang dari Brasil, pepaya dari Bangkok, ketela pohon dari Italia, dan seabreg benih sayuran diimpor dari China.

Dan dampak ikutannya lebih payah lagi. Petani sudah kehilangan kemampuan bertani. Penyuluh pertanian yang dulu menjadi teman diskusi petani karena benih dan saprotan yang sudah diakrabi, kini mereka sudah beralih fungsi sebagai penjual dan pembeli. Petani sebagai pembeli, dan penyuluh pertanian menjadi pedagang ‘kaki tangan’ produk asing.

Jika sudah begitu, gonjang-ganjing di belahan sana, pasti menggoncangkan kondisi di sini. Kita menjadi bangsa yang ‘atut grubyuk’. Sekadar peserta. Tidak ikut menentukan nasibnya sendiri, karena sudah digadaikan. Rakyat dijejali produk impor, dimatikan potensinya oleh pemerintahnya sendiri. Kondisi simalakama ini dalam wayang sama dengan situasi saat dalang mengangkat gunungan.

Gunungan dalam pandangan Jawa merupakan simbol mayapada. Jagad raya se-isinya. Baik buruk dikocok di dalamnya. Berlaga saling berebut kuasa. Mirip ‘air suci’ yang diobok-obok dalam belanga di Tantu Panggelaran, kitab kuno di zaman Singasari yang dianggap sebagai takdir manusia hidup di bumi.

Bagi negeri ini, gunungan adalah lambang Nusantara. Bergetarnya gunungan simbol bergantinya masa. Perang kepentingan saatnya kalah dan menang. Awal-akhir mengikuti kodratnya. Dan hanya ada satu penyelamat yang disebut Jimat Kalimasada atau Jamus Kalimasada. Tanpa itu negara ambruk.

Jimat Kalimasada adalah kesempurnaan. Sempurna sebagai negara, sempurna sebagai bangsa. Dalam konteks negeri yang kini dihajar resesi dunia ini, maka jimat itu adalah kemandirian. Mandiri papan, sandang dan pangan. Untuk itu jika ingin menyelamatkan bangsa dan negara, habisi impor kalau mungkin. Ciptakan substitusi barang yang diimpor. Dan gali potensi anak bangsa untuk bersaing dalam percaturan dunia.

Terus bagaimana nasib pemerintahan Jokowi? Rasanya krisis ini bukan hujan sehari yang akan menghapus terik setahun. Ini hanya ‘meriang’. Akan sembuh jika minum obat atau istirahat sejenak. Tapi yang panik dan was-was memang penonton serta yang terlibat dalam ‘permainan’ antara China dan Amerika. Untuk itu kita tunggu apa yang bakal terjadi setelah Jokowi pulang dari lawatannya ke Amerika Serikat bulan Oktober nanti.

*) Djoko Suud Sukahar adalah kolumnis yang juga pemerhati sosial budaya/sosial ekonomi. Penulis tinggal di Jakarta.

loading...
PUBLIC SERVICE

Berita Terkini

Pasar Bawah yang Melegenda
Sabtu, 21 Januari 2017 11:00

Pasar Bawah yang Melegenda

Siapa yang tidak tahu dengan Pasar Bawah Pekanbaru? Hampir semua warga Kota Pekanbaru mengetahui pasar yang terletak di Jalan Ahmad Yani Ujung ini. Bahkan ada yang menyebutkan belum ke Pekanbaru kalau belum berkunjung ke Pasar Bawah.

Aksi Demonstrasi Tolak Pelantikan Trump
Sabtu, 21 Januari 2017 10:43

Aksi Demonstrasi Tolak Pelantikan Trump

Detik-detik menjelang pelantikan Donald Trump, aksi penolakan juga terjadi. Mereka memblokir area menuju acara. Mereka membawa spanduk-spanduk berisi penolakan. Dan beberapa di antara

Tahun Ini, Penyaluran KUR Ditargetkan Naik Rp 110 Triliun
Sabtu, 21 Januari 2017 10:39

Tahun Ini, Penyaluran KUR Ditargetkan Naik Rp 110 Triliun

Pemerintah targetkan penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Rp 100 trilun menjadi sebesar Rp 110 pada tahun 2017 ini, suoaya KUR juga mengalir ke sektor produksi di luar perdagangan. Seperti pertanian dan perikanan.
 

Gubri Pastikan Adwar Sanger Jadi Pj Walikota Pekanbaru
Sabtu, 21 Januari 2017 10:30

Gubri Pastikan Adwar Sanger Jadi Pj Walikota Pekanbaru

Gubernur Riau, Arsyadjuliandi Rachman pastikan Edwar Sanger naik jadi Penjabat Sementara (Pj) Walikota Pekanbaru. Edwar kini sudah menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt)  Wali Kota Pekanbaru.

Kadis Diminta Tidak Hanya Pikir Realisasi Tinggi, Kualitas Itu Penting
Sabtu, 21 Januari 2017 10:20

Kadis Diminta Tidak Hanya Pikir Realisasi Tinggi, Kualitas Itu Penting

Gubernur Riau, Arsyadjuliandi Rachman menegaskan kepala dinas tidak hanya pikirkan bagaimana realisasi APBD tinggi. Sedangkan kualitas dari pembangunan buruk. 

Modus Memukul Adek,  Pelajar Ini Dirampas Dua Pelaku Tak Dikenal
Sabtu, 21 Januari 2017 10:07

Modus Memukul Adek, Pelajar Ini Dirampas Dua Pelaku Tak Dikenal

Perampasan dan pengancaman terjadi Jumat malam (20/1/2017). Pemerasan dialami VA (14), yang mana awa terjadinya pemerasan dan pengancaman

Jadi Pasar Tertua, Pasar Bawah Saksi Bisu Peradaban Pekanbaru
Sabtu, 21 Januari 2017 10:00

Jadi Pasar Tertua, Pasar Bawah Saksi Bisu Peradaban Pekanbaru

Pasar bawah merupakan pasar tertua di Pekanbaru. Meski tidak banyak referensi yang menjelaskan kepasrian tahun berdirinya pasar ini. Awalnya hanya pasar tradisional biasa.

Coco' Film Terbaru Dari Disney-Pixar, Penasaran?
Sabtu, 21 Januari 2017 09:56

Coco' Film Terbaru Dari Disney-Pixar, Penasaran?

Disney-Pixar menghadirkan film animasi berjudul Coco. Seperti film-film sebelumnya, Disney-Pixar menghadirkan film yang sarat pesan kehidupan. Coco yang disutradari oleh Lee Unkrich berfokus pada

KPK Cegah Eks Dirops Citilink Ke Luar Negeri
Sabtu, 21 Januari 2017 09:52

KPK Cegah Eks Dirops Citilink Ke Luar Negeri

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), mencekal ke luar negeri terhadap ‎mantan Direktur Operasional (Dirops) PT Citilink Indonesia, Hadinoto Soedigno.

Yudi: Wajar Kalau Mata Uang NKRI Mirip Negara Asing
Sabtu, 21 Januari 2017 09:45

Yudi: Wajar Kalau Mata Uang NKRI Mirip Negara Asing

Deputi Direktur Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia (BI), Yudi Harimurti mengatakan sangat wajar, jika mata uang NKRI mirip dengan mata uang asing.