Air Mata dari Pinggir Sungai Siak

Kamis, 25 Januari 2018 10:24
Air Mata dari Pinggir Sungai Siak
Sungai Siak

BERTUAHPOS.COM (BPC), PEKANBARU - Jika Anda bisa melayari Sungai Siak, khususnya yang melingkupi wilayah Pekanbaru, kesan yang tertangkap hanyalah, sebuah kemiskinan, ketidakberaturan dan sampah-sampah berserakan. 

Cerminan ini terlihat dari rumah-rumah kumuh hampir di sepanjang sungai yang berbaur dengan anak-anak, orang tua atau juga muda-mudi yang memanfaatkan sungai ini untuk mandi, kakus, mencuci baju, mencuci piring dan mencuci kendaraan.
 
Sungai Siak adalah sungai yang mengaliri hampir seluruh wilayah Riau dan merupakan sungai terdalam di Indonesia. Kedalamannya (dahulu) mencapai 30 meter, namun akibat pendangkalan kini tinggal sekitar 18 meter. 

Melihat sejarahnya, dahulunya sungai ini dapat dilalui oleh kapal-kapal besar seperti kapal tanker dan kapal peti kemas. Pada sehiliran sungai ini terdapat banyak pabrik diantaranya pabrik karet, pabrik kelapa sawit, pabrik pengolahan kayu dan juga pabrik kertas.
 
Beberapa jembatan besar dibangun untuk melintasi sungai ini, termasuk dalam kota Pekanbaru, seperti jembatan Siak I di kota Pekanbaru dan kadang dikenal juga dengan sebutan Jembatan Leighton yang diambil dari nama perusahaan yang membangun jembatan tersebut (PT. Leighton Indonesia Construction Company). Menyusul jembatan Siak III. Lalu Jembatan Siak IV yang masih terbengkalai.
 
Selain kekumuhan dan kemiskinan, dalam perjalanan menyusuri Sungai Siak, kita juga akan menyaksikan begitu banyak aktifitas pelabuhan rakyat yang tidak terpantau oleh Satker terkait, begitu pula dengan banyaknya pinggiran sungai yang tidak terurus dan tidak dibersihkan, serta sejumlah titik ditemukan sampah rumah tangga yang ditumpuk dan diserakkan warga begitu saja.
 
Tapi ada juga yang aneh, terus berlayar kita akan menemukan pula banyak bangunan permanen yang berada di bibir sungai. Padahal menurut ketentuan UU RI tentang Sungai, bangunan permanen hanya boleh didirikan 100 meter dari pinggir sungai yang belum diturab dan 50 meter dari pinggir sungai yang sudah diturab, bukan persis di pinggir sungai seperti yang kita saksikan di beberapa lokasi di sepanjang Sungai Siak.
 
Sungai Siak yang tersohor itu yang harusnya bisa menjadi landmark Pekanbaru ternyata justru mencerminkan bagaimana kota ini tidak peduli pada asetnya, pada manusianya, pada alamnya dan pada akhirnya, pada kelanjutan hidup anak negeri yang bergantung pada lingkungan.
 
Anak-anak yang seperti kehilangan masa depan tersuruk di sudut kota dalam lindungan hutan di kiri kanan sungai, mencerminkan ketidakpedulian. Hanya berjarak beberapa ratus meter saja Pekanbaru justru mandi kemegahan dengan gedung-gedung pencakar langit, mal, pub dan juga restoran super mahal. Kondisi yang kontradiktif tapi benar terjadi.
 
Siapa yang peduli? Masyarakat terus menggeliat dan menjalani hidup sudah mulai individual, tidak peduli lagi pada sekitar. Kota yang keras dan angkuh mengajarkan pada mereka kesombongan dan mengikis rasa hiba dari ke hari. 

Bahkan jika pun melalui sungai Siak mereka menganggap apa yang ada di sepanjang sungai hanya sebagai sebuah pemandangan biasa, tak perlu terlalu dihiraukan, karena menjadi hal lumrah oleh lamanya kondisi ini terjadi. Bahkan hanya sekadar tontonan dan sekejap dilupakan.
 
Suatu kali dulu, sekitar empat tahun yang lalu dan di masa kepemimpinan pertamanya, Walikota Pekanbaru Firdaus MT sempat melayari Sungai Siak ini dan melihat kondisi lain dari kota yang dia pimpin. Saya ikut dalam rombongan dan melihat kekagetan sang walikota.

Selain kaget walikota juga berjanji akan memperhatikan daerah ini. Bahkan Walikota berjanii akan segera menindak lanjuti hasil peninjauannya di Sunga Siak tersebut kepada Satker-Satker yang terkait, agar bisa dicarikan solusi dari kondusi yang karut marut tersebut. Dan masa jabatannya berakhir lalu bersambung untuk yang kedua kalinya, tetapi Sungai Siak tetaplah menyimpan tangis anak kandungnya, dari mereka yang termarjinalkan, di sisi lain kemegahan kota Pekanbaru.
 
Janji tersebut barangkali hilang tertelan arus Sungai Siak, karena hingga hari ini Sungai Siak tetap dalam kebisuannya menyaksikan kekumuhan, kemiskinan, ketidakjelasan izin dan segala macam hal yang akan mencatat kota ini sebagai kota tak peduli, tak berhati, pada lingkungan, pada rakyat pinggiran.
 
Sungai Siak tetap bisu, beku dan kelu dan anak-anak muda hingga kanak-kanak tetap menghabiskan harinya dalam kondisi yang sama, membiarkan diri larut dengan kekumuhan Sungai Siak, bahkan ikut memperkumuh Sungai Siak. 

Barangkali kita hanya berharap bahwa tangan kekuasaan, tangan pemerintahan, segera menata wilayah ini, kalau mungkin menjadikannya hijau, bersih, terang oleh keindahan, kapannya, entahlah, biar waktu yang menjawab. ***Luzi Diamanda

Klik tombol Like jika Anda suka dengan Berita ini

TRAVELLING

Berita Terkini

Gunung Sinabung Muntahkan Awan Panas Tertinggi
Senin, 19 Pebruari 2018 15:16

Gunung Sinabung Muntahkan Awan Panas Tertinggi

Gunung Sinabung yang terletak di Dataran Tinggi Karo, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, mengeluarkan awan panas hari ini, Senin (19/2/2018).

Lagi, Spanduk Andi-Suyatno Terpampang di Jalan Ahmad Yani
Senin, 19 Pebruari 2018 15:05

Lagi, Spanduk Andi-Suyatno Terpampang di Jalan Ahmad Yani

Tepat pada lampu merah menuju Rs Santa Maria, spanduk Paslon Gubri Andi-Suyatno hingga hari ini Senin (19/2/18), masih terpampang di kawasan itu. 

Tuntutannya Tak Direspon, Masyarakat Sakai Sempat Tutup Jalan Sudirman
Senin, 19 Pebruari 2018 14:46

Tuntutannya Tak Direspon, Masyarakat Sakai Sempat Tutup Jalan Sudirman

Merasa tuntutannya tidak direspon, masyarakat Sakai yang melakukan demo di depan Kantor DPRD Riau tutup Jalan Jenderal Sudirman arah Kantor Gubernur Riau ke arah Bandara SSK II, Senin (19/2/18).

Demo Suku Sakai, Polda Riau Jamin Tak Berpihak
Senin, 19 Pebruari 2018 14:25

Demo Suku Sakai, Polda Riau Jamin Tak Berpihak

Kepolisian Daerah (Polda) Riau menjamin tidak akan berpihak dalam penyelesaian laporan masyarakat Suku Sakai, terhadap beberapa perusahaan yang dianggap telah membuat kerugian hingga Rp4 triliun.

Funtastic Four, Makan Berempat Hanya Rp 100 Ribu di Mery G Resto Loh
Senin, 19 Pebruari 2018 14:15

Funtastic Four, Makan Berempat Hanya Rp 100 Ribu di Mery G Resto Loh

Makan berempat hanya Rp 100 ribu. Yaps, paket Funtastic Four dengan sajian ayam lezat bisa Anda rasakan di Mery g Resto lantai 1 Evo Hotel Pekanbaru. 

Kasihan, di Tengah Terik Matahari Bayi Ini Terpaksa Ikut Demo Masyarakat Sakai
Senin, 19 Pebruari 2018 14:00

Kasihan, di Tengah Terik Matahari Bayi Ini Terpaksa Ikut Demo Masyarakat Sakai

Aksi demo masyarakat Sakai hari ini, Senin (19/2/2018) ternyata juga diikuti oleh bayi dari masyakarat Sakai.

Lowongan Kerja Cash Counter di Tiki JNE
Senin, 19 Pebruari 2018 13:50

Lowongan Kerja Cash Counter di Tiki JNE

Bagi anda yang sedang mencari informasi seputar lowongan kerja,  kini Tiki JNE Pekanbaru sedang membutuhkan tenaga kerja untuk ditempatkan pada posisi Cash Counter

Baju Koko Raja T'Challa Black Panther Sudah Ramai Dijual Online
Senin, 19 Pebruari 2018 13:40

Baju Koko Raja T'Challa Black Panther Sudah Ramai Dijual Online

Sejak dirilis tanggal 14 Februari, Film besutan Marvel berjudul Black Panther menjadi perbincangan hangat. 

Sekda Rohul Diduga Mark Up, Mahasiswa Gelar Demo Depan Kantor Gubernur
Senin, 19 Pebruari 2018 13:25

Sekda Rohul Diduga Mark Up, Mahasiswa Gelar Demo Depan Kantor Gubernur

Puluhan mahasiswa yang tergabung ke dalam Aliansi Mahasiswa Rokan Hulu menggelar demo, Senin (19/2/2018).

Klaim Massa, PT Ivo Mas Tunggal Sebabkan Kerugian Rp4 Triliun Lebih
Senin, 19 Pebruari 2018 13:20

Klaim Massa, PT Ivo Mas Tunggal Sebabkan Kerugian Rp4 Triliun Lebih

Masyarakat Sakai yang melakukan demo di sejumlah titik hari ini, Senin (19/2/2018) menuding PT. Ivo Mas Tunggal telah merebut tanah adatnya. Untuk itu, mereka meminta ganti rugi senilai Rp 4,58 triliun.