Keladi Tikus Membunuh Kanker

Kamis, 12 Januari 2017 07:40
Keladi Tikus Membunuh Kanker

Ketakutan perempuan terhadap kanker mulut rahim terkurangi. Itu berkat penemuan ‘obat’ penyakit ini. Keladi tikus yang tumbuh liar di pinggir sungai ternyata berkhasiat untuk itu. Berbagai kasus kanker serviks sembuh berkat tanaman itu.

Keladi tikus (Typhonium Flagelliforme atau Rodent Tuber) sudah dikenal masyarakat Indonesia. Tanaman itu biasanya dibiarkan tumbuh di bawah jembatan atau di sepanjang sungai yang teduh. Tak ada yang tertarik untuk memelihara. Baik untuk dikonsumsi atau dijadikan sebagai tanaman hias.

Namun kini tanaman itu banyak dicari. Itu berkat penelitian yang dilakukan Prof  Dr Chris K.H.Teo, Dip Agric (M), BSc Agric (Hons)(M), MS, PhD dari  Universiti Sains Malaysia. Pendiri Cancer Care Penang,  Malaysia melakukannya sejak tahun 1995. Dan berkat itu ribuan pasien dari berbagai dunia terselamatkan.

Di Indonesia, yang mula-mula mengikuti jejak pakar dari negeri jiran itu adalah Drs Patoppoi Pasau. Itu gara-gara istrinya mengidap kanker payudara stadium III. Dokter yang merawatnya mengharuskan sang istri dioperasi. Itu terjadi tanggal 14 Januari 1998.

Setelah kanker ganas diangkat, istri Patoppoi harus menjalani kemoterapi (suntikan kimia membunuh sel). Ini untuk menghentikan penyebaran sel-sel kanker. “Sebelum  menjalani kemoterapi, dokter mengatakan agar kami menyiapkan wig  (rambut palsu) karena kemoterapi akan mengakibatkan kerontokan rambut,  selain kerusakan kulit dan hilangnya nafsu makan,” jelas Patoppoi.

Selama mendampingi istri menjalani kemoterapi, Patoppoi berusaha mencari pengobatan alternatif. Dia mendapatkan informasi teh Lin Qi di Malaysia bisa  mengobati kanker. “Saat itu juga saya langsung terbang ke Malaysia untuk membeli teh itu,” kata ahli biologi ini.

Saat berada di sebuah toko obat di Malaysia, secara tidak sengaja dia melihat buku mengenai pengobatan kanker. Judulnya menggelitik. “Cancer, Yet They Live”. Buku ini karangan Dr Chris K.H. Teo yang diterbitkan tahun 1996.

“Setelah saya baca sekilas, saya beli buku itu. Dan begitu membaca isinya, saya tidak jadi membeli teh Lin Qi. Saya langsung pulang ke Indonesia ,” kenang Patoppoi. Di buku ini Patoppoi membaca khasiat Typhonium Flagelliforme itu.

Di Indonesia, pensiunan pejabat Departemen Pertanian ini mencari tanaman itu. Dia hubungi kerabatnya. Dan familinya di Pekalongan, Jawa Tengah menemukan tanaman itu. Patoppoi  menelitinya dan menghubungi Dr. Teo di Malaysia. Dia menanyakan kebenaran tanaman obat itu.

Selang beberapa hari, Dr Teo  menghubungi Patoppoi. Dia menjelaskan, bahwa tanaman itu memang benar Rodent Tuber. “Dr Teo mengatakan agar tidak ragu lagi menggunakannya sebagai obat,” ujar Patoppoi. 

Akhirnya Patoppoi memproses tanaman sejenis talas itu sesuai buku petunjuk. Tanaman ini untuk diminum sebagai obat. Karena yang dibutuhkan banyak, maka Patoppoi menghubungi putranya, Boni Patoppoi di Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur. Sang putra disuruh ikut mencarikan tanaman itu.

“Setelah melihat ciri-ciri tanamannya, saya mulai  mencari di pinggir sungai depan rumah. Saya dapatkan  tanaman itu tumbuh liar di pinggir sungai,” kata Boni.

Selama mengkonsumsi sari tanaman itu, ternyata isteri Patoppoi mengalami penurunan efek samping kemoterapi yang dijalani. Rambutnya berhenti rontok. Kulitnya tidak rusak, dan  mual-mual hilang. “Bahkan nafsu makan ibu saya pun kembali normal,”  lanjut Boni.

Setelah tiga bulan meminum obat itu, isteri Patoppoi kembali menjalani pemeriksaan kanker. “Ternyata hasilnya negatif. Itu sungguh mengejutkan kami dan dokter-dokter di Jakarta,” ujar Patoppoi. Ketika dokter-dokter itu bertanyayang diberikan pada isterinya. “Malah mereka ragu. Apakah telah salah memberikan dosis kemoterapi kepada kami,” kata Patoppoi.

Setelah diterangkan mengenai tanaman Rodent Tuber, para dokter itu mendukung. Mereka menyarankan agar mengembangkannya. Apalagi keadaan isterinya makin membaik. Tidak mengalami efek samping dari kemoterapi yang sangat keras itu. Dan pemeriksaan yang seharusnya tiga bulan sekali diundur menjadi enam bulan sekali.”Tetapi karena sesuatu hal, para dokter itu tidak mau mendukung secara terang-terangan penggunaan tanaman sebagai obat alternatif,” sambung Boni sambil tertawa.

Setelah beberapa lama tidak berhubungan, berdasarkan peningkatan keadaan isterinya, pada bulan April 1998 Patoppoi menghubungi Dr.Teo melalui fax. Dia menginformasikan tanaman itu banyak terdapat di Jawa. Dan Dr. Teo mengajak untuk menyebarkan penggunaan tanaman ini di Indonesia. “Dr Teo langsung membalas fax kami, tapi tidak tahu yang  harus diperbuat, karena jarak yang jauh,” ujar Patoppoi.

Meskipun Patoppoi mengusulkan agar buku mereka diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dan disebar-luaskan di Indonesia, Dr. Teo menganjurkan untuk bekerja sama. Berkonsentrasi dalam usaha nyata membantu penderita  kanker di Indonesia. 

TRAVELLING

Berita Terkini

Dilarang Makan Dalam Kawasan RTH
Jumat, 23 Juni 2017 17:20

Dilarang Makan Dalam Kawasan RTH

Pemerintah melarang pengunjung untuk makan di dalam Kawasan Ruang Terbuka Hijau (RTH). 

Oleh-oleh 'Keripik Keroyokan' Lengkapi Kue Lebaran
Jumat, 23 Juni 2017 17:06

Oleh-oleh "Keripik Keroyokan" Lengkapi Kue Lebaran

Buat anda yang masih bingung memilih atau kekurangan oleh-oleh untuk dibawa pulang ke kampung halaman, "Keripik Keroyokan" dari Dapur Mandeh bisa menjadi pilihan. Cemilan satu ini bisa menjadi pelengkap kue lebaran anda.

Gubri dan Kapolda Riau Kembali Tinjau Posko Mudik Lebaran
Jumat, 23 Juni 2017 16:50

Gubri dan Kapolda Riau Kembali Tinjau Posko Mudik Lebaran

Gubernur Riau, Arsyadjuliandi Rachman dan Kapolda Riau Irjenpol Zulkarnain, kembali melakukan tinjauan Posko Mudik lebaran.

RTH Sediakan Fasilitas Wifi Gratis
Jumat, 23 Juni 2017 16:40

RTH Sediakan Fasilitas Wifi Gratis

Dua Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kota Pekanbaru sudah diresmikan.

Pemprov Riau Desak Pemko Pekanbaru Tuntaskan Masalah Banjir
Jumat, 23 Juni 2017 16:25

Pemprov Riau Desak Pemko Pekanbaru Tuntaskan Masalah Banjir

Pemprov Riau desak Pemko Pekanbaru untuk tuntaskan masalah banjir.

Hari Jadi Pekanbaru, Komunitas Sosial: Perhatikan Komunitas Sosial Kecil Juga
Jumat, 23 Juni 2017 16:15

Hari Jadi Pekanbaru, Komunitas Sosial: Perhatikan Komunitas Sosial Kecil Juga

Di hari jadinya yang ke-233, masih banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan pemerintah Kota Pekanbaru.

Malam Ini Jadi Puncak Arus Mudik Riau-Sumbar
Jumat, 23 Juni 2017 16:05

Malam Ini Jadi Puncak Arus Mudik Riau-Sumbar

Puncak arus mudik di jalur Nasional Sumbar-Riau diprediksi bakal terjadi pada Jumat (23/06/2017) malam ini.

H-2 Lebaran, Cuaca Pekanbaru Mendung Jalanan Ramai Lancar
Jumat, 23 Juni 2017 15:52

H-2 Lebaran, Cuaca Pekanbaru Mendung Jalanan Ramai Lancar

Dua hari menjelang hari raya Idul Fitri 1438H, suasana  mendung menyelimuti Kota Pekanbaru, Jumat(23/6/2017). 

Rohil Sediakan 4 Spot Rest Area Bagi Para Pemudik, Cek Disini
Jumat, 23 Juni 2017 15:41

Rohil Sediakan 4 Spot Rest Area Bagi Para Pemudik, Cek Disini

Aktivitas mudik lebaran merupakan salah satu tradisi tahunan yang ditunggu-tunggu bagi setiap orang. Banyak para perantau baik dari dalam dan luar kota Bagansiapiapi yang pulang ke kampung halamannya.

Diguyur Hujan Lebat Hotspot Riau 'Sirna
Jumat, 23 Juni 2017 15:35

Diguyur Hujan Lebat Hotspot Riau 'Sirna

Hujan lebat merata mengguyur Provinsi Riau dan sekitarnya, Jumat (23/06/2017). Hal ini membuat hotspot atau titik panas di Riau 'sirna'.